oh dear, truth hurts

kepada : aku

hai.

bukankah sudah terlalu lama bagimu untuk bercengkrama dengan ketiadaan? bukankah sudah waktunya bagimu untuk kembali menantang dunia? bukankah jelagamu itu telah terlalu pekat? kemana mutiara itu pergi? kemana KAMU pergi?

aku merindukanmu. aku merindukan otakmu yang gemar berkelana. aku rindu bicara dengannya ditemani teh yang mengepulkan keindahan dan keabstrakan. aku merindukannya. teh itu, perbincangan kita, dan rembulan. dan pada tawa kita, tawa yang kita deraikan bersama atas wajah wajah mereka. oh ya, kita selalu menertawakan wajah mereka. kita selalu mempertanyakan kemana otak mereka pergi. oh oh! kita yang merasa paling oke! kita yang merasa paling top! kemana arogansi itu mengembara? apakah ia sudah terlena dalam ketiadaan? kemana cangkir cangkir teh itu pergi sayang? aku sungguh merindukannya… tolong kembalilah… tinggalkan ketiadaan itu! apa hebatnya ia? hanya hamparan gelap yang tipis dan baur, apa hebatnya ia hah? bukankah realitas lebih indah? penuh sanjungan dan tamparan. apalagi yang hendak kau minta? kau hanya butuh aku, cangkir teh itu, asapnya yang mengepul, dan rembulan yang tinggal sepotong. apalagi yang kau butuhkan hah? kau memiliki segalanya disini!

jadi kumohon sayang… kembalilah 🙂