a talk with my vagina (rated R, might be uncomfortable to read)

Hai,

Ini aku sayang, bagian dari kamu. Menempel lekat sebagai bagian dari sistem mu yang maha kompleks ini. mendiami salah satu ceruk tubuhmu tanpa pernah dapat kau lepas. Ya, tentu, kau bisa memanipulasi ku, mengubahnya menjadi seperti yang kau mau. tapi aku akan tetap membekas, aku akan tetap ada. menjadi potongan puzzle bagi kemanusiaan.

Aku, kunci dari kemanusiaan, kunci dari eksistensi manusia di muka bumi.

Ini aku, vaginamu. Pintu masuk bagi kehidupan manusia.

Sayang, aku ada disini. Selalu disini. Meski kau tutup-tutupi, kau sangkal keberadaannya, aku tetap disini. Menawarkan padamu sejumput surga jika kau menginginkan. Menjadikanmu sumber kehidupan, jika kau memang menghendaki. Aku ada, dan aku milikmu. Aku tahu aku adalah tabu bagimu. Kamu tidak pernah ingin melihatku, terlebih menyentuhku. Kuakui, rupaku tak melulu indah, pun tidak wangi semerbak. Kadang kala aku begitu buruk rupa hingga kau membenciku. Kau pula mengutukku kala aku mengalirkan darah merah ke celana jins kesayangan-mu.

Aku ada dan tiada bagimu. Aku ada saat kau membutuhkan pelarian sekejap dari rutinitasmu. Namun tiada kala kau tidak membutuhkan. Kau melupakan eksistensiku dibawah sini. beruntung, aku adalah makhluk yang mandiri. Aku dapat membersihkan diriku sendiri, aku dapat menyembuhkan lukaku sendiri. Tidak apa, sayang. Aku dapat mengurus diriku sendiri tanpa perlu engkau ambil pusing.

Kini, saat aku dapat kesempatan untuk berbicara, aku ingin duduk berdua denganmu. Berbincang. Tidak, tentu bukan tentang cuaca hari ini ataupun film terbaru di bioskop. Bukan hal-hal banal seperti itu yang ingin kubincangkan denganmu di kesempatan yang teramat langka ini. aku ingin mengingatkanmu, sayangku. Bahwa bagaimanapun mandirinya aku, tolong turutlah menjagaku. Singkirkan thong-mu, aku ingin beristirahat nyaman dalam celana yang nyaman dan tidak melukaiku. Jangan memaksaku membuka diri untuk penis-penis itu. tahukah kamu bahwa kerapkali aku luka akibat penis tak tahu diri yang menyerobot masuk tanpa melakukan introduksi terlebih dahulu? Hentikan invasi-invasi asing tersebut. aku jengah.

Dan sayang, tolong hargai aku, hormati aku. Jangan kau lempar aku kesana kemari. Karena bukan hanya bibirku yang dapat terluka, namun juga hatimu, ego-mu. tidak ada casual sex, sayangku. Bagimu, tidak ada hubungan kelamin yang berhenti dibawah pinggul. Sentuhan itu menjalar hingga ke jiwa.

Jangan kau lupakan itu.

Tertanda,

vaginamu

sayang,

ini aku. puan-mu. yang memiliki kamu. dan berkewajiban menjagamu. aku sudah baca suratmu, dan aku berhutang maaf padamu. maafkan aku yang seringkali begitu kasar tanpa memikirkan bahwa kamu akan terluka. maafkan aku yang begitu sering mengabaikanmu, menafikkan keberadaanmu. aku yang menganggapmu buruk rupa dan menolak untuk melihatmu, terlebih menyentuhmu. aku terlalu malu, terlalu asing denganmu.

aku tidak mengerti seluk belukmu. adalah tabu bagiku mempelajarimu, tabu bagiku menjelajahi tiap incimu, mempelajari struktur dan teksturmu. aku malu. bahkan menyebut namamu pun aku malu. karena mereka menyebutmu sebagai kemaluan. sesuatu yang harus ku-malu-kan. sesuatu yang malu-malu dan aku harus merasa malu dengan keberadaanmu. aku harus malu jika melakukan sesuatu yang berkaitan denganmu. maafkan, aku telah dikonstruksi sedemikian rupa hingga kau adalah kemaluan bagiku. memalukan.

tapi aku mendengarmu dengan jelas kali ini.

dan aku akan berhenti menyebutmu kemaluan. aku akan belajar mencintaimu. aku akan belajar menjagamu, menghormatimu, menghargai pengorbananmu. kau adalah bagian dariku. kau adalah aku.

dan aku seharusnya mencintaimu.

tertanda,

aku yang malu

terinspirasi dari Vagina Monologues karya Eve Ensler

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s