Jatuh Cinta yang Paling Indah, Terjadi diatas Gunung

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi diatas gunung.

Saat aku dan kamu menatap setapak tanah yang berliku, menanjak, dan menurun dengan curam. Tapi kita berdua tahu bahwa bagaimanapun beratnya, jalan ini dapat kita lalui bersama. Selama jemari kami tetap bertaut, menarik dan menjaga satu sama lain saat kita terperosok maupun tergelincir. Kita berdua tahu perjalanan ini tidak akan mudah, namun kita percaya perjuangan ini layak untuk kita lakukan. Karena pada akhirnya, setiap perjuangan akan terbayar lunas. Baik oleh hamparan padang edelweiss yang sedang mekar ataupun lautan awan yang berarakan dengan gembira dibawah kaki kita. Pun perjuangan hati kita akan terbayar lunas, oleh pelajaran hidup yang akan kita tuai dari langkah kita bersama.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu meluruh kedalam pelukan pepohonan, berusaha menjadi bagian dari kemajestikan alam semesta. Berusaha memberi makna atas setiap langkah yang kita ambil. Berusaha mengenali dan menguasai diri lebih dalam lagi. Setiap langkah, akan menjadi cerita yang baru, berisi pemahaman akan hidup. Kamu akan terlihat beribu kali lebih indah dalam rengkuhan hutan daripada ketika kamu berada dibawah gemerlap lampu kota. Dan aku akan mencintaimu beribu kali lebih dalam.

Jatuh Cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu bersandar dibawah rimbun pepohonan, melepas lelah. Lamunan kita akan melayang, ke masa depan yang menanti kita bersama. Kita akan mengerti arti penting sebuah komitmen. Karena tanpa komitmen yang kuat pada diri, kita tidak akan pernah mencapai puncak. Begitu pun dalam hubungan kita, tanpa komitmen yang kuat pada diri sendiri dan pasangan, kita tidak akan pernah mencapai masa depan yang kita rancang bersama. Pun kita juga akan berusaha untuk ikhlas dan rela ketika semuanya harus berakhir ditengah jalan. Karena gunung juga telah mengajarkan pada kita bahwa seringkali semesta memiliki kehendak lain yang tidak sejalan dengan keinginan kita dan kita tak dapat mengubahnya atau melawan putusannya. Kita akan mengerti, bahwa usaha dan persistensi dibutuhkan dalam perjalanan. Akan tetapi segala ambisi tersebut harus diimbangi dengan kerelaan dan sikap berserah karena terdapat variabel penentu lain selain diri kita. Keseimbangan menjadi prinsip penting dalam tiap perjalanan kita. Baik perjalanan dunia maupun perjalanan hati.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu duduk bersama, memandangi hamparan langit kelam berbintang. Kita akan terbawa syahdunya sinar keperakan rembulan dan bercerita mengenai segala kecamuk dalam diri. Ah magis malam memang selalu berkali lipat kala kita menghabiskannya di atas gunung. Dingin angin dan sayup suara serangga akan membius kita. Merasa terhubung dan satu. Kita akan mencoba mengisi ruang hampa di antara kita dengan bahasa. Mencoba memahami satu sama lain melalui tutur kata dan dongeng-dongeng. Dan kita akan jatuh cinta, pada tawa dan sendu yang kita bagi bersama. Hingga tak terasa malam mulai pudar, memanggil kita untuk menelisip kedalam kantong tidur dan mengucapkan selamat malam.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu menapakkan kaki untuk pertama kalinya dititik tertinggi gunung. Saat kita lebur dalam kebahagiaan dan tak segan menitikkan air mata dihadapan alam yang begitu megah. Sinar pertama mentari akan menimpa sebagian wajahmu, menyinarimu dengan cahaya keemasannya. Dan kita akan jatuh cinta lebih dalam, lebih tergesa. Kita akan menyadari betapa rapuhnya kita dan segala emosi jiwa ini. betapa tidak berartinya kita dihadapan semesta. Dan apalagi yang dapat kita lakukan selain menikmati tiap detik yang mengalir rapuh ini, kasih?

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu berjalan beriringan di setapak yang rimbun. Kita akan menjadi seorang yang mampu menjaga jarak yang tepat. Karena diatas gunung, tanpa jarak yang tepat kita akan berakhir mencelakai satu sama lain. Kekasihku dan aku akan tahu benar akan hal itu, maka kita akan menjadi seorang yang pandai menjaga jarak. Memberi spasi. Menanam kerinduan. Dan aku akan mencintainya lebih lagi karena hal itu. kekasihku pun akan mengerti bahwa ia tidak akan pernah benar-benar memiliki dan menguasai apapun selain dirinya sendiri, karena gunung telah mengajarkan hal itu padanya dengan keras. Pun hatiku bukan sesuatu yang dapat ia miliki seutuhnya, karena sebagian besar hatiku akan selalu dikuasai oleh alam dan semesta yang begitu luas. Dan begitupun hatinya, tidak akan pernah dapat kumiliki seutuhnya.

Jatuh Cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat kabut tipis turun perlahan-lahan, mengaburkan pandang. Dan kita harus berjalan perlahan, tertatih. Namun semua terasa ringan dengan jemari kita yang tertaut. Kita tahu bahwa kita tidak sendiri, dan kita ada untuk satu sama lain. Meski segala dibalik kabut merupa ketidak pastian, namun kita akan berani menghadapinya. Berkali lipat lebih berani. Dan bukankah dalam hidup pula kabut sering turun? Mengaburkan masa depan, membuat kita merasa bahwa masa depan kita suram. Dan bukankah akan lebih mudah menghadapi ketidak pastian hidup bersama seseorang yang pasti mencintaimu?

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung

Saat aku dan kamu menatap ke kedalaman mata satu sama lain, tertawa, dan bersyukur kita telah jatuh cinta diatas gunung. Bersyukur, kita telah menemukan jatuh cinta yang paling indah.

artikel ini telah dipublish di Hipwee pada 23 Maret lalu, namun dengan cukup banyak suntingan disana-sini. Saya jauh lebih menyukai karya asli saya dibandingkan dengan yang telah disunting oleh Hipwee maka saya mempublish karya ini lagi disini. Berikut tautan ke artikel saya di Hipwee:

http://www.hipwee.com/daripembaca/kepadamu-gunung-yang-pernah-kita-daki-bersama-terima-kasih-telah-membuatku-jatuh-cinta/

Foto diambil oleh Siti Sulastri

Advertisements

Menjelma Punakawan, Mengarungi Arus Bawah

Hari ini, saya sampai pada titik terakhir yang menutup rangkai kata dalam buku Arus Bawah karangan Cak Nun. Saya menutup buku itu dengan perlahan, dengan sebuah perasaan yang sungguh tidak dapat saya gambarkan. Cak Nun telah membawa saya mengarungi sebuah kisah, sebuah dialog yang begitu sarat makna. Dan disinilah saya, perlahan membuang napas. Entah harus merasa bagaimana. Entah harus berfikir bagaimana. Hanya dapat diam, meski sejurus kemudian bagai kesetanan saya mengetikkan tulisan ini di laman word kosong.

Segalanya bermula dari hilangnya Kiai Semar. Kehilangan menjadi katalis, yang memaksa Gareng, Petruk dan Bagong untuk resah. Semakin resah akan situasi Karang Kedempel. Semakin resah akan sistem kekuasaan dan hubungan sosial kemasyarakatan di Karang Kedempel. Ketiga punakawan kita itu (sebenarnya hanya Gareng) mempertanyakan kemana hilangnya Kiai Semar, mengapa Kiai Semar menghilang, padahal misi mereka di Karang Kedempel jauh dari selesai. Keresahan yang berawal semata hanya dari fenomena hilangnya Kiai Semar, lalu merembet menjadi persoalan yang lebih filosofis, lebih politis.

Ah sudah, saya takut malah spoiler.

Arus Bawah merupakan kritik yang sangat pintar dan puitis akan pemerintahan. Penggunaan keempat punakawan sebagai karakter utama menurut saya adalah langkah yang sangat cerdik. Punakawan, dalam wayang, adalah kemlengsean. Punakawan adalah tokoh gubahan dalang yang keluar dari pakem yang telah ada dalam epos Mahabharata maupun Ramayana. Mereka dapat dinobatkan sebagai agen perubahan, karena mereka sendiri adalah perubahan. Untuk itu pula lah keempat punakawan ini diturunkan ke marcapada; untuk menjadi alternatif, membawa perubahan bagi marcapada yang terlanjur larut dalam pakem enggan untuk berubah maupun berkembang.

Dan bukankah kita memang butuh perubahan ini? Bukankah kita memang butuh punakawan yang turun dari jonggring saloka semata untuk menampar wajah kita yang melulu cengangas cengenges cekakak cekikik menganggap segalanya sebagai guyonan? Atau untuk menempeleng kepala kita yang hanya inggah inggih menurut pada penguasa tanpa menganalisa kebijakan penguasa tersebut terlebih dahulu?

Kini, saya melihat beberapa punakawan mulai bergerak. Sebut saja Andri Rizki Putra. Punakawan di bidang pendidikan. Ia bergerak dari tingkat paling mendasar, tingkat akar rumput. Untuk mendidik dan menciptakan generasi pemimpin yang baru, yang tidak harus ternodai oleh dunia pendidikan di Indonesia yang kerap kali melakukan praktik kotor. Sebut saja Gamal Albinsaid. Punakawan di bidang kesehatan dan lingkungan hidup. Ia mendirikan Klinik Asuransi Sampah yang menukar jasa kesehatan primer dengan sampah.

Sungguh, telah kita lihat punakawan-punakawan ini yang bergerilya merubah pakem-pakem yang telah ada di kepala kita. Merubah gerak kita yang sering kali hanya keatas. Padahal, seperti nasihat Kiai Semar kepada Gareng dalam buku ‘Arus Bawah’;

“Perubahan harus dilakukan dari bawah dan tidak dengan kekerasan. Ada beratus segi yang diperlukan dalam perubahan, bukan sekadar moral politik seorang pemimpin. Kalau segi-segi yang bermacam-macam itu tak berubah, siapa pun yang menjadi pemimpin, akan kembali menjadi Raja seperti yang kamu protes itu”

Gerak keatas kita tidak akan dapat merubah banyak hal, karena masalah-masalah yang sejati berada di tingkat dasar. Masalah-masalah yang sejati terletak dalam mentalitas dan perspektif masyarakat sendiri. Maka, kita butuh gerak ke bawah. Kita membutuhkan arus bawah dan punakawan-punakawan yang tabah.

Dua Pucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Batara Guru,

Ini adalah surat kedua yang saya layangkan ke haribaanMu. surat kedua yang saya kirimkan hanya untuk terbengkalai di pangkuan Engkau yang telah membangkai. Engkau, yang dahulu begitu dewata, begitu emas permata. kini tak lebih dari sekadar tulang-belulang dengan sejumput daging busuk di sana-sini, bergelantungan di rangka-rangkamu. RangkaMu yang dulu begitu megah berbalut kearifan, kesantunan, keluhuran budaya. ah, kini Engkau telah tewas, mangkat, modar. dan kami sendiri lah yang telah membunuhMu, membunuh ke-adiluhung-anMu. Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!* Dulu kita bersorak gempita mengabarkan kematian Engkau. DarahMu menjadi noktah abadi di tangan dan jiwa kami.

Batara Guru,

Engkau mungkin telah lama mati, Engkau mungkin telah berupa seonggok bangkai bau tak berarti. Namun pada suatu masa yang silam, yang lampau, Engkau pernah menjadi kiblat kemana kami melangkah. Engkau pernah menjadi cahaya yang mengisi bejana-bejana di rumah kami. Dan kini saya kembali menghadapMu. Bicara pada bangkaiMu yang sungguh memuakkan. Namun kepada siapa lagi dapat saya kirimkan surat penghantar keresahan ini selain padaMu? Engkau telah mati, mangkat, modar, namun biarlah bangkaiMu jadi tempat saya menuang resah yang telah lama kutampung dalam belanga langu ini. Meski saya harus bicara pada bangkai, tak ubahnya pesakitan.

Batara Guru,

Resah ini menggugat meminta digubah jadi gerak juang. Resah ini menggugat dengan begitu hebat dan ia sambat. Sambat pada modernisasi yang meleburkan nilai. Sambat pada zaman yang gemar sekali mencumbu ambigu. Sambat pada kami, manusia-manusia yang menitah ragu menjadi tumpu. Sambat pada merah gincu yang merah bukan alang kepalang sedang juang kami tak kunjung memerah marah. Resahku ini sambat tak tahu aturan. Namun ia pula tak tahu jalan mana yang dapat ditempuh agar redam atau malih jadi aksi.

Batara Guru,

Dahulu para pendongeng berkisah tentang pandita-pandita yang membawa kearifan alam ke hadapan manusia yang congkak. kemanakah kini para pandita itu? Sudahkah mereka memasuki gorong-gorong konsumerisme yang menghantar mereka tepat ke mulut raksasa kapital yang menganga lebar siap menelan seisi dunia? Apakah mereka kini menjelma pandita korporasi yang menjajakan kearifan di televisi? padahal televisi tak pernah peduli pada apa yang arif, apa yang luhur dan mulia. Televisi hanya peduli grafik rating tanpa pernah mau tahu perubahan apa yang telah mereka torehkan di masyarakat.

Batara Guru,

Saya pun gamang mencari kearifan yang syahdan terselip dalam sela-sela diantara rintik air hujan. tersemat dalam senyap diantara rentet kata. Tertatah dalam jiwa yang tak jemu menempa kehidupan. Saya gamang. Kearifan yang dikisahkan begitu sakti mandraguna nyatanya tak kunjung saya temukan. Hingga jengah saya memungut serpih jawab dari tanya yang kulempar pada semesta. namun tak pula kutemukan kebenaran yang paling pakem.

Batara Guru,

Haruskah saya berhenti melempar tanya agar resah tak melulu menggugat? Saya yakin kamu akan melarangku pensiun bertanya. Karena tanpa tanya, saya tak ubahnya binatang. Menerima segala sesuatu sebagai keniscayaan. Sedangkan bahkan engkau, Batara Guru, Raja yang Maha Diraja, Putra dari Sang Hyang Tunggal, ayah dari para dewata, yang begitu sakti mandraguna, tak dapat menjadi satu yang niscaya.

Lalu apakah yang niscaya di dunia yang maya ini? Ketiadaan. Ketiadaan yang niscaya.

*Frasa terkenal dari Nietzsche

(Surat pertama dapat ditilik disini)

Strategi Menjalani Hidup: Jadilah Sombong

sudah beberapa waktu belakangan saya berfikir bahwa kesombongan itu kadangkala diperlukan. kesombongan yang memotori kita untuk berkarya. kita berkarya untuk sombong dan pamer kan? bukan untuk dinikmati sendiri kan? jujur saya iya. saya menulis tidak hanya disimpan di draft, saya mem-publish nya di blog. kenapa? karena saya mau pamerkan tulisan dan pemikiran saya. sesederhana itu. sebrengsek itu. sesombong itu.

coba kalau semua orang tidak mau sombong, apa ada karya yang dipublikasikan? para pelukis tidak mau memperlihatkan lukisannya karena tidak mau sombong. para penulis juga menikmati tulisannya sendiri karena tidak mau sombong. berbagi membutuhkan suatu kadar kesombongan tertentu. karena ketika kamu berbagi berarti kamu menganggap apa yang kamu bagi adalah sesuatu yang lebih baik dan harus diketahui atau dinikmati oleh orang lain kan? apakah itu bukan sebuah bentuk kesombongan?

entahlah, mungkin sombong yang saya pahami salah. namun menurut saya kesombongan memang diperlukan.

kesombongan pula yang mampu menarik kita dari kubangan “saya tidak cukup”. ketika kamu gagal dan terjatuh, rasa sombong mampu menarikmu kembali. karena ketika kamu begitu sombong, kamu akan merasa bahwa kegagalanmu bukan disebabkan oleh keburukanmu akan tetapi karena orang lain belum mampu melihat atau menerima kehebatanmu. seperti yang dialami oleh Dee Lestari saat cerpennya bahkan tidak lolos ke babak semi-final dalam suatu perlombaan. Rasa sombong yang membuat dia bertahan dan tidak berhenti menulis.

kesombongan memberi ruang bagi saya agar tidak melulu mengkritik dir sendiri. begini duduk perkaranya: saya adalah pengkritik paling kejam dan tak tahu aturan bagi diri saya sendiri. ketika mengkritik orang lain, saya mampu memperhalusnya, memolesnya sedemikian rupa sehingga tidak terasa terlalu kasar. namun dengan diri sendiri? mana mampu saya mengelabui dan memoles kritikan bagi diri sendiri? ini sungguh buruk. saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengkritisi diri saya dan apa yang saya lakukan. ketika sudah begini, maka saya akan berakhir dalam kubang kelam dan merasa “tidak cukup” bagi dunia. saya menjadi tidak produktif dan hanya bisa mengeluhkan diri sendiri. sungguh, sulit sekali menarik diri keluar dari kubangan seperti itu. kamu akan terlalu takut berhadapan dengan dunia, takut tidak memenuhi ekspektasi mereka akan dirimu.

disinilah saya membutuhkan kesombongan itu. saya butuh merasa lebih baik dari beberapa orang lain agar saya tidak terus menerus dikungkung rasa “saya tidak cukup”. saya butuh merasa bahwa saya sebenarnya memiliki kehebatan yang tidak dimiliki oleh orang lain sehingga keberadaan saya masih relevan di bumi ini. saya butuh untuk percaya bahwa saya ini cukup penting untuk ada.

apakah saya salah memaknai kesombongan dengan rasa percaya diri? ataukah memang keduanya berkaitan erat? apakah memang dibutuhkan segenggam kesombongan agar kita dapat percaya pada diri sendiri?

mungkin memang begitu. namun satu hal yang dapat saya amini dengan tegas dan saya ucapkan dengan bangga: saya ini sombong.

Tong Kosong Cempreng Bunyinya

sebelumnya saya harus meminta maaf kalau post kali ini terdengar seperti curhatan labil anak muda yang sama sekali tidak ada unsur estetika-nya. maaf.

hari ini saya ditampar. berkali-kali. oleh Cak Nun melalui tulisannya. satu hal yang lalu memukul saya telak dengan sebuah kesadaran; bahwasanya saya adalah seorang pseudo-intellectual. ya. orang yang berusaha terlihat intelek padahal dalamnya kosong melompong. orang yang bicara a-z mengenai bagaimana seharusnya perjuangan dilakukan tanpa pernah sendirinya memperjuangkan sesuatu. orang-orang yang berusaha mempercayai bahwa dirinya cerdas padahal hanya mengamini apa yang dikatakan oleh orang lain.

tong kosong berbunyi nyaring, itulah saya.

begitu sombong dan merasa segalanya. oh, saya yang paling oke! saya yang paling top! padahal apa? saya tidak lebih dari domba-domba yang sedang digembala. merasa sedang melakukan dekonstruksi diri, padahal saya hanya membunuh kepercayaan diri. hanya menjadi sinis pada nurani.

“Remember, you cannot be both young and wise. Young people who pretend to be wise to the ways of the world are mostly just cynics.”

– Stephen Colbert

ya. bertahun saya mencoba menjadi seorang bijak. menjadi seorang yang lebih bijak dalam menjalani hidup. mengambil segala keputusan dengan bijak dan rasional. bijak. bijak. i’m aspiring to be wise. i want to be wiser. i need to be wiser. saya memunguti kata perkata, mencari kebijaksanaan didalamnya. berusaha memaknai segalanya dengan lebih bijak. tapi toh nyatanya saya hanya berakhir sebagai seorang yang sinis. hanya berakhir memandang segalanya dengan skeptis dan sinis. saya tidak bisa menjadi muda dan bijak. maka saya menjadi muda dan sinis namun menganggap kesinisan saya sebagai kebijaksanaan. duh.

kesinisan saya ini yang membawa saya pada proses dekonstruksi segala hal. saya sinis dan skeptis sehingga saya mencoba membedah segalanya hingga menjadi bagian yang kecil, teramat kecil. teramat parsial. namun toh proses dekonstruksi ini semakin membuat saya tidak dapat melihat gambaran besarnya. bagaimana satu hal terhubung dengan hal lain sedemikian rupa. saya menjadi begitu parsial.

dekonstruksi ini, sangat berlawanan dengan proses self-improvement. karena dekonstruksi justru memecah manusia menjadi bagian-bagian kecil yang cacat. bagaimana mengembangkan sebuah ‘diri’ jika ‘diri’ itu serupa potongan puzzle yang enggan menyatu, tak tahu cara menyatu menjadi ‘diri’ yang utuh?

pada akhirnya, saya sadari ocehan saya ini pula merupakan upaya dekonstruksi diri seorang  pseudo-intellect yang mengira dirinya cukup cerdas untuk menelaah diri.

Manusia-Manusia Lubang Hitam

di tempat tertentu manusia telah tiba pada tingkat rabun dan kehampaan pikiran yang sedemikian rupa

– Emha Ainun Najib, Sedang Tuhan Pun Cemburu

berapa dari kita yang merasa menghabiskan harinya dalam kehampaan? tidak benar-benar memahami suatu apapun yang ada di bumi. tidak benar-benar memahami untuk apa manusia ada dan bernafas dan bergerak. kita hampa. mencari berbagai penghiburan dan kesenangan demi mengisi kekosongan yang tak terjawab dalam dada.

kita serupa lubang hitam. menghisap seluruh isi dunia. mengkonsumsi segala hingga tandas, tanpa pernah merasa terisi. tanpa pernah merasa utuh.

Why are we so scattered and incomplete?

mencari pemenuhan diri, namun seluruh isi dunia tidak dapat memenuhi lubang hitam yang kita biarkan menganga di dada kita. kita berusaha mencarinya di berbagai tempat; diskotek, mal-mal dan pusat perbelanjaan, ruang meditasi, rumah ibadah, hingga hutan belantara. kita mencarinya dalam deret aksara, dalam bayang maya public figure, dalam pantulan diri di cermin. dan yang terakhir, paling mutakhir, kita mencarinya dalam kutipan manis dari siapapun yang dikemas dalam gambar apik berlatarkan segala yang indah.

sudahkah kau temukan esensi diri? das ding an sich-mu?

kita akan terus bertanya, mencari, dan terjatuh dalam depresi. katanya, kebahagiaan berada di tangan kita, maka depresi pun berada dalam kuasa kita. namun hampa itu diluar kuasa kita, ‘kan? hampa yang menghantar kita ke kubang biru depresi?

apakah seperti yang diutarakan oleh Cak Nun, kehampaan pikiran ini adalah akibat dari modernisasi? bahwa manusia zaman dulu tidak menghadapi kehampaan seperti ini? manusia zaman pra-modern bukanlah manusia-manusia lubang hitam seperti kita? tapi dapatkah kita menyalahkan modernisasi untuk ini? dapatkah kita menyalahkan pendidikan yang semakin berkembang untuk lubang hitam yang menganga ini? untuk kulit-kulit pucat bernoda biru yang kita kenakan ini?

Kalau hidup mampu membalas surat yang kukirimkan dengan lancang padanya beberapa waktu lalu, mungkin lubang hitam di dadaku tidak akan selebar ini, serakus ini.

Tuhan dalam Bejana

Saya telah menghabiskan setidaknya tiga tahun terakhir dalam hidup saya mencari berbagai negasi atas eksistensi Tuhan. Saya menolak untuk percaya. Namun tidak dengan kenetralan dan kacamata yang imparsial. Nyatanya saya bukan mencari ‘kebenaran’ namun saya hanya mencari argumen pendukung bagi penolakan saya atas Tuhan. Saya menolak membaca buku-buku relijius karena saya sudah duluan mencapnya sebagai sesuatu yang dogmatis dan mengkotak-kotakkan antar agama. Saya sudah duluan menolak segala yang berbau agama. Bahkan saya menolak berdiskusi mengenai agama. Saya berdalih bahwa agama adalah hak prerogatif setiap manusia. dan tidak butuh diperbincangkan, apalagi didiskusikan.

Namun kalau saya benar-benar jujur, saya menolak bicara agama bukan karena alasan diatas. Saya semata menolak karena takut lawan bicara saya akan bicara sesuatu yang saya benarkan dan menggoyahkan fondasi penolakan saya akan Tuhan.

Saya munafik. Bicara tentang betapa kebenaran tidak pernah mutlak. Akan tetapi saya sendiri memutlakan diri untuk menolak keberadaan Tuhan dan keabsahan agama. Saya menolak pergi ke masjid, gereja, atau rumah peribadatan lainnya. kenapa? Karena saya malu akan diri saya yang begitu sombong. Karena saya pikir yang diomongkan oleh para pengkhotbah segalanya adalah doktrin dan saya yang merasa dikaruniai akal ini menolak untuk didoktrin. Tapi saya mengeneralisir terlalu jauh. Saya salah. Tidak semua pengkhotbah mengajarkan dogma dan menolak akal. Beberapa pengkhotbah meski agamis totok namun tetap memegang teguh akal. Saya sombong, menolak mendengar pendapat para pengkhotbah karena sudah memutlakan penolakan terhadap sesuatu yang sungguh abstrak seperti Tuhan. Atau mungkin, saya sekedar takut diri saya yang teramat rapuh pondasinya ini akan termakan doktrin pengkhotbah? Mungkin.

Pemahaman saya kini tidak sampai kemana-mana. Karena saya terlalu sibuk menegasikan Tuhan hingga lupa mencari keberadaannya. Mungkin memang Tuhan ada. Namun kita meletakkannya dalam bejana yang berbeda-beda. Dan bejana itu kita simpan pula dalam koridor yang berbeda-beda. Kita semua memanfaatkan Tuhan, hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana islam dan menaruhnya dalam koridor ‘ketakutan’ dimana Tuhan menjadi Sang Maha Penghukum. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana Kristen namun menaruhnya dalam koridor ‘penghibur lara’ dimana Tuhan menjadi semata tempat mengadu. Ada pula yang menaruh Tuhan dalam bejana Hindu dan menyebarnya ke koridor mana-mana dimana Tuhan menjadi penghukum, penyayang, penghibur lara, pemberi penghidupan dan segalanya. Menurut pemahaman saya kini, inipun tidak salah. Semua melakukan apa yang mereka butuhkan. Mereka butuh untuk menaruh Tuhan dimana?

Saya belum menemukan bejana yang tepat untuk menaruh Tuhan saya. Apalagi menaruhnya di koridor mana. Sungguh, saya ingin dapat bersandar pada sesuatu yang lebih besar dari saya, namun Ia terlalu abstrak untuk saya golongkan kedalam sebuah bejana saja. sungguh saya ingin memanfaatkan Tuhan, namun saya masih merasa terlalu nihil untuk memanfaatkan sesuatu yang katanya Maha Segalanya.

Dan kini saya mengerti alasan dibalik kenihilan saya yang menjangkit tak kunjung terobati ini; saya terlalu sibuk menegasi Tuhan tanpa pernah mau mencari serpihnya dengan sungguh-sungguh.