Tong Kosong Cempreng Bunyinya

sebelumnya saya harus meminta maaf kalau post kali ini terdengar seperti curhatan labil anak muda yang sama sekali tidak ada unsur estetika-nya. maaf.

hari ini saya ditampar. berkali-kali. oleh Cak Nun melalui tulisannya. satu hal yang lalu memukul saya telak dengan sebuah kesadaran; bahwasanya saya adalah seorang pseudo-intellectual. ya. orang yang berusaha terlihat intelek padahal dalamnya kosong melompong. orang yang bicara a-z mengenai bagaimana seharusnya perjuangan dilakukan tanpa pernah sendirinya memperjuangkan sesuatu. orang-orang yang berusaha mempercayai bahwa dirinya cerdas padahal hanya mengamini apa yang dikatakan oleh orang lain.

tong kosong berbunyi nyaring, itulah saya.

begitu sombong dan merasa segalanya. oh, saya yang paling oke! saya yang paling top! padahal apa? saya tidak lebih dari domba-domba yang sedang digembala. merasa sedang melakukan dekonstruksi diri, padahal saya hanya membunuh kepercayaan diri. hanya menjadi sinis pada nurani.

“Remember, you cannot be both young and wise. Young people who pretend to be wise to the ways of the world are mostly just cynics.”

– Stephen Colbert

ya. bertahun saya mencoba menjadi seorang bijak. menjadi seorang yang lebih bijak dalam menjalani hidup. mengambil segala keputusan dengan bijak dan rasional. bijak. bijak. i’m aspiring to be wise. i want to be wiser. i need to be wiser. saya memunguti kata perkata, mencari kebijaksanaan didalamnya. berusaha memaknai segalanya dengan lebih bijak. tapi toh nyatanya saya hanya berakhir sebagai seorang yang sinis. hanya berakhir memandang segalanya dengan skeptis dan sinis. saya tidak bisa menjadi muda dan bijak. maka saya menjadi muda dan sinis namun menganggap kesinisan saya sebagai kebijaksanaan. duh.

kesinisan saya ini yang membawa saya pada proses dekonstruksi segala hal. saya sinis dan skeptis sehingga saya mencoba membedah segalanya hingga menjadi bagian yang kecil, teramat kecil. teramat parsial. namun toh proses dekonstruksi ini semakin membuat saya tidak dapat melihat gambaran besarnya. bagaimana satu hal terhubung dengan hal lain sedemikian rupa. saya menjadi begitu parsial.

dekonstruksi ini, sangat berlawanan dengan proses self-improvement. karena dekonstruksi justru memecah manusia menjadi bagian-bagian kecil yang cacat. bagaimana mengembangkan sebuah ‘diri’ jika ‘diri’ itu serupa potongan puzzle yang enggan menyatu, tak tahu cara menyatu menjadi ‘diri’ yang utuh?

pada akhirnya, saya sadari ocehan saya ini pula merupakan upaya dekonstruksi diri seorang  pseudo-intellect yang mengira dirinya cukup cerdas untuk menelaah diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s