Berhenti Jadi Sukab

“sejak kapan senja jadi seperti makhluk aneh yang harus diabadikan dengan kamera dan di pamerkan?”

pertanyaan ini, menghantui saya. sejak kapan memotret senja menjadi suatu kegiatan yang digemari oleh semua orang? sejak kapan menonton senja jadi layaknya menonton atraksi? sejak kapan senja harus dipepatkan dalam selembar kertas foto? sejak kapan pula, potret senja menjadi cara untuk membangun identitas diri dihadapan umum?

saya sendiri adalah pelakunya. entah sudah berapa senja saya ukir dengan kamera dan saya pamerkan di media sosial. sudah berapa senja saya intip melalui lensa dan lupa untuk mencetak senja itu dengan kedua mata saya sendiri. sudah berapa senja yang alpa saya nikmati karena yang saya pikirkan hanyalah bagaimana cara terbaik memindahkan sulur hangat dan lembayungnya kedalam layar 3,8 inci dengan pixel dan gradasi warna yang amat terbatas.

mungkin jika senja dapat diberi kesempatan untuk berbicara dan mengutarakan pikiran, ia pun akan mengungkapkan keresahan yang sama. ia mungkin jengah pula di perangkap dalam figura kotak instagram tanpa pernah benar-benar bisa memantulkan merah kesumbanya ke wajah para kekasih. ia mungkin gerah pula dikerat kedalam layar beberapa inci yang tak akan pernah bisa menangkap getar halus yang senja kirimkan ke sanubari setiap penikmatnya. ah, mungkin senja sudah ingin hengkang karena merasa kurang dicintai oleh manusia kini.

mungkin pula kita patut menyalahkan Sukab untuk fenomena ini. peristiwa mengerat senja yang ia dongengkan dengan begitu surealis dan romantis itu telah mengubah citra senja. semua orang lalu berlomba-lomba menjadi Sukab dan berusaha mengerat senja kedalam layar kecil untuk diberikan pada yang terkasih. namun kini terlalu banyak Sukab dan terlalu sedikit Alina. terlalu banyak yang mengerat senja namun terlalu sedikit yang merasa dibanjiri oleh senja yang terluka. nyatanya, kala matahari menggantung separuh menolak benam setiap saat, senja pula menjadi terlalu banal.

maka saya ingin berhenti menjadi Sukab. saya tidak ingin menjadi begitu egois dan melukai senja hanya untuk seorang kekasih (bahkan saya tidak punya kekasih!) atau alasan yang lebih remeh-temeh seperti status sosial dan personal branding. saya ingin menjadi sekedar pencumbu senja yang ikhlas, yang tidak merasa harus memiliki.

Advertisements

Balada Sekotak Tisu

Jika saya diperkenankan untuk menganalogikan, saya ini seperti sekotak tisu untukmu. Kamu cari, kamu peluk erat, hanya dikala kamu butuh sesuatu untuk menghapus tetes air di sudut matamu atau bahkan untuk menampung lendir hidungmu yang mengalir kala kau menangis. Sebagaimana seharusnya, saya yang serupa kotak tisu ini akan menemanimu selama beberapa hari. Kau simpan disamping tempat tidurmu, menjaga saya tetap dekat, menjaga saya sejangkauan tanganmu. Lalu di suatu pagi kala mentari sudah lebih hangat dan cerah, kamu menghilang. Entah kemana. Sudah menemukan bahagiamu yang tadinya disembunyikan oleh mendung, mungkin. Dan saya akan bertanya-tanya apakah kamu tidak apa-apa. apakah matamu masih terus berair. Apakah dadamu masih penuh sesak. Tapi kamu hanya menghilang. Bahkan tanpa berpamitan. Meninggalkan saya yang heran dan bertanya-tanya. Hingga suatu hari saya lihat sendiri kamu sudah tertawa dan menari-nari lincah seperti sedia kala. Dan lalu saya mafhum, saya memang selembar tisu. Tak ada nilainya jika tidak ada yang perlu untuk dibersihkan. Saya mafhum, saya memang selembar tisu. Hanya berarti dikala mentari mengumpat malu-malu dibalik kelabu.

Hingga nanti kamu kembali berselimut nestapa, kamu akan mencoba mencari saya lagi. Sekotak tisu yang dulu pernah kau simpan disamping tempat tidurmu. Semata untuk membersihkan dirimu dari pilu. Karena memang untuk itu aku ada, bukan?

Tapi kamu tidak dapat menemukan sekotak tisu itu lagi. Karena saya sudah jatuh ke kolong tempat tidurmu, berkawan dengan debu-debu yang sedih dan terlupakan. Tapi saya senang saja, karena saya pun sama sedih dan terlupakannya. Lalu kamu, dengan sedikit menggerutu, mengambil sepeda motormu dan mengendarainya ke warung terdekat. Mencari sekotak tisu yang baru di deretan kotak-kotak tisu lain yang sama-sama menawarkan diri untuk menghapus air matamu.

Jika saya diperkenankan untuk memilih, saya tidak ingin menjadi sekotak tisu untukmu.

Saya ingin menjadi temanmu.

sepaket sunyi

sore tadi, tukang pos datang mengantarkan sebuah paket untukku. rupa-rupanya itu adalah sepaket sunyi darimu. kau kemas dengan seikat gelisah dan setangkup biru yang dingin. ah, sudah kutebak pasti ini yang akhirnya akan kau kirimkan kepadaku. sejak awal kau menanyakan alamat rumahku, aku sudah curiga bahwa pada akhirnya sunyi pula yang sampai di pangkuanku. ya sudah, mau bagaimana lagi. lebih baik aku nikmati saja sepaket sunyi darimu, bukan?

maka malam ini kukenakan setangkup biru yang kau kirimkan. kurangkai birunya menjadi sehelai gaun. indah. setidaknya, biru ini tak terbuang sia-sia. setidaknya, aku dapat merasa cantik diselimuti oleh biru yang dingin, yang kejam. meski hanya sementara. kusolekkan pula biru ini di kedua pelupuk mataku. aku ingat, dulu kau pernah mengagumi gadis-gadis bermata biru. lihat, kini mataku pun biru olehmu. biru ngilu.

nanti, setelah mentari menggusur kelam, akan ku tanam pula seikat gelisah itu. agar tamanku berisi rumpun gelisah yang mengakar kuat ditanah. biar, biar tamanku dipenuhi gelisah darimu. aku suka bunga-nya yang kelabu cantik. belum pernah sebelumnya kulihat bunga berwarna kelabu. maka ingin kuabadikan seikat gelisah darimu di tamanku. ku biakkan, hingga penuh, hingga aku dapat tenggelam didalamnya. bersembunyi dibalik semaknya.

sedangkan sunyi itu sudah kuseduh bersama kopi hitamku tadi sehabis adzan maghrib. sudah kusesap pahitnya hingga kandas. jangan khawatir, aku tidak akan mengirimkan ampasnya kepadamu. aku bahkan tidak tahu alamat rumahmu. biar ampas itu mengering dalam cangkir ku. sebagai pengingat, bahwa aku telah menenggak habis secangkir sunyi. membiarkannya beredar ke penjuru tubuh bersama darahku. mungkin sepetak sunyi itu akan menetap selamanya disana, enggan beranjak. tak mengapa, aku memang butuh sejumput sunyi untuk meredam segala bingar semesta yang ada di dadaku.

semesta memang pepat, dalam dadaku.

didadaku, dapat kau temui samudera

dingin dan biru. membentang luas, enggan bertepi. sungguh, tak seorangpun pernah menyelam hingga kedasar. menjelajahi palung-palungnya, misteri-misterinya. mengalahkan terjang ombaknya saja sudah terlalu merepotkan. terlebih mengarungi pun menyelami.

didadaku, mentari bulat sempurna

cahayanya yang keemasan menerangi dengan ikhlas. menimpa pucuk-pucuk dedaunan, dan menembus sela-selanya. mengajak siapapun untuk turut keluar dari tembok-tembok beton dan menari dibawah cercah emasnya. menghangatkan, bagi jiwa-jiwa yang menggigil oleh sunyi. hingga tiba waktunya untuk benam di ufuk barat. menumpahkan jingga dan kesumba-nya di bentangan cakrawala. memaksa siapapun untuk mematung sejenak, melupa pedih perih oleh sihir senja. tanpa disadari, gelap telah memeluk lelap di pangkuannya.

didadaku, terhampar sawah menguning

merunduk malu-malu, menanti untuk dipetik. menanti untuk malih menjadi semangkuk nasi dihadapan jiwa-jiwa yang kelaparan. menggeliatkan tunas-tunas lainnya dari lindungan tanah yang rela, melepas mereka bertumbuh. menghadapi riangnya masa-masa hijau. untuk lalu merunduk malu-malu lagi. menjadi santap lagi. berputar dalam roda yang itu-itu saja, hingga waktu memutuskan untuk berhenti mencipta detik.

didadaku, pegunungan membentang serupa benteng

menggoda ego, untuk menaklukkannya. menggelitik kaki, untuk menjelajahinya. memasuki hutan belantaranya, dibutakan kabut tipis yang dingin. muram, namun romantis. membelah padang edelweiss dan ilalang, mencari kenangan yang menggenang di dasarnya. hati-hati lah dalam melangkah, tebing dan jurangnya tak akan ragu untuk mencelakai. jalan setapaknya yang tak pernah sederhana, teramat melelahkan. namun akan kau temui di puncaknya, segenap kebahagiaan yang buncah, ruah.

mungkin memang benar adanya, semesta pepat dalam dadaku; dimana rahasia tak lagi berangka.

mungkin memang benar adanya, semesta mampat dalam dadaku; menanti untuk dipetakan.

terinspirasi dari ‘Semesta; Rahasia-Rahasia di Dada Hawa’ karya iitsibarani

surat terakhir diatas pusaramu

Kepada; kamu yang sudah kumakamkan disalah satu sudut hatiku

Maaf aku masih sering mengeksploitasi kenangan kita. Bukan berarti aku masih menanti, masih mengharap hadirmu. Hanya saja kamu adalah luka yang masih begitu nyata. Dan kamu tahu betapa aku membutuhkan luka-luka itu untuk terus bergerak. Aneh memang, tapi luka menjadi tenaga yang menggerakkan tali-temali kehidupanku.

Dan barangkali, hantu-mu juga masih bergentayangan disini.

Aku belum mengadakan upacara pemakaman yang pantas untuk kenangan kita. Belum ada dawai biola bergesekan syahdu dan biduan cantik yang bernyanyi mengenai kematian. Barangkali aku belum cukup menggunakan tudung hitam untuk menghormati kepergianmu. Dan barangkali bunga yang kusematkan kala itu di pusara-mu –dandelion putih- bukanlah bunga yang tepat. Karena kala ia dihembus angin, justru kenanganmu menyerak tak karuan ke seluruh penjuru hatiku.

Dan barangkali, hantu-mu juga masih bergentayangan disini.

Aku masih tidak mengerti bahwa banjir bandang dapat menyebabkan erosi tanah yang berbahaya. Rupa-rupanya aku belum membangun bendungan yang cukup kokoh untuk menghalau banjir bandang yang kerapkali terjadi dikala hujan merintik di halamanku. Atau di pelupuk mataku. Dan banjir bandang itu, tsunami itu yang terjadi beberapa waktu lalu, menyapu hatiku porak poranda. Lagi, remahan kenanganmu dihanyutkan debit air yang begitu besar bergelombang, menghantam dinding-dinding hatiku.

Dan barangkali, hantu-mu juga masih bergentayangan disini.

Ini adalah pemakaman kali kedua untuk kenanganmu. Telah kugali liang kubur ratusan depa dalamnya. untuk kembali memakamkan kenanganmu yang terserak. Agar tak lagi ku eksploitasi. Agar tak lagi menambah kerikil di jalanmu dan jalanku. Agar tak lagi menjadi hantu pengusik malamku.

agar tak lagi, namamu tersemat di bibirku.

Maka dibawah rintik hujan sore ini, kumakamkan kamu dengan segenap kerelaan. Tanpa air mata. Hanya seucap salam.

Maaf.

rayakan duka-mu (kamu tidak pernah sendiri)

Kemarin malam, aku dapat melihat bibirmu yang kelabu bergetar menahan perih yang ia sisipkan dalam sunyi antar kalimat-mu.

Sahabatku sayang,

Menangislah. Meraunglah. Merintihlah. tak apa. hampa yang perempuan itu tinggalkan baik di jiwamu maupun di kamar hunianmu memang brengsek. Ia menuntut untuk diisi oleh tangismu. Maka isilah, hingga penuh, hingga meluap, hingga tumpah. Hingga ia jera dan tak mampu lagi menyesakkanmu. Tak apa. luka itu nyata bagi siapapun yang sedang dihimpit kehampaan. Dan kamu boleh, malah diharuskan untuk menangis. Air mata bukan kelemahan. Mereka bilang, air mata adalah kuatmu yang tidak dihargai.

Dan kamu adalah seorang yang sungguh kuat. Maka menangislah kuat-kuat. Merengeklah. Tapi jangan pernah merengek untuk menjemputnya kembali. Kamu terlalu berharga untuk itu. jalanmu masih sangat panjang daripada sekedar kau gunakan untuk berputar ditempat.

Tahukah kamu, keresahanmu, kehampaan yang kamu rasa ini, adalah media untuk mu bertumbuh dan menjadi besar? Berbahagialah mereka yang melulu resah, karena mereka melulu diberi kesempatan untuk berkembang. Untuk malih. Maka bersyukurlah kamu atas perih yang menggetarkan bibirmu ini. ia mengundangmu untuk mendewasa. Syukurilah pahit diujung lidahmu ini yang dulunya telah terlalu terbiasa membisikkan namanya. Karena pahit itu akan mengingatkan bahwa masih ada manis yang lain dalam hidup yang tidak hanya berkisar tentang ia.

Genggam tanganku, jika perih itu menjadi terlalu nyata untuk kau hadapi sendiri. jika hampa itu melahap seluruh senyummu. Aku akan menarikmu kembali berpijak pada harap. Karena kamu tidak pernah sendiri. kamu tidak harus melalui segalanya sendiri.

Aku hanya sejauh satu deringan telepon darimu. Jangan pernah merasa sendiri.

a talk with my vagina (rated R, might be uncomfortable to read)

Hai,

Ini aku sayang, bagian dari kamu. Menempel lekat sebagai bagian dari sistem mu yang maha kompleks ini. mendiami salah satu ceruk tubuhmu tanpa pernah dapat kau lepas. Ya, tentu, kau bisa memanipulasi ku, mengubahnya menjadi seperti yang kau mau. tapi aku akan tetap membekas, aku akan tetap ada. menjadi potongan puzzle bagi kemanusiaan.

Aku, kunci dari kemanusiaan, kunci dari eksistensi manusia di muka bumi.

Ini aku, vaginamu. Pintu masuk bagi kehidupan manusia.

Sayang, aku ada disini. Selalu disini. Meski kau tutup-tutupi, kau sangkal keberadaannya, aku tetap disini. Menawarkan padamu sejumput surga jika kau menginginkan. Menjadikanmu sumber kehidupan, jika kau memang menghendaki. Aku ada, dan aku milikmu. Aku tahu aku adalah tabu bagimu. Kamu tidak pernah ingin melihatku, terlebih menyentuhku. Kuakui, rupaku tak melulu indah, pun tidak wangi semerbak. Kadang kala aku begitu buruk rupa hingga kau membenciku. Kau pula mengutukku kala aku mengalirkan darah merah ke celana jins kesayangan-mu.

Aku ada dan tiada bagimu. Aku ada saat kau membutuhkan pelarian sekejap dari rutinitasmu. Namun tiada kala kau tidak membutuhkan. Kau melupakan eksistensiku dibawah sini. beruntung, aku adalah makhluk yang mandiri. Aku dapat membersihkan diriku sendiri, aku dapat menyembuhkan lukaku sendiri. Tidak apa, sayang. Aku dapat mengurus diriku sendiri tanpa perlu engkau ambil pusing.

Kini, saat aku dapat kesempatan untuk berbicara, aku ingin duduk berdua denganmu. Berbincang. Tidak, tentu bukan tentang cuaca hari ini ataupun film terbaru di bioskop. Bukan hal-hal banal seperti itu yang ingin kubincangkan denganmu di kesempatan yang teramat langka ini. aku ingin mengingatkanmu, sayangku. Bahwa bagaimanapun mandirinya aku, tolong turutlah menjagaku. Singkirkan thong-mu, aku ingin beristirahat nyaman dalam celana yang nyaman dan tidak melukaiku. Jangan memaksaku membuka diri untuk penis-penis itu. tahukah kamu bahwa kerapkali aku luka akibat penis tak tahu diri yang menyerobot masuk tanpa melakukan introduksi terlebih dahulu? Hentikan invasi-invasi asing tersebut. aku jengah.

Dan sayang, tolong hargai aku, hormati aku. Jangan kau lempar aku kesana kemari. Karena bukan hanya bibirku yang dapat terluka, namun juga hatimu, ego-mu. tidak ada casual sex, sayangku. Bagimu, tidak ada hubungan kelamin yang berhenti dibawah pinggul. Sentuhan itu menjalar hingga ke jiwa.

Jangan kau lupakan itu.

Tertanda,

vaginamu

sayang,

ini aku. puan-mu. yang memiliki kamu. dan berkewajiban menjagamu. aku sudah baca suratmu, dan aku berhutang maaf padamu. maafkan aku yang seringkali begitu kasar tanpa memikirkan bahwa kamu akan terluka. maafkan aku yang begitu sering mengabaikanmu, menafikkan keberadaanmu. aku yang menganggapmu buruk rupa dan menolak untuk melihatmu, terlebih menyentuhmu. aku terlalu malu, terlalu asing denganmu.

aku tidak mengerti seluk belukmu. adalah tabu bagiku mempelajarimu, tabu bagiku menjelajahi tiap incimu, mempelajari struktur dan teksturmu. aku malu. bahkan menyebut namamu pun aku malu. karena mereka menyebutmu sebagai kemaluan. sesuatu yang harus ku-malu-kan. sesuatu yang malu-malu dan aku harus merasa malu dengan keberadaanmu. aku harus malu jika melakukan sesuatu yang berkaitan denganmu. maafkan, aku telah dikonstruksi sedemikian rupa hingga kau adalah kemaluan bagiku. memalukan.

tapi aku mendengarmu dengan jelas kali ini.

dan aku akan berhenti menyebutmu kemaluan. aku akan belajar mencintaimu. aku akan belajar menjagamu, menghormatimu, menghargai pengorbananmu. kau adalah bagian dariku. kau adalah aku.

dan aku seharusnya mencintaimu.

tertanda,

aku yang malu

terinspirasi dari Vagina Monologues karya Eve Ensler