Bintang, Supernova, dan Melankoli

Tidakkah bintang itu sedih? Ia sendirian diselimuti ruang hampa yang pekat menghimpit. Sepi. Gelap. Dingin. Berusaha untuk terus bercahaya hingga ratusan tahun hingga ia kehabisan daya hidup dan pecah menjadi jutaan debu dan gas kosmik yang berserak di semesta raya. Bahkan cahaya yang ia pendarkan selama masa hidupnya pun tak memiliki signifikansi yang besar dalam hidup manusia. terkalahkan oleh lampu-lampu kota, polusi, serta awan mendung.

Tidakkah bintang itu sedih? Tenggelam dalam kesendirian dan kegelapan. Melawan dingin dan sunyi nya semesta raya dalam tiap detik hidupnya. Tidak banyak yang dapat ia lakukan, karena ia telah terikat kontrak dengan alam untuk bergerak hanya dalam perhitungan tertentu, siklus tertentu. Hingga akhirnya ia mati, bertransformasi menjadi black hole, menghisap tubuhnya sendiri dalam lubang hitam tak berdasar. Dan selamanya ia akan menjadi black hole, lubang hitam yang menganga lebar dan menghisap apapun yang lewat dihadapnya. Luka yang takkan terobati di semesta raya.

Tidakkah bintang itu sedih? Dalam kesepian dan kesendiriannya, ia tetap selalu memberikan atraksi indah bagi para penikmatnya. Bahkan dalam sekaratnya, ia memberikan pertunjukan indah. Ia menyanyi dan menari, menciptakan kilatan cahaya-cahaya indah di angkasa. Hingga akhirnya ia padam. Melepaskan nafas kehidupan bagi semesta raya. Mencipta bintang-bintang baru atau bahkan planet baru. Kehidupan baru.

Dan tidakkah kamu layaknya bintang? Sedih, sendiri, gelap, dingin, sepi, telanjang, dan rapuh. Berusaha memancarkan cahaya diri hingga ajal menjelang. Meski pada akhirnya toh kamu tetap terlupakan dan kecil dalam dunia yang serba besar dan cepat ini.

Tidakkah kamu layaknya bintang? Tenggelam dan sesak dalam kesendirian. Namun kamu tetap melanjutkan hidupmu. menari dan menyanyi meski diterpa ombak kehidupan, berusaha memberi perubahan dalam dunia. Meski kamu tahu kamu tetaplah friksi kecil yang tak berarti di dunia betapapun indahnya nyanyian yang kamu senandungkan.

Dan pada akhirnya, seperti bintang, kamu pun akan mati. Padam. Ditelan megahnya semesta raya. Berharap, bahwa kematianmu pun layaknya bintang, mencipta kehidupan baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s