lets talk about movie! (Waking Life, 2001)

Lets talk about movie. Saya adalah pencinta film, seperti kebanyakan orang. Saya suka menonton karya sinema dan mencari insight dan perspektif baru, pengetahuan baru, dari film tersebut. bagi saya menonton film bukan hanya sekedar hiburan. Saya mencari ide, nilai, perspektif yang ada dalam film yang saya tonton. Saya mencari pelajaran hidup dari film, karena tidak banyak yang dapat ditawarkan oleh lingkungan saya… atau mungkin saya yang kurang membuka mata di dunia nyata. Entahlah.

Waking life (2001), adalah film favorit saya sejauh ini. film ini memberikan banyak pandangan mengenai semesta dan usaha manusia dalam mengungkap tabir misterinya. Dalam film ini banyak sekali terdapat ide dan teori, jelas karena film sepanjang satu setengah jam ini hanya berisi rentetan dialog antara tokoh-tokoh yang tidak bernama mengenai ide dan teori tentang kehidupan. Dan meski setelah 3 kali menontonnya, film ini selalu meninggalkan saya dalam “ruang” ini. dimana sekitar menjadi kabur, dan saya terperangkap dengan beribu suara dalam kepala saya, yang menunjuk, menyentil, menampar, menyenggol, menawarkan cermin. Jangan salah, saya suka ruang ini, ruang dimana saya dapat sembunyi dan tenggelam tanpa merasa tercekik. Dan saya mencintai film-film indah yang dapat mengirim saya menuju ruang ini. seperti film waking life. Oh, saya harus berterimakasih pada Richard Linklater dan kejeniusannya.

Hingga kini, tidak semua ide dalam waking life dapat saya pahami. Masih terdapat beberapa bagian dalam film ini yang masih berusaha saya cerna dengan otak saya yang sangat pas-pasan. Masih ada beberapa dialog yang tidak dapat saya raih maknanya. Karena itu film ini tidak akan pernah jadi membosankan bagi saya. Dan lagi, dengan perspektif saya yang selalu berkembang, tiap kali saya menonton film ini akan memberi pengalaman baru bagi saya karena saya akan dapat melihatnya dengan cara yang baru setiap kalinya. Mungkin ini indahnya sebuah film tanpa cerita. Dan jika sebuah film tanpa cerita dapat menjadi sebuah keindahan, mengapa seorang manusia diantara tidak dapat menjadi sesuatu yang indah pula?

Saya tahu, mungkin bagi beberapa orang film ini sangat surealis dan absurd dan omong kosong. Terlalu banyak dialog dan tidak ada aksi, atau terlalu banyak teori tanpa implementasi. Tapi berilah kesempatan. Tonton, resapi, dan refleksikan pada diri. It might be a life-altering experience 😉

sedihnya, hidup bukanlah film.

Terkadang, ingin rasanya mereduksi diri menjadi karakter dalam sebuah film. Karena dalam film selalu ada akhir. Selalu ada tanda titik. Cerita usai. Dan final. Terdapat plot, jalan, terdapat benar dan salah, baik dan buruk. terdapat segala sesuatu yang tepat. Seperti pasangan yang tepat, sikap yang tepat, waktu yang tepat, kondisi yang tepat, teman yang tepat.

Sedangkan hidup begitu pepat. Pengap. Tidak ada yang tepat. Tidak ada benar salah. Hidup begitu pepat dengan berjuta ide, kemungkinan, pilihan. Dan kepalamu pun turut engap. hidup begitu penuh dengan simpangan, tiap simpang membawamu ke kenyataan yang berbeda. kenyataan yang tidak sempurna, tidak pernah tepat, namun apa adanya. tidak tepat, namun apa adanya. dan tiap simpang tidak dapat di ulangi kembali. tiap simpang yang kau jejak mendefinisikan dirimu tanpa pernah dihapus kembali. tidak seperti film.

Sedangkan hidup tidak memiliki akhir cerita. Akhir adalah mati. Akhir adalah negasi dari hidup itu sendiri. Maka tidak ada final state dimana segalanya tepat dan benar. Hidup sejatinya adalah tangga tanpa ujung. Kita bergerak maju kedepan, melampaui diri selangkah demi selangkah tanpa pernah menggapai ujung tangga, the ultimate self. karena the ultimate self hanyalah bualan, kebohongan yang harus ada.

Sedangkan hidup adalah berlari. Berlari dari sesuatu atau menuju sesuatu atau keduanya. Namun kita tidak pernah berhenti berlari. Karena berhenti berarti runyam digilas waktu dan peradaban. Karena kini selalu dihimpit kemarin dan esok.

ah, hanya seorang naif yang membandingkan hidup dengan film.