Tuhan dalam Bejana

Saya telah menghabiskan setidaknya tiga tahun terakhir dalam hidup saya mencari berbagai negasi atas eksistensi Tuhan. Saya menolak untuk percaya. Namun tidak dengan kenetralan dan kacamata yang imparsial. Nyatanya saya bukan mencari ‘kebenaran’ namun saya hanya mencari argumen pendukung bagi penolakan saya atas Tuhan. Saya menolak membaca buku-buku relijius karena saya sudah duluan mencapnya sebagai sesuatu yang dogmatis dan mengkotak-kotakkan antar agama. Saya sudah duluan menolak segala yang berbau agama. Bahkan saya menolak berdiskusi mengenai agama. Saya berdalih bahwa agama adalah hak prerogatif setiap manusia. dan tidak butuh diperbincangkan, apalagi didiskusikan.

Namun kalau saya benar-benar jujur, saya menolak bicara agama bukan karena alasan diatas. Saya semata menolak karena takut lawan bicara saya akan bicara sesuatu yang saya benarkan dan menggoyahkan fondasi penolakan saya akan Tuhan.

Saya munafik. Bicara tentang betapa kebenaran tidak pernah mutlak. Akan tetapi saya sendiri memutlakan diri untuk menolak keberadaan Tuhan dan keabsahan agama. Saya menolak pergi ke masjid, gereja, atau rumah peribadatan lainnya. kenapa? Karena saya malu akan diri saya yang begitu sombong. Karena saya pikir yang diomongkan oleh para pengkhotbah segalanya adalah doktrin dan saya yang merasa dikaruniai akal ini menolak untuk didoktrin. Tapi saya mengeneralisir terlalu jauh. Saya salah. Tidak semua pengkhotbah mengajarkan dogma dan menolak akal. Beberapa pengkhotbah meski agamis totok namun tetap memegang teguh akal. Saya sombong, menolak mendengar pendapat para pengkhotbah karena sudah memutlakan penolakan terhadap sesuatu yang sungguh abstrak seperti Tuhan. Atau mungkin, saya sekedar takut diri saya yang teramat rapuh pondasinya ini akan termakan doktrin pengkhotbah? Mungkin.

Pemahaman saya kini tidak sampai kemana-mana. Karena saya terlalu sibuk menegasikan Tuhan hingga lupa mencari keberadaannya. Mungkin memang Tuhan ada. Namun kita meletakkannya dalam bejana yang berbeda-beda. Dan bejana itu kita simpan pula dalam koridor yang berbeda-beda. Kita semua memanfaatkan Tuhan, hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana islam dan menaruhnya dalam koridor ‘ketakutan’ dimana Tuhan menjadi Sang Maha Penghukum. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana Kristen namun menaruhnya dalam koridor ‘penghibur lara’ dimana Tuhan menjadi semata tempat mengadu. Ada pula yang menaruh Tuhan dalam bejana Hindu dan menyebarnya ke koridor mana-mana dimana Tuhan menjadi penghukum, penyayang, penghibur lara, pemberi penghidupan dan segalanya. Menurut pemahaman saya kini, inipun tidak salah. Semua melakukan apa yang mereka butuhkan. Mereka butuh untuk menaruh Tuhan dimana?

Saya belum menemukan bejana yang tepat untuk menaruh Tuhan saya. Apalagi menaruhnya di koridor mana. Sungguh, saya ingin dapat bersandar pada sesuatu yang lebih besar dari saya, namun Ia terlalu abstrak untuk saya golongkan kedalam sebuah bejana saja. sungguh saya ingin memanfaatkan Tuhan, namun saya masih merasa terlalu nihil untuk memanfaatkan sesuatu yang katanya Maha Segalanya.

Dan kini saya mengerti alasan dibalik kenihilan saya yang menjangkit tak kunjung terobati ini; saya terlalu sibuk menegasi Tuhan tanpa pernah mau mencari serpihnya dengan sungguh-sungguh.

Advertisements

2 thoughts on “Tuhan dalam Bejana

  1. “Namun kalau saya benar-benar jujur, saya menolak bicara agama bukan karena alasan diatas. Saya semata menolak karena takut lawan bicara saya akan bicara sesuatu yang saya benarkan dan menggoyahkan fondasi penolakan saya akan Tuhan.” yang bagian itu. semacam saya juga begitu. haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s