Setelah Sekian Tahun Menjadi Pengamat, Saya Memutuskan Untuk Menulis Pidato Singkat Yang Akan Saya Bacakan Kelak di Pernikahan Mereka

Saya mengenal tera dari SMA. Kami teman sekelas, teman cerita, teman curhat, teman belajar, dan teman apapun itu. Saya kenal Tera dan cerita tentangnya. Tentang mantan-mantannya dan petualangan cintanya. Suatu hari di kelas 11, dia bercerita pada saya tentang laki-laki ini. Hildan namanya. Saat itu Tera bukan perempuan lajang, ia punya kekasih lain yang ternyata merupakan teman SD saya juga, entah siapa namanya saya lupa. Tapi ia jatuh cinta pada laki-laki ini, Hildan, yang ternyata umurnya dua tahun dibawahnya dan ternyata adalah seorang laki-laki polos dan lugu yang bahkan tidak merokok. Sangat berbeda dengan Tera yang “anak nongkrong”. Tapi Tera jatuh cinta kepadanya, dan itu tidak mengapa.

Setelah drama yang melibatkan kisah cinta segitiga, kaki yang mengendap-endap, dan petak umpet ala kucing dan tikus, Tera dan Hildan memutuskan untuk membangun sebuah hubungan bersama. Saya tidak mengenal siapa Hildan itu, tapi Tera terlihat bahagia, maka saya pun turut berbahagia atas komitmen baru yang mereka tanam ini. dan “bayi” yang mereka rawat bersama ini tidaklah sempurna, mereka harus melewati berbagai pertengkaran, pengkhianatan, lebih banyak drama dan air mata. Tapi mereka adalah individu-individu yang kuat dan keras kepala sehingga mereka mampu melewati semuanya. Mereka tenggelam dan lebur kedalam satu sama lain. Merekalah bukti hidup, bahwa ketika dua orang memutuskan untuk bersama dan konsisten akan keputusannya maka dua kepala yang berbeda pun dapat disatukan. Mereka menjadi pengingat bagi saya, bahwa cinta bukan dongeng dan mitos semata. Cinta adalah pilihan. Tera memilih Hildan untuk menjadi satu-satunya untuknya, dan untungnya Hildan pun memilih Tera untuk menjadi satu-satunya. Maka cinta menjadi pilihan mereka. waktu memupuk cinta yang mereka pilih, membuatnya tumbuh semakin kuat dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Yang dibutuhkan hanyalah kemampuan untuk memilih dan keteguhan akan pilihan tersebut apapun yang terjadi. Tera dan Hildan telah membuktikannya. Saya tidak akan berkata muluk seakan mereka adalah “star-crossed lover” atau ungkapan-ungkapan norak semacamnya. Karena itu menihilkan perjuangan dan drama mereka selama bertahun-tahun. They choose their love and they work hard for it, fight for it, and i admire them for that.

Saya adalah seorang yang sinis akan cinta. Tapi sore ini, saya menyadari, bahwa manusia dapat menciptakan hubungan seperti ini. hubungan yang menyatukan tidak hanya dua kepala namun dua dunia sekaligus. Kita hanya harus memilih, dengan tepat. Terimakasih Tera, terimakasih Hildan.

menjadi bebas

menjadi bebas itu tidak mudah, tidak pernah mudah. meski kita sebagai generasi y, dibesarkan dalam dunia yang begitu menjunjung tinggi kebebasan dan hak-hak individu, kita tidak pernah benar-benar bebas. kita tidak pernah benar-benar netral, imparsial, dalam membuat keputusan. bahkan kita tidak pernah benar-benar memahami belenggu yang mengurung kita dalam sangkar, menghalangi kita dari kebebasan. karena belenggu ini, hanyalah suara, hanyalah konsepsi yang sukar untuk disadari keberadaannya dan pengaruhnya. musuh kita ini begitu abstrak, tidak dapat dilihat atau diraba. hanya terdeteksi oleh akal dan logika.

kita tidak pernah benar-benar mengerti apa saja yang menghalangi kita dari menjadi bebas. apa? keluarga? agama? masyarakat? moral? Norma? negara? ideologi? apa? semuanya? menurut James Joyce, kebebasan berarti terbebas dari keluarga, agama, dan negara. tapi hanya itu saja? bagaimana dengan ratusan nilai-nilai yang telah terinternalisasi dalam diri kita? seperti gender dan moralitas? rasa malu?

apa sih yang dimaknai sebagai kebebasan? terbebas dari apa?

pun setelah kita memaknai apa itu kebebasan bagi kita dan melakukannya. apakah kita siap? bagaimana dengan konsekuensinya? apakah kita siap dengan konsekuensi tersebut? apakah kita siap menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala keputusan yang kita ambil? karena bukankah dengan menjadi bebas maka kita mengakui bahwa diri kita sendirilah yang bertanggung jawab atas segala pilihan kita? lalu sejauh mana kebebasan yang akan kalian rengkuh? bukankah kebebasan absolut berarti kegilaan? atau mungkin tidak ada kebebasan yang absolut?

atau mungkin, tidak ada yang namanya kebebasan dan kita hanyalah boneka-boneka yang dikendalikan talinya oleh tangan-tangan raksasa. segala alur hidup kita telah ditentukan oleh si pembuat cerita, siapapun dan apapun dia. bahkan ide mengenai kebebasan pun sesuatu yang telah dikonstruksi sedemikian rupa dan hati-hati oleh “mereka” dan kita hanya dapat tunduk.

ah, menjadi bebas tidaklah mudah. tidak pernah mudah.

mengejar kebebasan tidak pernah menyenangkan. tapi kita tetap mengejarnya dengan brutal.

konspirasi tik dan tok

malam itu tik dan tok berdiri berhadapan disekat oleh sebuah meja persegi besar dengan sebuah kertas biru besar, dua cangkir kopi, dan berbagai kertas putih kosong yang berserak diatasnya. mereka berbincang serius, sambil sesekali tertawa. terbahak maupun tersedu. mereka menunjuk nunjuk kertas biru yang terbentang dihadapan mereka, menggurat kertas, untuk lalu meremasnya dan melemparnya ke lantai. lampu remang diatas mereka terlihat lelah menonton perbincangan (atau perdebatan?) mereka yang tak kunjung usai. panjang. melingkar. rumit. seperti labirin yang dibangun Daedalus untuk mengurung Minotaur. rumit. padat. berliku.

pasalnya, baru-baru ini ada entitas misterius yang tahu-tahu berniat mencipta kehidupan di sebuah planet bernama bumi. pasalnya lagi, tik dan tok diminta turut mengorganisir kehidupan tersebut, memberinya kebermaknaan dan keterbatasan. pusing lah kepala tik dan tok. inilah yang mereka perbincangkan sedari tadi, sedari — entahlah. nampaknya sudah terlampau panjang diskusi mereka. sudah bercangkir-cangkir kopi mereka tenggak. mungkin darah mereka kini telah menyaru hitam, pekat, pahit seperti kopi tubruk tanpa gula yang menjadi favorit para pegiat kopi.

tik menggebrak meja, diikuti teriakan dari tok yang berbunyi aha. mereka telah menemukan solusinya. maka mereka mulai menggurat pena diatas kertas biru yang tadinya baru bertuliskan “kertas biru kehidupan” pada bagian judul. dengan cekatan tik dan tok mengisi kertas biru tersebut dengan gambar dan tulisan. mewarnainya dengan pena warna-warni, memberinya goresan krayon disana dan disini, memercikkan tinta diatasnya serta mengguratnya dengan belati dan keris. inilah. inilah kertas biru kehidupan ala tik dan tok. mereka memutuskan mulai dari saat ini mereka akan terus berkejaran. mereka akan mengejar manusia dan dikejar manusia. menghimpit dan menyesakkan manusia dengan kelengangan maupun keramaian. mengisi tiap ruang kosong di bumi, membuatnya bergerak konstan kedepan, menjemput dan meninggalkan manusia didalamnya. menciptakan dan menghancurkan segala sesuatu. menghidupkan dan mematikan. melupakan dan mengingatkan. menjauhkan dan mendekatkan.

tik dan tok bertekad untuk tidak berhenti. tidak berhenti untuk apapun dan siapapun. tidak peduli apapun yang terjadi. tik dan tok tidak akan memberikan kompromi apapun

kecuali dalam satu kondisi;

dikala sepasang manusia sedang jatuh cinta, tik dan tok akan mengaburkan eksistensinya. membuat mereka lenyap dalam momen yang sejenak seakan abadi. tak habis dimamah waktu.

tik. tok.

ada yang mengendap di balik punggungmu

berjingkat dengan ketuk teratur

merayapi semua jejak langkahmu

menutupnya dengan kelambu

ada yang tertawa di depan mukamu

mempermainkan kegelisahanmu

mencaci kelumpuhanmu

menutup jalanmu dengan kelambu

dan kamu mematung

tik. tok.

kamu lenyap dimamah waktu