menjadi bebas

menjadi bebas itu tidak mudah, tidak pernah mudah. meski kita sebagai generasi y, dibesarkan dalam dunia yang begitu menjunjung tinggi kebebasan dan hak-hak individu, kita tidak pernah benar-benar bebas. kita tidak pernah benar-benar netral, imparsial, dalam membuat keputusan. bahkan kita tidak pernah benar-benar memahami belenggu yang mengurung kita dalam sangkar, menghalangi kita dari kebebasan. karena belenggu ini, hanyalah suara, hanyalah konsepsi yang sukar untuk disadari keberadaannya dan pengaruhnya. musuh kita ini begitu abstrak, tidak dapat dilihat atau diraba. hanya terdeteksi oleh akal dan logika.

kita tidak pernah benar-benar mengerti apa saja yang menghalangi kita dari menjadi bebas. apa? keluarga? agama? masyarakat? moral? Norma? negara? ideologi? apa? semuanya? menurut James Joyce, kebebasan berarti terbebas dari keluarga, agama, dan negara. tapi hanya itu saja? bagaimana dengan ratusan nilai-nilai yang telah terinternalisasi dalam diri kita? seperti gender dan moralitas? rasa malu?

apa sih yang dimaknai sebagai kebebasan? terbebas dari apa?

pun setelah kita memaknai apa itu kebebasan bagi kita dan melakukannya. apakah kita siap? bagaimana dengan konsekuensinya? apakah kita siap dengan konsekuensi tersebut? apakah kita siap menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala keputusan yang kita ambil? karena bukankah dengan menjadi bebas maka kita mengakui bahwa diri kita sendirilah yang bertanggung jawab atas segala pilihan kita? lalu sejauh mana kebebasan yang akan kalian rengkuh? bukankah kebebasan absolut berarti kegilaan? atau mungkin tidak ada kebebasan yang absolut?

atau mungkin, tidak ada yang namanya kebebasan dan kita hanyalah boneka-boneka yang dikendalikan talinya oleh tangan-tangan raksasa. segala alur hidup kita telah ditentukan oleh si pembuat cerita, siapapun dan apapun dia. bahkan ide mengenai kebebasan pun sesuatu yang telah dikonstruksi sedemikian rupa dan hati-hati oleh “mereka” dan kita hanya dapat tunduk.

ah, menjadi bebas tidaklah mudah. tidak pernah mudah.

mengejar kebebasan tidak pernah menyenangkan. tapi kita tetap mengejarnya dengan brutal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s