perkara menyulam rindu ke keliman kemeja-nya

Surat ini tidak memiliki tujuan akhir. Aku hanya ingin melarungkannya ke angkasa agar ia mencicipi kebebasan. Oh tidak, jangan kira aku melepas surat ini mengembara di angkasa untuk bertemu lelaki anginku. Bukan. Aku hanya tidak punya cukup keberanian untuk mendayungnya sampai ke pangkuan laki-laki itu, yang kali ini nyata adanya. Bukan sekedar tokoh fiktif dalam kepalaku yang suka berpura menjadi tukang cerita legendaris seperti Walikilia. Tapi biarlah, biar surat tak bertuan ini mengembara ke angkasa lepas. Biar aku yang pengecut ini bersembunyi dibalik kelambu sembari meracik kata-kata yang tak ingin di-tuan-kan. Biar laki-laki berkemeja hitam (yang selalu ia sebut sebagai jaket) diatas puncak kentheng songo itu bersuka ria dengan hutan-hutannya dan tak perlu tahu bahwa pipi ini bersemu merah untuknya.

Telah lama sejak kali terakhir aku memintal rindu untuk seseorang. Kali terakhir, aku memintalnya dengan hati-hati, sepanjang tahun. Namun urung pula kuserahkan pada sang empunya rindu karena kusadari bahwa ia hanya imajinasi. Ah, tak perlu kudongengkan lagi perkara kekeliruanku itu. semesta telah mengamini.

Sungguh, aku telah lupa bagaimana cara merindu. Ada yang bersajak bahwa rindu layaknya bayang rembulan di tengah danau, mengejek kita dengan bayangnya setiap kali tanpa pernah dapat kita rengkuh hadirnya. Ada yang bercerita bahwa rindu layaknya sembilu yang akan terus memahat bilur di hati kita sepanjang jarak masih membentang. Mana yang benar? Ah, lagi, mungkin perkara merindu ini berbeda bagi semua orang. Mungkin rindu menjelma rembulan bagi sebagian dan sembilu bagi sebagian lainnya. bagiku? Rindu adalah benang-benang kusut yang hanya dapat kuurai dalam hadirmu. Tidak signifikan memang, namun ketika aku dihadapkan dengannya, cukup untuk membuatku frustasi bukan kepalang. Maka aku berusaha memintalnya dengan hati-hati. Agar ia tak perlu kusut lagi. Agar ia dapat membentang dengan rapih mengisi jarak antara aku dan sang empunya rindu.

Namun kala aku merangkai kata-kata yang begitu malu untuk menyisip ke kedua retina seseorang yang sepatutnya menjadi tuannya ini, ku sadari aku pun sedang memintal rindu. Pada laki-laki berkemeja hitam yang berdiri tegap di puncak kentheng songo sembari tersenyum bagai anak kecil yang kesenangan diberi es krim. Meski tipis, dan hanya sejengkalan tangan, namun ini rindu yang sedang kupintal. Dan rindu ini memiliki tuan yang tak dapat kusangkal ke-tuan-annya.

Ah, rindu ini serupa benang. Bertambah panjang tiap kali aku memintalnya. Namun dapatkah aku menyulamkan benang-benang ini ke keliman kemejamu yang selalu kau bantah ke-kemeja-annya dan kau akui sebagai jaket?

Katakan, semesta, atau siapapun yang membaca surat ini, mungkinkah aku menyulam kerinduan dalam keliman kemejanya?

Tertanda,

Perempuan pengecut dibalik kelambu

Advertisements

10 thoughts on “perkara menyulam rindu ke keliman kemeja-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s