Feminisme dari Kacamata Awam

Kemarin malam saya menghabiskan waktu di internet, mencoba mengerti lebih jauh mengenai apa itu feminisme dan mengapa beberapa orang membencinya. Dulu yang saya mengerti, feminisme adalah paham yang menyatakan bahwa perempuan memiliki posisi yang setara dengan pria dan tidak seharusnya perempuan ter-represi oleh budaya patriarkhis di masyarakat. Okay, saya setuju. Akan tetapi saya kemudian bertanya lagi ketika itu, apa benar perempuan direpresi oleh pria? Saya merasa sebagai perempuan saya mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dengan pria. Saya dapat menikmati pendidikan, pekerjaan, dan hiburan yang sama dengan pria. Mengapa saya harus merasa di represi? Masyarakat sejauh yang saya rasa ketika itu telah memperlakukan saya dengan adil dan sejajar dengan pria. Saya bahkan bisa memilih dan memutuskan untuk membentuk diri saya sebagaimana saya mau. ketika itu saya berfikir feminisme sudah usai sebagai pergerakan, tidak ada lagi yang butuh untuk mereka perjuangkan.

Kemudian saya membaca lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan saya melihat represi-represi itu di sekeliling saya dalam bentuk yang lebih halus, tidak kentara. Bahwasanya ya, perempuan masih mengalami represi, ya, feminisme masih punya agenda untuk mereka perjuangkan. Apa represi yang dialami oleh perempuan kini? Well, perempuan masih mengalami kebingungan mengenai seksualitasnya. Perempuan malu untuk menunjukkan bahwa mereka juga merupakan makhluk yang seksual. Masih ada masyarakat yang menganggap bahwa perempuan yang sudah tidak perawan merupakan perempuan murahan dan lacur. Sedangkan pria yang tidak lagi perjaka merupakan hal yang wajar. Tidak, sayang. Perempuan juga memiliki hasrat seksual yang butuh untuk dipenuhi, dan ketika ia memilih untuk memenuhinya tanpa harus memasuki ikatan pernikahan, bukan berarti bahwa dia adalah perempuan murahan, dia pada dasarnya hanyalah perempuan yang memenuhi kebutuhannya. Sama seperti pria. Keperawanan perempuan tidak mengindikasikan kualitasnya sebagai perempuan. Sama seperti keperjakaan pria tidak mengindikasikan kualitasnya sebagai pria.

Perempuan diminta untuk menutup tubuhnya agar tidak mengundang hasrat seksual pria dan menjadi korban perkosaan. Well, kenapa tidak meminta pria untuk menjaga penisnya agar tidak memerkosa perempuan? Ya, mungkin pakaian yang terbuka dapat membangkitkan nafsu pria dan itu dapat berakibat buruk. Tapi bukan berarti bahwa merupakan kewajiban perempuan untuk mencegah pemerkosaan terhadapnya. Pria juga harus diajari untuk mengkontrol diri dan nafsu seksualnya. Perempuan bukan ikan asin dan pria bukan kucing. Tidak ada yang bisa dimaklumkan dari pemerkosaan. But then again, kebanyakan pemerkosaan toh tidak terjadi karena perempuannya mengenakan pakaian yang terbuka, tetapi karena pria memiliki dorongan seksual yang tidak mereka tahan.

Perempuan di sekeliling saya banyak yang melihat pernikahan sebagai wujud pencapaian akhir sebagai perempuan. Sebagai contoh, suatu kali sepupu saya yang juga seorang perempuan pernah berkata “perempuan kuliah itu bukan untuk cari ilmu tapi untuk cari jodoh”. Na-ah, no, baby. Pernikahan bukanlah titik pencapaian akhir bagi seorang perempuan. Bahkan pernikahan bukan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh semua perempuan. Setiap perempuan seharusnya dapat memilih untuk menikah atau tidak, dan kapan ia akan menikah. Masyarakat kita, atau setidaknya di sekitar saya masih menganggap buruk perempuan yang berumur 20 akhir atau 30an keatas dan belum menikah. Mengapa? Apakah perempuan akan gagal sebagai perempuan jika ia tidak menikah dan mengurus keluarga? Sebagaimana pria akan gagal jika ia tidak “sukses” secara material? Mengapa tidak kita lihat mereka, perempuan dan pria itu, sebagai orang-orang yang memilih untuk menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia kehendaki dan sesuai dengan kecepatannya sendiri?

Masih banyak perempuan yang menganggap bahwa kehadiran seorang pria dalam hidupnya akan membawa kebahagiaan baginya. Bahwa mereka dapat menggantungkan kebahagiaan mereka pada pria yang menjadi pasangannya. Sehingga apa yang mereka lakukan adalah membentuk diri mereka untuk menjadi “good wife material”, membentuk diri mereka untuk masuk kedalam kategori perempuan impian para pria. Dan ketika mereka telah mendapatkan pria tersebut, mereka akan menaruh segenap usahanya dan fikirannya untuk membuat pria tersebut tetap bersamanya. Tidak, kebahagiaan seorang perempuan tidak terletak pada hubungan romantisnya dengan pria lain. Mereka tidak perlu membentuk diri mereka mengikuti stigma para pria akan perempuan yang “date-able”. Mereka tidak perlu mendedikasikan hidup mereka untuk mencari pasangan dan mempertahankan hubungan romantisnya.

Dan masih banyak hal-hal lain yang saya lihat sebagai wujud dari represi terhadap perempuan. Sehingga feminisme, menurut saya masih memiliki agenda perjuangan dan masih relevan di dunia modern sekarang ini.

However, beberapa pihak menanggapi feminisme terlalu jauh hingga mereka menganggap feminisme merupakan gerakan yang membenci pria. That’s not the case. Feminisme, menurut saya, adalah gerakan yang seharusnya bergerak untuk mengubah cara pandang perempuan atas dirinya sendiri, bahwa ia dapat memutuskan untuk dirinya sendiri dan hidupnya. Bahwa perempuan tidak harus bergantung pada pria. Bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama besarnya dengan pria. Ya tentu perempuan dan pria berbeda, mereka memiliki organ tubuh yang berbeda, hormon yang berbeda. Akan tetapi bukan berarti organ dan hormon tersebut lalu menentukan posisi dan peran kita dalam masyarakat. Everyone can make their own struggles to achieve anything they want. Selayaknya perempuan yang ingin menerima seksualitasnya dengan menunjukkannya, jika itu pilihannya, let it be. Ia bangga akan tubuhnya dan seksualitasnya, dan itu adalah caranya untuk menunjukkan kebanggaannya. Let it be. Let her be. Dan pula jika perempuan memilih untuk menutup tubuhnya karena ia tidak nyaman menunjukkannya dan merasa bahwa ketika ia menunjukkan tubuhnya dan seksualitasnya maka ia menjadi sexual object bagi pihak lain dan tidak dilihat dari kualitasnya yang lain selain seksualitasnya, well, let her be.

Bagaimanapun, feminisme seharusnya tidak membuat hak-hak pria terlupakan. Okay, ini merupakan hal baik bahwa feminis memperhatikan perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual atau KDRT. Akan tetapi pria pun mengalami hal yang sama. Pria juga mengalami kekerasan gender. Mengapa seringkali di era sekarang, kekerasan pada perempuan diberitakan secara gencar dalam media namun kekerasan pada pria tidak? Tidak banyak pihak yang mengetahui mengenai pria-pria korban pemerkosaan. Tidak banyak yang memperjuangkan keadilan bagi pria yang mengalami KDRT, padahal terdapat juga pria-pria yang mengalami kekerasan verbal dan psikis dalam suatu hubungan. Mengapa? Mengapa selalu memandang perempuan sebagai korban represi? Padahal terdapat juga perempuan-perempuan yang menjadi pihak yang melakukan represi terhadap pria.

Pada akhirnya, saya harus mengatakan, (despite argumen saya diatas), saya bukanlah seorang feminis. Ya, persoalan gender nyata adanya. Ya, feminisme masih relevan dalam memandang persoalan gender ini. ya, masyarakat masih bersifat patriarkhis dan itu tidak menguntungkan bagi perempuan. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa hanya perempuanlah yang menderita dan pria berleha-leha. Pria juga sering menjadi korban dari persoalan gender. Dan feminis, atau siapapun, tidak dapat menutup mata akan hal ini. semua gender setara, termasuk “gender ketiga” yang kerap kali tidak diperhatikan dalam studi gender.

Well, argumen saya diatas saya sadari tidaklah sempurna dan masih memiliki banyak cacat didalamnya. Argumen saya bukanlah kebenaran dan dapat berubah serta berkembang seiring waktu. Karena kebenaran tak pernah kekal. Kebenaran adalah kekeliruan yang belum terbukti keliru 😉

That 5 AM Kind of Truth

Image

Have you ever feel that way? Like you’re in the water, drowning, suffocating, screaming for help yet nothing comes out of your mouth? Like you’re completely alone in this universe although you know exactly that’s not true? You have everything you need; friends, family, lover, pets. Yet you still feel so alone. You can actually choose to talk to everyone, but yet you retreat because you think that no one would understand or appreciate things you said. So you choose to pull yourself away and keep your thoughts and feelings to yourself. But somehow it’s getting piled inside and it starts to choke you, to suffocate you.

You know it’s all only happened in your head, that you can end it right away anytime you want (supposedly) if you let yourself to open up more and talk to people about what happened inside of you. But yet you’re too afraid that you’ll get burned again when they don’t react in such a way that will make you feel better. Because you’ve been let down so many times by communication with others so that you choose to only communicate with yourself. You have a self-esteem issue. You’re lack of confidence and somehow you wish that someone, anyone, will help you regain your confidence back. Show you that you are worthy of love and social connections. But it seems like no one would, or able to help you.

Maybe it’s because your high expectations of connections. You’re always seeking for that connections in people. That kind of connections that will make you completely comfortable with yourself and have nothing to be ashamed of. But that kind of connections is really hard to find especially when you estranged yourself from people. You just want to feel so connected that you wouldn’t be so afraid of being judged when you show them your inside out. You’re just too afraid that your true self would scare people you love away because frankly you’re not that pretty on the inside. this high expectations leave you disappointed most of the time, and now you just had enough of disappointment that you choose to isolate yourself. You’re craving for attentions, you’re craving for the feelings of being loved, you’re craving for connections with people. You want to go deep in any relationship you have with everyone but yet you can’t seem to find anyone to go deep together with.

So here you are left out feeling drowned by loneliness. Watching people building relations and finding connections with others from underwater where your only company is yourself and this incredible silence and excruciating mind

apologi

Maafkan.

Saya memang terlahir dengan sentimen dan romantisme yang berlebih. Saya memiliki proyeksi romantis yang berlebihan pada dunia dan itu sangat mempengaruhi cara saya memandang, berlaku, dan merasa. Saya begitu sensitif sekaligus insensitif. Saya bukan pribadi yang tegas dan memiliki garis sifat yang jelas. Saya adalah spektrum, saya adalah lebur, saya adalah bayang kabur. Saya begitu membenci garis hingga semua garis yang saya temui, akan saya terabas. Sampai pada titik dimana semua menjadi lebur. Selalu men-dekonstruksi tanpa pernah tahu bagaimana cara merekonstruksi ulang menjadi lebih baik. Hingga saya tertinggal dalam potongan potongan kecil yang terus menerus saya belah menjadi lebih kecil hingga menjadi serpihan lembut. Bagaimana bisa saya merekonstruksi ulang ribuan serpihan itu?

Saya tahu, tidak mudah bagi kamu untuk mencintai dan tetap mencintai sesuatu yang begitu ambigu dan kabur. Tidak mudah menyukai warna yang tidak dapat kamu golongkan menjadi warna apapun. Tidak mudah mencintai suatu ketidak jelasan. Bersabarlah. Suatu hari mungkin saya akan mengerti bagaimana cara merekonstruksi diri setelah dengan brutal saya memutilasi diri menjadi pecahan-pecahan yang tidak konsisten. Bersabarlah. Suatu hari mungkin saya akan belajar bagaimana cara mengartikulasikan diri dengan lebih jelas dan dapat mempresentasikannya dengan baik di hadapan kamu dan masyarakat luas. Percayalah akan kemungkinan itu, percayalah bahwa saya mampu. Sebagaimana saya percaya bahwa kamu adalah pribadi yang lebih luas dan mampu mencapai hal-hal besar jika kamu mau. Karena itu yang paling berarti. Karena itu yang paling saya rindukan.