Surat Terbuka untuk Duo Serigala

Selamat siang, nona-nona manis duo serigala

Pertama, biar saya menetapkan posisi saya terlebih dahulu. Saya menulis ini sebagai seorang perempuan yang tergelitik untuk beropini pasca menonton video nona-nona di Youtube. Namun saya tidak mengatasnamakan diri sebagai perwakilan dari perempuan-perempuan Indonesia lainnya. surat ini murni merupakan opini saya, yang tidak menutup kemungkinan untuk diamini oleh beberapa perempuan lain.

Surat ini juga bukan sebuah kritik bagi nona-nona, bukan pula kecaman. Saya hanya menyatakan pendapat saya mengenai duet dangdut yang nona-nona lakoni. Saya tidak memusuhi ataupun ingin menggurui. Saya pula tidak lantas membenci ataupun melaknat apa yang nona-nona lakukan, lebih-lebih mengharamkan. Itu hak prerogatif MUI, dan sama sekali bukan kewenangan saya.

Nona-nona manis, apa yang anda lakukan dalam video ‘Abang Goda’ (red: goyang dribel), sebenarnya merupakan hak nona sepenuhnya. Seksualitas nona-nona sepenuhnya adalah milik nona dan merupakan pilihan nona sekalian untuk mempertontonkannya ataupun menyimpannya rapi. Dan saya yakin pilihan nona untuk mengemas seksualitas nona menjadi sebuah hiburan umum merupakan sebuah pilihan yang nona-nona lakukan secara sadar. Ah, nona-nona sudah dewasa, bukan? Sudah dapat menentukan pilihan bagi diri sendiri, bukan? Dan semoga, semoga saja, pilihan itu nona-nona buat tidak dibawah paksaan dari pihak manapun. Semoga memang itu pilihan nona dan yang memang ingin nona lakukan.

Nona-nona manis, pernahkah nona memikirkan dampak dari ‘hiburan’ yang nona-nona tontonkan? Mari kita bicara tentang dampak tindakan nona bagi diri nona sendiri dahulu. Tenang, saya tidak akan bicara mengenai harga diri, dosa, maupun moralitas. Karena saya percaya bahwa ketiga hal tersebut merupakan ketetapan yang nona-nona bentuk untuk diri nona sendiri. Boleh jadi menurut nona mengobjektifikasi diri dan menjual seksualitas bukan merupakan tindakan amoral, bukan pula dosa, dan tidak merendahkan harga diri nona-nona. Mungkin justru menurut nona itu merupakan suatu kebanggaan. Saya tidak tahu, tidak akan pernah tahu, dan sesungguhnya, tidak mau tahu.

Jangan khawatir pula nona-nona, ini bukan slut-shaming. Saya hanya ingin mengajak nona-nona untuk merenungkan kembali keputusan nona-nona. Toh, bagaimanapun cara nona-nona mengemas seksualitas nona, tidak menjadikan nona kurang manusia daripada manusia lain. Saya yang memutuskan untuk menunjukkan seksualitas saya secara privat tidak lalu ‘lebih manusia’ daripada nona. Kita sama-sama perempuan yang memiliki seksualitas dan sensualitas namun mengemasnya dengan cara yang berbeda. Dan kita sama-sama tidak benar, pun tidak salah.

Namun mari kita hadapi faktanya, masyarakat kita memiliki rape culture yang kuat. Dengan nona mengobjektifikasi seksualitas nona, tidakkah ini menjadi alasan bagi masyarakat kita untuk lalu merendahkan nona? Tidakkah ini akan digunakan sebagai justifikasi yang kuat jika sampai terjadi (semoga tidak) kekerasan seksual terhadap diri nona? Tidakkah resiko nya terlalu besar, nona? Saya baca dalam sebuah artikel (entah ini merupakan fakta atau tidak) bahwa ketika turun dari panggung nona-nona seringkali diserbu oleh para penggemar yang ingin menyentuh payudara nona. Baiklah, mungkin bagi nona ini resiko yang sudah nona terima, akan tetapi bagaimana jika penggemar nona bertindak lebih nekat, lebih jauh lagi?

Saya yakin dalam masyarakat kita, tindakan-tindakan penggemar nona yang nekat nantinya akan di justifikasi dengan “ya mau bagaimana, salahnya dua perempuan itu memamerkan payudara seperti itu”. hal ini saya sadari memang salah, nona. Justifikasi semacam itu tidak dapat dibenarkan. Pelecehan seksual adalah salah, dan tidak ada justifikasi bagi perilaku semacam itu. tapi sekali lagi saya ingatkan, nona, kita berada di tengah-tengah masyarakat patriarkhis dengan rape culture yang kuat. Dan tidakkah komentar-komentar masyarakat meresahkan nona? Pandangan masyarakat terhadap nona jadi berbatas pada seksualitas nona yang fenomenal. Faktanya, manusia merekam satu hal yang paling menonjol dari manusia lain dan menjadikan hal tersebut sebagai cara untuk mengidentifikasi manusia tersebut. Mungkin nona-nona sekalian sadar dan tidak berkeberatan dengan resiko-resiko ini. mungkin nona-nona sudah siap jiwa, raga, dan pikiran untuk menerimanya. Tidak mengapa, nona. Ini adalah hidup nona, nona yang memutuskan, nona yang menjalani, dan nona sendiri yang harus menanggung resikonya.

Jika nona sudah menyadari penuh dampak dari ‘hiburan’ yang nona lakoni terhadap diri nona sendiri, mari kita bicara mengenai dampaknya diluar diri nona. pernahkah nona-nona merenungi apa dampak dari ‘goyang dribel’ nona terhadap perempuan-perempuan lain? Keputusan nona, harus nona ketahui, memiliki dampak yang tidak sempit. Karena nona membawanya ke ranah publik yang memiliki cakupan luas atau bahkan tidak terbatas.

Ingatkah nona bahwa public figure seringkali digunakan sebagai panutan? Ingatkah nona bahwa apa yang dilakukan oleh public figure seringkali dijadikan sebagai standar yang lalu di generalisasi oleh masyarakat? Apakah nona-nona telah memperhitungkan bagaimana nasib perempuan lain jika seksualitas dan sensualitas nona-nona sampai di jadikan standar untuk menilai seksualitas dan sensualitas perempuan lain? Bagaimana jika seksualitas nona-nona dijadikan dasar bagi pemahaman masyarakat atas seksualitas seorang perempuan? Bagaimana jika ‘goyang dribel’ kalian justru mengukuhkan rape culture yang ada dalam masyarakat? Bagaimana jika dengan nona-nona mempromosikan diri sebagai objek seksual maka perempuan secara umum pun akan dilihat sebagai objek dalam konteks seksual? Dan bagaimana, nona yang manis, jika komodifikasi seksualitas perempuan menjadi sesuatu yang wajar untuk dilakukan oleh masyarakat? Terbayangkah betapa hidup perempuan indonesia, yang sudah disusahkan oleh budaya patriarkhis, akan menjadi lebih susah lagi karena masyarakat akan melihat perempuan sebagai objek dan komoditas, bukannya manusia? duh nona, hati saya pilu hanya dengan membayangkannya saja.

Perlu saya tekankan sekali lagi nona, bahwa sebagai public figure, dampak dari tindakan nona lebih luas dari diri nona dan lingkungan nona semata. Tindakan nona sesungguhnya juga memiliki dampak bagi perempuan-perempuan lain, terutama yang berdomisili di Indonesia. Saya tidak mengatakan bahwa nona merusak moral bangsa dan semacamnya, namun tindakan nona mengukuhkan stigma perempuan sebagai objek seksual di masyarakat. Tindakan nona memberikan gambaran yang melenceng mengenai seksualitas perempuan. Dan hal ini merugikan perempuan secara umum. Sebagaimana industri pornografi selama bertahun-tahun telah mengkonstruksikan hubungan seksual dan mengobjektifikasi perempuan. Apa yang nona-nona lakukan, memperkuat konstruksi tersebut. konstruksi yang sesungguhnya merugikan perempuan baik di ranjang maupun di ranah publik.

Nona-nona manis, pada akhirnya saya harus mengatakan kepada nona, bahwa mengayunkan payudara sembari melakukan lipsync bukan satu-satunya penghidupan yang ada. Masih terdapat banyak mata pencaharian lain yang tidak perlu menjadikan diri nona sebagai objek seksual. Mungkin saya terdengar seperti bocah kemarin sore yang terlalu idealis saat saya mengatakan ini. mungkin nona-nona akan mengatakan bahwa untuk bertahan hidup kita musti pragmatis dan mengesampingkan idealisme-idealisme semacam ini. mungkin, mungkin nona. Ah, siapa saya ini nona, bocah kecil yang masih disokong kedua orang tua. Mungkin esok saya akan melakukan hal yang sama dengan yang nona-nona lakukan, saya tidak tahu. Akan tetapi setidaknya saat ini saya berpendapat bahwa masih ada jalan lain bagi nona untuk menghidupi diri yang tidak perlu merugikan perempuan-perempuan lain dengan penghidupan nona.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Terbuka untuk Duo Serigala

  1. Hi. I agree with the part where it might “strengthen” woman as sexual object, but I don’t quite agree with the rape culture one. Tell men not to rape, you might not intend it to be that way, you’re victim-blaming them. It’s sort of saying that because it’s a place where rape culture is the norm, they have to condemn to it.
    Well, that’s a little unfair. Why not attack the rape culture in the first place?

    Moreover, it takes two to play tango, and it takes not just sensual women on screen to make everyone thinks that it’s women’s nature to be sexualized. The established view plays the part, and I might agree about the strengthen bit, but the society itself should be taken taken the blame too.

    Other than that, blaming public figures responsible for what they do to affect people is also a wee bit unfair. It’s a little too far to take that ONLY this phenomenon could lead to a doomed fate for women in the rest of the country, exactly because you mentioned the existence of this internalized patriarchy and rape culture. They might be one big influence, but they’re still one influence over thousands of things that can effect how people perceive the world. Education, is one of them. I agree that we simply lack on education department, so sure. But blaming figures on screen is akin to blaming knifes and guns for murder, people simply need to be told what’s good/bad or should/shouln’t be done, or how to use one responsibly.

    All in all, I think you are very considerate on putting these phenomenon into words that’s trying not to be misogynistic by acknowledging their rights over their body, though.

    Just my two cents.

    1. yes you are right, it is kind of unfair. but i’m just trying to be pragmatic, that in a society like this, what they do might impact them in such a way. and i’ve said it in the post, that if they are okay with it, then so be it. i’m not saying that women have to condemn to the rape culture, it is wrong, and yes if there is anything i can totally blame, it’s the rape culture. and yes, women and men both should work toward diminishing the rape culture in the society. but meanwhile, there is no harm in protecting ourselves, i think.

      and yes, i do realize that i am exaggerating in that ‘doomed fate’ part. i do have the tendency to exaggerate things, i’m afraid. but again, i’m just trying to be pragmatic. as a public figure they do have some kind of influence on people, and i’m just wishing that they use it more wisely and be more careful about their entertainment content because some people might look up to them.

      anyway, thanks a lot for pointing that out. i do appreciate it. a lot. and it is always nice to know other’s opinion. however, i do realize that my ‘trying to be pragmatic’ isn’t helping, that if i wanted to change the patriarchy and rape culture i should not be too pragmatic. thank you, for making me realize 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s