Gadis Pemeluk Angin

Ia memeluk angin sembari menggerung. Berharap angin itu berubah wujud menjadi sesuatu yang lebih solid. Lebih padat. Lebih nyata bagi indra-indranya. Namun angin tetaplah angin, tak dapat ia minta untuk tetap berada disana dalam peluknya. Terus berhembus dari satu tempat ketempat lain, berlarian, berarakan. Menyisakan kerinduan. Tak dapat ia rengkuh, angin itu selalu lepas, mengembara lagi entah kemana. Mungkin ke belakang tengkukmu mengelusi anak-anak rambutmu yang hitam dan halus, mungkin pula ke ujung jemarimu berlompatan disana. Atau mungkin angin memilih untuk memasuki rongga hidungmu dan menginap dalam alveolusmu. Atau mungkin… angin berhembus ditelingamu menyampaikan pesan rindu bagimu. Ah, semua hanya kemungkinan.

Namun ia masih memeluk angin erat, berharap angin pada akhirnya dapat berhenti disana dalam pelukanmu selamanya. Namun sekali lagi sayang, angin tetaplah angin. Ia berhembus sesuka hati. Bermain bersama helai rambut seseorang di pinggir pantai detik ini. Namun detik berikutnya ia sudah bosan dan memilih untuk menari bersama kantong plastik yang sama-sama terlupakan dan terabaikannya dengan kamu, gadis pemeluk angin yang naif. Dan angin akan tetap menjadi angin. Menggugurkan segala yang seharusnya gugur; Baik itu dedaunan kuning maupun hatimu. Mengeringkan segala yang mestinya kering; Baik itu jemuran di atap rumah maupun harapanmu.

Dan ia masih memeluk angin. Masih dengan harapan yang sama bahwa angin dapat ingkar dari kontraknya dengan alam dan memilih untuk berada disana dalam pelukmu selamanya. Namun betapapun kamu berharap, angin itu masih akan terus berputar di angkasa, menjelajahi tiap sudut dunia. Dan harapanmu tidak akan membuahkan apapun. Kamu merindukan angin. Aku tahu. Kamu mencintai angin. Aku tahu. Namun kenaifanmu harus berhenti. Angin tetaplah angin, air matamu tidak akan mengubahnya. Eranganmu, sakit hatimu, teriakanmu, tidak akan mengubah apapun yang telah alam tentukan dengan tegas. Angin tetaplah angin, sebagaimana lelaki tetaplah lelaki. Dan lelaki anginmu, akan tetap menjadi lelaki angin yang berhembus kemanapun ia kehendaki. Baik ke lipatan ketiakmu maupun ke puncak gunung Andes. Lelaki anginmu tetap tidak dapat berhenti dalam dekapmu selamanya, ia memiliki kontrak yang sangat mengikat dengan hukum alam, kau ingat? Lelaki anginmu akan tetap menggugurkan apa yang mesti ia gugurkan dan mengeringkan apa yang mesti dia keringkan. Dan pada suatu saat mungkin akan datang giliranmu untuk gugur dan mengering.

Jadi, gadis pemeluk angin yang naif, berhentilah berharap angin berhenti berhembus. Malah, cintai hembusannya dan berserahlah. Bukankah justru hembusannya itu yang menjadi alasan utama mengapa kamu begitu mencintai angin kini? Maka terimalah angin dengan segala sifat alamiahnya. Dan mungkin, hanya mungkin, suatu saat angin akan memutuskan ia lelah berkelana jauh dan ingin berhembus hanya dalam rongga dadamu, mengisinya dengan sejuk dan damai. Melepaskanmu dari sesak yang kerap kau rasa.

Dan tahukah kamu, gadis pemeluk angin yang cengeng, bahwa kamu seharusnya bergembira. Karena betapapun jauhnya angin berhembus, kamu akan selalu dapat merasakan kehadirannya jika kamu mau keluar dari dinding-dindingmu dan memejamkan mata. Rasakan ia yang kau cintai berhembus di tengkukmu, bermain dengan helaian rambutmu dan ujung bajumu. Rasakan ia membisikkan pesan rindu di kedua telingamu dan mengecupi kedua matamu. Karena angin, betapapun ia berhembus, ia begitu luas. Lebih luas dari samudera dan ia ada dimanapun kamu berada. Jadi berhentilah menangis, berhentilah merintih. Angin yang kau rindu selalu ada menyelimutimu.

Advertisements

jika tidak ada lagi hari esok, maukah kau berdansa dengan kematian, sayang?

Jika tidak ada lagi hari esok, aku tidak ingin menghabiskan hariku untuk berpesta atau mencoba segala sesuatu yang ingin kucoba namun belum tercoba. Aku tidak ingin menghabiskan waktu terakhirku untuk menenggelamkan kesedihanku dalam alkohol atau terbang dengan sayap yang dipinjamkan ganja untukku. Tidak. Aku juga tidak ingin menghabiskannya untuk beribadah, karena demi Tuhan, itu memalukan. Aku tidak ingin menghabiskannya untuk memeluki orang-orang yang aku sayang. Aku tidak ingin menghabiskannya untuk memandangi wajah kekasihku. Tidak. Setelah kematianku, mereka juga akan melupakan eksistensiku, lalu untuk apa menghabiskan waktu terakhirku untuk mereka? Terkadang lupa menjadi anugerah dan siksa secara bersamaan. Lupa adalah anugerah untukmu, untuk menghapus sakit dan memori burukmu. Namun lupa adalah siksa bagiku, karena dilupakan—diabaikan, membuatmu merasa kecil dan sia-sia.

Jika tidak ada lagi hari esok, aku tidak ingin menghabiskanny untuk membuat diriku merasa senang hingga melebihi batas. Aku juga tidak ingin menghabiskannya untuk tenggelam dalam tangis dan melankoli. Tidak. Juga tidak untuk mensyukuri dan mencari makna dari kematian. Aku tidak ingin pula mencari tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Terlambat. Terlambat. Waktu berdetik. Aku sudah diambang kehancuran. Tidak, aku juga tidak ingin mencari pertolongan siapapun untuk menarikku dari ujung kehidupan ini. Tidak.

Jika tidak ada lagi hari esok, sayang. Aku ingin menghabiskannya untuk menjalankan rutinitasku seperti biasa. menjalani untuk sekali lagi dan terakhir kalinya, rutinitasku yang banal dan membosankan. Berusaha menikmati segalanya dan mencari, dalam diriku sendiri, sebentuk kerelaan. Kerelaan untuk dilupakan, kerelaan untuk terpisah, kerelaan untuk melepas segala. Aku ingin menghabiskannya untuk tersenyum dalam kesedihan yang tidak dapat aku usir atau kubur. Aku ingin menghabiskannya untuk menangis dan tertawa bersamaan. Menjadikan diriku rumah, tempat yang ramah bagi dualisme. Karena kematian sendiri, adalah pintu terakhir dimana dualisme bercokol. Ia menyenangkan dan menyakitkan. Ia melepaskan dan mengikat. Ia menyedihkan dan membahagiakan. Secara bersaman.

ya, random thoughts. tapi siapa yang tahu kapan kematian ‘kan menyapa? mungkin sore ini malaikat kematian yang sedang berjalan-jalan memutuskan untuk mampir dan menjemputku? atau mungkin ia sudah menyiapkan tiket perjalanan untuk menjemputku lima puluh tahun lagi? aku tidak tahu, sayang. yang aku tahu, ia pasti menyapa, cepat atau lambat, rela atau tidak rela.