Dua Pucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Batara Guru,

Ini adalah surat kedua yang saya layangkan ke haribaanMu. surat kedua yang saya kirimkan hanya untuk terbengkalai di pangkuan Engkau yang telah membangkai. Engkau, yang dahulu begitu dewata, begitu emas permata. kini tak lebih dari sekadar tulang-belulang dengan sejumput daging busuk di sana-sini, bergelantungan di rangka-rangkamu. RangkaMu yang dulu begitu megah berbalut kearifan, kesantunan, keluhuran budaya. ah, kini Engkau telah tewas, mangkat, modar. dan kami sendiri lah yang telah membunuhMu, membunuh ke-adiluhung-anMu. Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!* Dulu kita bersorak gempita mengabarkan kematian Engkau. DarahMu menjadi noktah abadi di tangan dan jiwa kami.

Batara Guru,

Engkau mungkin telah lama mati, Engkau mungkin telah berupa seonggok bangkai bau tak berarti. Namun pada suatu masa yang silam, yang lampau, Engkau pernah menjadi kiblat kemana kami melangkah. Engkau pernah menjadi cahaya yang mengisi bejana-bejana di rumah kami. Dan kini saya kembali menghadapMu. Bicara pada bangkaiMu yang sungguh memuakkan. Namun kepada siapa lagi dapat saya kirimkan surat penghantar keresahan ini selain padaMu? Engkau telah mati, mangkat, modar, namun biarlah bangkaiMu jadi tempat saya menuang resah yang telah lama kutampung dalam belanga langu ini. Meski saya harus bicara pada bangkai, tak ubahnya pesakitan.

Batara Guru,

Resah ini menggugat meminta digubah jadi gerak juang. Resah ini menggugat dengan begitu hebat dan ia sambat. Sambat pada modernisasi yang meleburkan nilai. Sambat pada zaman yang gemar sekali mencumbu ambigu. Sambat pada kami, manusia-manusia yang menitah ragu menjadi tumpu. Sambat pada merah gincu yang merah bukan alang kepalang sedang juang kami tak kunjung memerah marah. Resahku ini sambat tak tahu aturan. Namun ia pula tak tahu jalan mana yang dapat ditempuh agar redam atau malih jadi aksi.

Batara Guru,

Dahulu para pendongeng berkisah tentang pandita-pandita yang membawa kearifan alam ke hadapan manusia yang congkak. kemanakah kini para pandita itu? Sudahkah mereka memasuki gorong-gorong konsumerisme yang menghantar mereka tepat ke mulut raksasa kapital yang menganga lebar siap menelan seisi dunia? Apakah mereka kini menjelma pandita korporasi yang menjajakan kearifan di televisi? padahal televisi tak pernah peduli pada apa yang arif, apa yang luhur dan mulia. Televisi hanya peduli grafik rating tanpa pernah mau tahu perubahan apa yang telah mereka torehkan di masyarakat.

Batara Guru,

Saya pun gamang mencari kearifan yang syahdan terselip dalam sela-sela diantara rintik air hujan. tersemat dalam senyap diantara rentet kata. Tertatah dalam jiwa yang tak jemu menempa kehidupan. Saya gamang. Kearifan yang dikisahkan begitu sakti mandraguna nyatanya tak kunjung saya temukan. Hingga jengah saya memungut serpih jawab dari tanya yang kulempar pada semesta. namun tak pula kutemukan kebenaran yang paling pakem.

Batara Guru,

Haruskah saya berhenti melempar tanya agar resah tak melulu menggugat? Saya yakin kamu akan melarangku pensiun bertanya. Karena tanpa tanya, saya tak ubahnya binatang. Menerima segala sesuatu sebagai keniscayaan. Sedangkan bahkan engkau, Batara Guru, Raja yang Maha Diraja, Putra dari Sang Hyang Tunggal, ayah dari para dewata, yang begitu sakti mandraguna, tak dapat menjadi satu yang niscaya.

Lalu apakah yang niscaya di dunia yang maya ini? Ketiadaan. Ketiadaan yang niscaya.

*Frasa terkenal dari Nietzsche

(Surat pertama dapat ditilik disini)

Advertisements

One thought on “Dua Pucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s