Maukah kamu menjadi Secangkir Kopi Pagiku?

Kamu menginginkan kekasih seperti kamu menginginkan secangkir kopi pagimu untuk menjadi. Manis, cukup manis untuk mengaburkan pahit. Namun tidak terlampau manis hingga terasa mencekat kerongkongan. Kamu pula menginginkan manisnya untuk terasa alami dan tidak artifisial, karena pemanis artifisial membuat gatal kerongkonganmu. Namun kamu pula tidak ingin manis itu menjajah rasa-rasa yang lain. Kamu tetap ingin samar rasa asam dan sejimpit pahit menemani. Karena kamu bukan putri di negeri dongeng, kesenangan tidak kamu dapatkan karena segalanya manis. Kesenangan justru kamu dapatkan dari sedikit asam dan pahit yang terselip disana-sini.

Ya, kamu butuh sedikit asam untuk menyalakan bara penggerakmu. Kamu butuh sedikit asam agar kamu tetap berpijak pada realita alih-alih terperangkap dalam angan. Dan ya, pahit akan tetap menjadi rasa paling primer dari secangkir kopi pagimu. Karena kau tahu segalanya baru akan terasa manis setelah kau pahami segala yang pahit. Pahit membuatmu bersyukur. Pahit membuatmu bijaksana. Dan pahit, akan tetap menjadi rasa paling primer dalam hidup. Pahit melindungi segala rasa sebagaimana hitam melindungi segala warna. Pahit menjadikan manis, asam, asin lebih nyata.

Satu hal yang paling kamu inginkan dari seorang kekasih adalah: Layaknya kopi, ia mampu menginspirasi dan membuat hari-harimu lebih hidup. Dan sungguh, layaknya kopi, ia akan mampu membuatmu mencandu hadirnya disetiap pagimu.

Jadi, Maukah kamu menjadi secangkir kopi pagi untuknya?

Advertisements

Perempuan Diatas Sampan

Ia adalah perempuan diatas sampan. Sendiri, direngkuhan samudera. Bau garam laut memenuhi rongga dadanya. Matanya mengerjap lelah, sembab. Kedua lengannya menekuk, memeluk kakinya sendiri. Jaket tipisnya terlihat kumal dan buruk. Rambutnya kusut tergerai menutupi sebagian wajahnya. Ia terlihat begitu berantakan, meski tanpa air mata.

Satu hal yang mengganjal adalah gincu merah menyala yang ia pulaskan di bibirnya. Merahnya begitu bara dan pekat. Lebih bara daripada semangat bertahan hidupnya. Lebih pekat daripada angkaranya. Karena sungguh, sepi telah memadamkan segala merah dalam dirinya, kecuali merah gincunya.

Sampannya terus melaju, berusaha memecah keheningan dan menciptakan riak. Namun ternyata samudera menyabdakan sunyi abadi bagi perempuan diatas sampan. Sampan kecilnya terlalu lengang. Lengang yang menghimpit. Ia membencinya. Ah tidak, sesungguhnya ia mencintai spasi dan jarak antara dua insan. Tapi apakah masih dapat dikata spasi dan jarak jika tidak ada ujung lainnya? Jika kekosongan tersebut tak bertepi? Maka ia membencinya. Mengutuknya. Hingga habis napas. Hingga kering air mata. Hingga padam bara.

Namun bibirnya masih tetap menatah merah. Merah yang paling nyalang. Merah yang paling pekat.

“Gincuku abadi, kesedihan bersembunyi dibaliknya.”