Sepucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Batara Guru,
saya bukan siapa-siapa. bukan titisan Dewi Laksmi maupun anak cucu Sinta yang mahasuci. saya pula bukan pertapa berdedikasi seperti Anjani yang dapat mengheningkan semesta raya dalam tapa-nya. Namun boleh kah saya mengutarakan rasa? meminta sedikit perhatian dari engkau, raja yang maha diraja?

Batara Guru,
saya mengerti kesedihan dan kekecewaan yang dikecap sang hanuman. saya memahami raungan kesedihan sang hanuman yang menggetarkan mega, menghujam cakrawala. manusia telah terlalu lama menjebak diri dalam gelembung rahwana, hai Batara Guru. kami manusia menciptakan peradaban, hutan-hutan beton yang begitu megah, masyarakat serta kelompok-kelompok sosial didalamnya. akan tetapi kami lupa bahwa peradaban bukanlah segalanya. kami lupa, kami naif. kami menyerahkan tiap jengkal kemanusiaan, kearifan yang kami miliki demi sepotong peradaban. kami penggal tiap pohon yang kami temui untuk kami tukar dengan satu lagi papan sirkuit baru dirumah kami. kami kotori tiap sungai yang mengalir untuk kami tukar dengan status dan reputasi. O Guru, Batara Guru, kami buta kami bodoh dan hal itu tak kunjung berubah sejak purbakala. O guru, kami telah gagal dengan mengharukan, menggelitik kantung air mata Walikilia, pun kami tetap gagal.

Batara Guru,
kami melihat sendiri betapa gelembung rahwana beranak pinak dalam hati kami. kami pula telah merasakan sendiri gesekan statis yang diciptakan oleh gelembung rahwana dalam hati kami. tapi kami memilih untuk tidak peduli. kami memilih untuk menutup mata dengan papan sirkuit yang menyuguhkan ruang sosial semu. kami memilih untuk menulikan pendengaran kami dengan sumbat telinga yang menawarkan suara yang sama sekali lain. kami mengeraskan hati kami dengan anggapan bahwa ketidak pedulian adalah kebahagiaan.

Batara Guru,
kemarin kemanusiaan pamit undur diri dari rumah-rumah ibadah. kemanusiaan pula telah lari jauh dari kota-kota yang bising. kemanusiaan telah terusir dari habitatnya di rongga dada kami. apa yang harus saya lakukan, hai Batara Guru? ketika air mata jadi kelemahan dan kelemahan jadi aib yang harus disembunyikan, apalagi yang dapat saya lakukan? ketika keacuhan jadi kekuatan dan senjata jadi perlambang kehormatan, apalagi yang dapat saya lakukan?

Advertisements

2 thoughts on “Sepucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s