jika tidak ada lagi hari esok, maukah kau berdansa dengan kematian, sayang?

Jika tidak ada lagi hari esok, aku tidak ingin menghabiskan hariku untuk berpesta atau mencoba segala sesuatu yang ingin kucoba namun belum tercoba. Aku tidak ingin menghabiskan waktu terakhirku untuk menenggelamkan kesedihanku dalam alkohol atau terbang dengan sayap yang dipinjamkan ganja untukku. Tidak. Aku juga tidak ingin menghabiskannya untuk beribadah, karena demi Tuhan, itu memalukan. Aku tidak ingin menghabiskannya untuk memeluki orang-orang yang aku sayang. Aku tidak ingin menghabiskannya untuk memandangi wajah kekasihku. Tidak. Setelah kematianku, mereka juga akan melupakan eksistensiku, lalu untuk apa menghabiskan waktu terakhirku untuk mereka? Terkadang lupa menjadi anugerah dan siksa secara bersamaan. Lupa adalah anugerah untukmu, untuk menghapus sakit dan memori burukmu. Namun lupa adalah siksa bagiku, karena dilupakan—diabaikan, membuatmu merasa kecil dan sia-sia.

Jika tidak ada lagi hari esok, aku tidak ingin menghabiskanny untuk membuat diriku merasa senang hingga melebihi batas. Aku juga tidak ingin menghabiskannya untuk tenggelam dalam tangis dan melankoli. Tidak. Juga tidak untuk mensyukuri dan mencari makna dari kematian. Aku tidak ingin pula mencari tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Terlambat. Terlambat. Waktu berdetik. Aku sudah diambang kehancuran. Tidak, aku juga tidak ingin mencari pertolongan siapapun untuk menarikku dari ujung kehidupan ini. Tidak.

Jika tidak ada lagi hari esok, sayang. Aku ingin menghabiskannya untuk menjalankan rutinitasku seperti biasa. menjalani untuk sekali lagi dan terakhir kalinya, rutinitasku yang banal dan membosankan. Berusaha menikmati segalanya dan mencari, dalam diriku sendiri, sebentuk kerelaan. Kerelaan untuk dilupakan, kerelaan untuk terpisah, kerelaan untuk melepas segala. Aku ingin menghabiskannya untuk tersenyum dalam kesedihan yang tidak dapat aku usir atau kubur. Aku ingin menghabiskannya untuk menangis dan tertawa bersamaan. Menjadikan diriku rumah, tempat yang ramah bagi dualisme. Karena kematian sendiri, adalah pintu terakhir dimana dualisme bercokol. Ia menyenangkan dan menyakitkan. Ia melepaskan dan mengikat. Ia menyedihkan dan membahagiakan. Secara bersaman.

ya, random thoughts. tapi siapa yang tahu kapan kematian ‘kan menyapa? mungkin sore ini malaikat kematian yang sedang berjalan-jalan memutuskan untuk mampir dan menjemputku? atau mungkin ia sudah menyiapkan tiket perjalanan untuk menjemputku lima puluh tahun lagi? aku tidak tahu, sayang. yang aku tahu, ia pasti menyapa, cepat atau lambat, rela atau tidak rela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s