Strategi Menjalani Hidup: Jadilah Sombong

sudah beberapa waktu belakangan saya berfikir bahwa kesombongan itu kadangkala diperlukan. kesombongan yang memotori kita untuk berkarya. kita berkarya untuk sombong dan pamer kan? bukan untuk dinikmati sendiri kan? jujur saya iya. saya menulis tidak hanya disimpan di draft, saya mem-publish nya di blog. kenapa? karena saya mau pamerkan tulisan dan pemikiran saya. sesederhana itu. sebrengsek itu. sesombong itu.

coba kalau semua orang tidak mau sombong, apa ada karya yang dipublikasikan? para pelukis tidak mau memperlihatkan lukisannya karena tidak mau sombong. para penulis juga menikmati tulisannya sendiri karena tidak mau sombong. berbagi membutuhkan suatu kadar kesombongan tertentu. karena ketika kamu berbagi berarti kamu menganggap apa yang kamu bagi adalah sesuatu yang lebih baik dan harus diketahui atau dinikmati oleh orang lain kan? apakah itu bukan sebuah bentuk kesombongan?

entahlah, mungkin sombong yang saya pahami salah. namun menurut saya kesombongan memang diperlukan.

kesombongan pula yang mampu menarik kita dari kubangan “saya tidak cukup”. ketika kamu gagal dan terjatuh, rasa sombong mampu menarikmu kembali. karena ketika kamu begitu sombong, kamu akan merasa bahwa kegagalanmu bukan disebabkan oleh keburukanmu akan tetapi karena orang lain belum mampu melihat atau menerima kehebatanmu. seperti yang dialami oleh Dee Lestari saat cerpennya bahkan tidak lolos ke babak semi-final dalam suatu perlombaan. Rasa sombong yang membuat dia bertahan dan tidak berhenti menulis.

kesombongan memberi ruang bagi saya agar tidak melulu mengkritik dir sendiri. begini duduk perkaranya: saya adalah pengkritik paling kejam dan tak tahu aturan bagi diri saya sendiri. ketika mengkritik orang lain, saya mampu memperhalusnya, memolesnya sedemikian rupa sehingga tidak terasa terlalu kasar. namun dengan diri sendiri? mana mampu saya mengelabui dan memoles kritikan bagi diri sendiri? ini sungguh buruk. saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengkritisi diri saya dan apa yang saya lakukan. ketika sudah begini, maka saya akan berakhir dalam kubang kelam dan merasa “tidak cukup” bagi dunia. saya menjadi tidak produktif dan hanya bisa mengeluhkan diri sendiri. sungguh, sulit sekali menarik diri keluar dari kubangan seperti itu. kamu akan terlalu takut berhadapan dengan dunia, takut tidak memenuhi ekspektasi mereka akan dirimu.

disinilah saya membutuhkan kesombongan itu. saya butuh merasa lebih baik dari beberapa orang lain agar saya tidak terus menerus dikungkung rasa “saya tidak cukup”. saya butuh merasa bahwa saya sebenarnya memiliki kehebatan yang tidak dimiliki oleh orang lain sehingga keberadaan saya masih relevan di bumi ini. saya butuh untuk percaya bahwa saya ini cukup penting untuk ada.

apakah saya salah memaknai kesombongan dengan rasa percaya diri? ataukah memang keduanya berkaitan erat? apakah memang dibutuhkan segenggam kesombongan agar kita dapat percaya pada diri sendiri?

mungkin memang begitu. namun satu hal yang dapat saya amini dengan tegas dan saya ucapkan dengan bangga: saya ini sombong.

Advertisements

One thought on “Strategi Menjalani Hidup: Jadilah Sombong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s