schizophrenic us

Sayangku, surat ini adalah sebentuk pengakuan dan permintaan maaf. Dariku. Untukmu.

1 tahun sekian bulan yang kita lewati, memiliki kenangannya sendiri. Baik saat kita dekat maupun jauh. Kenangan yang, tolong, jangan dihapuskan. Kenangan itu, yang menjadikan kita sebagai individu yang kita kenal sekarang. Mungkin kenangan itu memberi keburukan bagimu, menyakitimu dan tidak memberi apapun bagimu. Tidak bagiku, sayang. Kita yang lalu memberi beribu pembelajaran bagiku sekarang. Dan sesungguhnya, kadang masih menyisakan seulas senyum di bibirku meski lebih sering aku menepuk jidat saat mengingatmu. Dan kita. Maafkan sayang.

Salah satu pelajaran paling berarti yang kudapat darimu, dari kita. adalah pentingnya mempertanyakan kepada diri setiap saat, siapa yang sebenarnya aku cintai, kamu, atau sesosok kecil kamu dalam pikiranku? Karena ternyata alpa menanyakan hal tersebut merupakan tindakan yang sangat egois. Karena ternyata saat aku bertanya kepada diriku, jawabannya membuatku meninggalkan kamu. Karena ternyata aku lebih mencintai sosok kecil kamu dalam kepalaku daripada kamu yang sebenar-benarnya. Yang solid. Yang dapat kusentuh, peluk, cium. Pada kenyataannya yang menghuni hatiku adalah figur kecil kamu yang kabur, yang fiktif, yang tidak dapat kurengkuh, dan hanya ada dalam kepalaku.

Aku mencintai lelaki anginku. Bukan kamu. Yang aku inginkan adalah sosok lelaki anginku, termanifestasikan dalam raga mu. Ini tidak adil buatmu, bukan? Aku egois. Mungkin cintaku pun sebatas fantasi dan tidak real. Mungkin satu-satunya yang dapat aku cintai adalah aku dan dunia dalam kepalaku. Yang berisi tokoh-tokoh fiktif belaka meski diangkat dari dunia yang faktual. Pada kenyataannya, kamu bukan lelaki angin yang selama ini menghuni kepala dan hatiku. Pada kenyataannya, kamu lelaki yang sama sekali lain dan berada di dunia nyata. Kurasa aku terlalu lama mengurung diri dalam kisah-kisah fiktif yang ku narasikan sendiri, hingga terlupa bahwa hubungan kita berada di dimensi lain.

cinta ku schizophrenic, sayang. mengaburkan lini batas antara fantasi dan kenyataan. kukatakan begini tidak dalam konteks yang baik, tentunya. karena aku yakin yang kamu inginkan adalah sesuatu yang nyata kan, sayang? cinta ku schizophrenic, sayang. ia memilih untuk minggat dari kenyataan dan mencipta realitanya sendiri dalam kepalaku.

Maafkan aku sayang jika aku tampak terlalu bergegas pergi darimu. Maafkan aku sayang, jika kamu merasa terbuang. Maafkan aku sayang, jika aku terlalu lekas menghapus rasa. Pasalnya, rasa itu ternyata tidak pernah untukmu. Jahat sekali, ya?

Pembelajaran ini membuatku meninjau ulang segala perasaan romantis yang pernah aku miliki terhadap seseorang. Dan kusadari, aku belum mampu mencinta dengan sebenar-benarnya, setulus-tulusnya. Maaf, sayang.

Sayangku, surat ini adalah sebentuk pengakuan dan permintaan maaf. Dariku. Untukmu. Jangan sesali. Kumohon.

tertanda,

aku yang tenggelam dalam fantasi

Advertisements

7 thoughts on “schizophrenic us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s