to my contradictory-self

hey. how are you? how have you been? have you grown tired of your own paradoxical self? have you grown sick of your own colliding thought? have you done crashing your own mind and watch it torn apart into millions of dust?

hang on. just hang on a little bit longer. perhaps the crashing and colliding and collapsing will be over soon enough. and you’ll adapt to it. you’ll find a way to get accustomed to all of this. to the point where you can completely accept your paradoxical self. to the point where you can finally being fully aware, that everyone, every single person on earth is a walking contradiction. you’re not the only one and everyone is struggling with the same war within themselves.

and perhaps you should spend less time worrying about your contradictory mind and actually living your life.

Advertisements

Bintang, Supernova, dan Melankoli

Tidakkah bintang itu sedih? Ia sendirian diselimuti ruang hampa yang pekat menghimpit. Sepi. Gelap. Dingin. Berusaha untuk terus bercahaya hingga ratusan tahun hingga ia kehabisan daya hidup dan pecah menjadi jutaan debu dan gas kosmik yang berserak di semesta raya. Bahkan cahaya yang ia pendarkan selama masa hidupnya pun tak memiliki signifikansi yang besar dalam hidup manusia. terkalahkan oleh lampu-lampu kota, polusi, serta awan mendung.

Tidakkah bintang itu sedih? Tenggelam dalam kesendirian dan kegelapan. Melawan dingin dan sunyi nya semesta raya dalam tiap detik hidupnya. Tidak banyak yang dapat ia lakukan, karena ia telah terikat kontrak dengan alam untuk bergerak hanya dalam perhitungan tertentu, siklus tertentu. Hingga akhirnya ia mati, bertransformasi menjadi black hole, menghisap tubuhnya sendiri dalam lubang hitam tak berdasar. Dan selamanya ia akan menjadi black hole, lubang hitam yang menganga lebar dan menghisap apapun yang lewat dihadapnya. Luka yang takkan terobati di semesta raya.

Tidakkah bintang itu sedih? Dalam kesepian dan kesendiriannya, ia tetap selalu memberikan atraksi indah bagi para penikmatnya. Bahkan dalam sekaratnya, ia memberikan pertunjukan indah. Ia menyanyi dan menari, menciptakan kilatan cahaya-cahaya indah di angkasa. Hingga akhirnya ia padam. Melepaskan nafas kehidupan bagi semesta raya. Mencipta bintang-bintang baru atau bahkan planet baru. Kehidupan baru.

Dan tidakkah kamu layaknya bintang? Sedih, sendiri, gelap, dingin, sepi, telanjang, dan rapuh. Berusaha memancarkan cahaya diri hingga ajal menjelang. Meski pada akhirnya toh kamu tetap terlupakan dan kecil dalam dunia yang serba besar dan cepat ini.

Tidakkah kamu layaknya bintang? Tenggelam dan sesak dalam kesendirian. Namun kamu tetap melanjutkan hidupmu. menari dan menyanyi meski diterpa ombak kehidupan, berusaha memberi perubahan dalam dunia. Meski kamu tahu kamu tetaplah friksi kecil yang tak berarti di dunia betapapun indahnya nyanyian yang kamu senandungkan.

Dan pada akhirnya, seperti bintang, kamu pun akan mati. Padam. Ditelan megahnya semesta raya. Berharap, bahwa kematianmu pun layaknya bintang, mencipta kehidupan baru.

Pada Akhirnya, Akhir Akan Selalu Mengakhiri :)

hari ini kamu bertemu dengan akhir. ia mengenakan kemejanya yang paling rapi dan senyumnya yang paling cerah. ia menerima uluran tanganmu dan menjabatnya lembut, namun tegas. ia melambai kepadamu.

hari ini, akhir menjelma nyata. solid. dapat kau raba, cium, dan rasa. ia tidak lagi menjadi momok, hantu yang membayangi tiap langkahmu. ia menyata. menampakkan wujudnya secara jelas kehadapmu. membiarkan kamu berjabat tangan dengannya. dan kejutan! ia tidak seseram yang kamu bayangkan. malahan, ia begitu ramah dan hangat dan……. damai.

hari ini kamu berbincang dengan akhir. ia memberimu restu untuk bertemu kembali dengan awal dan menjauh dari bayangannya. ia menyuruhmu mengembangkan sayapmu laksana daedalus. biarpun kamu tahu bahwa nantinya kamu akan bertemu lagi dengan akhir, biarpun kamu tahu suatu saat sayapmu akan meleleh dan kamu kembali bertemu dengan akhir. tapi tidak ada salahnya mengembangkan sayapmu lagi. tidak ada salahnya menjadi bebas lagi. it’s a cycle. kamu akan terus berputar dalam siklus itu hingga pada akhirnya kamu masuk liang kubur atau ruang kremasi. pun liang kubur dan ruang kremasi adalah akhir lain bagimu yang pasti akan kamu temui nantinya.

dan inilah. inilah saatnya. saat akhir memelukmu dan kamu luruh kedalamnya. menuju ruang hampa dan gelap dalam pusaranya. jika saja kamu mampu membuka mata dan melihat bahwa ruang hampa itu indah, dengan milayaran debu kosmik berterbangan didalamnya. menandakan kelahiran awal yang baru. bukalah matamu, pinta sang akhir.

pada kenyataannya, kamu akan selalu bertemu dengan akhir. ada baiknya kamu menjalin hubungan baik dengannya, bukan?

Terimakasih, Gema 🙂

A Revelation

Jadi, sore ini saya menghabiskan waktu untuk menonton film Thousand Times Good Night. Sebuah film tentang seorang fotografer perang dan konsekuensi yang ia ambil demi terus dapat menjadi seorang fotografer perang. Ia adalah seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri. Ia adalah perempuan yang saya inginkan diri saya untuk menjadi.
Dalam salah satu adegannya, ia mengutarakan kepada anak sulungnya, alasan ia menjadi seorang fotografer perang. Mengapa ia mau terjun ke daerah konflik dan membahayakan nyawanya hanya untuk sebuah foto. She said “anger. I was really pissed off when i was younger”
Then I finally remember, that is the reason why i want to be a social worker in the first place. Bukan karena saya minim kemampuan, bukan karena saya tidak dapat melakukan apapun yang lebih baik. Tetapi karena saya marah. Marah akan kejahatan kemanusiaan yang terjadi dimana-mana. Marah akan ketidak adilan, kesenjangan. Karena saya percaya bahwa manusia tidak seharusnya hidup dalam ketakutan seperti yang terjadi di daerah konflik tersebut. karena manusia seharusnya memiliki penghidupan yang layak. Akses yang terbuka dan hak yang terpenuhi. Karena semua manusia berhak atas kehidupan, semua manusia berhak atas pendidikan, semua manusia berhak atas sumber daya. Dan saya marah akan banyak fakta yang terjadi di dunia. Seperti bagaimana seseorang harus terus melakukan eksodus karena kampung demi kampung yang ia tempati dijarah dan diserang oleh kelompok militan lokal. Tidak sepantasnya seseorang hidup dalam keadaan seperti itu. saya marah. Dan saya ingin menuangkan energi itu untuk membantu mereka. sedapat mungkin menolong mereka untuk keluar dari situasi itu. berkontribusi dalam menciptakan perdamaian.

Kemarahan itulah, yang membuat saya ingin menolong.

Saya ingat kisah Sun, seorang mantan tentara khmer rouge yang kehilangan salah satu kakinya. Saya ingat anak-anak di desa Golo Sepang, yang hidup dalam keterbatasan akses dan informasi. Saya ingat ratusan tengkorak dalam kotak kaca di sebuah kuil di Kamboja. Saya ingat kisah tentang bocah-bocah di Nigeria yang mengalami penculikan dan dibakar hidup-hidup. Kisah-kisah inilah yang membangkitkan api saya. Saya ingin dapat berbuat sesuatu. Saya ingin menolong.

Saya ingin……… merasa hidup.