manusia yang malih

mari tidak berbicara tentang sesuatu yang bunga-bunga dan muram sendu. mari kita bicara mengenai kemenjadian, alih rupa-nya dan keberartiannya.

kemenjadian seseorang dari sesuatu menjadi sesuatu yang lain, yang sedikit berbeda ataupun sama sekali berbeda, seringkali mengundang kontroversi. beberapa hari yang lalu, saya ‘ditegur’ oleh seseorang mengenai kemenjadian saya. ia gusar dengan saya yang menjadi berbeda dari saya yang lalu yang ia kenal beberapa tahun silam. ya, saya akui. saya memang mengalami alih rupa, alih sikap, alih pola pikir, alih sifat, alih warna. saya malih. dari a menuju b. ia kata itu perubahan, ia kata itu buruk karena saya melupakan siapa saya. saya kata itu perkembangan, saya kata saya bukan melupakan siapa saya sejatinya, karena konsep diri akan selalu berkembang bagi saya. ‘siapa saya’ tidak pernah memiliki standar yang baku dan paten, ‘siapa saya’ akan terus berubah sesuai dengan lingkungan dan persepektif yang saya gunakan. tidak ada suatu apapun yang kekal, segala adalah fana. termasuk identitas diri dan konsep diri yang saya pegang.

mungkin dengan begini saya terlihat seperti tidak memiliki prinsip, sangat pragmatis. tolong coba pikirkan lagi, bukankah itu prinsip saya untuk menjadi begitu cair dan fleksibel? tidak dapatkah itu dikata sebagai sebuah prinsip? saya menolak menjadi sesuatu yang solid yang pakem, saya ingin menjadi sesuatu yang dapat berubah setiap saat. karena saya memegang teguh prinsip bahwa kebenaran tidak pernah mutlak, kebenaran akan selalu berubah dan terbukti keliru tergantung bagaimana kita melihatnya.

dan ya, prinsip itu pun saya akui dapat berubah pula nantinya jika suatu saat saya berkembang kearah lain. manusia berkembang setiap detiknya. mungkin perkembangan saya terasa lebih drastis hingga membuat sekitar saya kaget. seorang sahabat pernah berkata bahwa acapkali saya pulang dari suatu perjalanan, selalu ada sesuatu yang berubah dari diri saya. namun ia bahagia akan perubahan (perkembangan) itu. dan saya pun bahagia.

dulu, ketika saya memejamkan mata dan mencoba menggambarkan isi kepala saya, saya dapat melihat dunia yang sama sekali lain. dimana segala yang magis mendapat eksistensi. dimana rembulan hanya sepotong dan senja tak kunjung benam. dimana dewa-dewi bertenggeran diatas pepohonan dan centaurus berlarian di antara semak basah.

kini, saya memejamkan mata dan segala yang dapat saya lihat adalah benang. benang-benang pikiran yang kusut menuntut untuk dikoneksikan antara satu dengan lainnya hingga membentuk runtutan yang logis.

ya, saya berubah. cara saya berfikir telah berkembang jauh berbeda. drastis. tapi bukan berarti bahwa ‘saya yang dulu’ atau ‘saya yang kini’ salah satunya adalah sejati dan lainnya palsu. tidak. saya hanya berkembang. kemenjadian saya menemukan ‘jadi’ yang lain. sesederhana itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s