Manusia-Manusia Lubang Hitam

di tempat tertentu manusia telah tiba pada tingkat rabun dan kehampaan pikiran yang sedemikian rupa

– Emha Ainun Najib, Sedang Tuhan Pun Cemburu

berapa dari kita yang merasa menghabiskan harinya dalam kehampaan? tidak benar-benar memahami suatu apapun yang ada di bumi. tidak benar-benar memahami untuk apa manusia ada dan bernafas dan bergerak. kita hampa. mencari berbagai penghiburan dan kesenangan demi mengisi kekosongan yang tak terjawab dalam dada.

kita serupa lubang hitam. menghisap seluruh isi dunia. mengkonsumsi segala hingga tandas, tanpa pernah merasa terisi. tanpa pernah merasa utuh.

Why are we so scattered and incomplete?

mencari pemenuhan diri, namun seluruh isi dunia tidak dapat memenuhi lubang hitam yang kita biarkan menganga di dada kita. kita berusaha mencarinya di berbagai tempat; diskotek, mal-mal dan pusat perbelanjaan, ruang meditasi, rumah ibadah, hingga hutan belantara. kita mencarinya dalam deret aksara, dalam bayang maya public figure, dalam pantulan diri di cermin. dan yang terakhir, paling mutakhir, kita mencarinya dalam kutipan manis dari siapapun yang dikemas dalam gambar apik berlatarkan segala yang indah.

sudahkah kau temukan esensi diri? das ding an sich-mu?

kita akan terus bertanya, mencari, dan terjatuh dalam depresi. katanya, kebahagiaan berada di tangan kita, maka depresi pun berada dalam kuasa kita. namun hampa itu diluar kuasa kita, ‘kan? hampa yang menghantar kita ke kubang biru depresi?

apakah seperti yang diutarakan oleh Cak Nun, kehampaan pikiran ini adalah akibat dari modernisasi? bahwa manusia zaman dulu tidak menghadapi kehampaan seperti ini? manusia zaman pra-modern bukanlah manusia-manusia lubang hitam seperti kita? tapi dapatkah kita menyalahkan modernisasi untuk ini? dapatkah kita menyalahkan pendidikan yang semakin berkembang untuk lubang hitam yang menganga ini? untuk kulit-kulit pucat bernoda biru yang kita kenakan ini?

Kalau hidup mampu membalas surat yang kukirimkan dengan lancang padanya beberapa waktu lalu, mungkin lubang hitam di dadaku tidak akan selebar ini, serakus ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s