Perempuan Diatas Sampan

Ia adalah perempuan diatas sampan. Sendiri, direngkuhan samudera. Bau garam laut memenuhi rongga dadanya. Matanya mengerjap lelah, sembab. Kedua lengannya menekuk, memeluk kakinya sendiri. Jaket tipisnya terlihat kumal dan buruk. Rambutnya kusut tergerai menutupi sebagian wajahnya. Ia terlihat begitu berantakan, meski tanpa air mata.

Satu hal yang mengganjal adalah gincu merah menyala yang ia pulaskan di bibirnya. Merahnya begitu bara dan pekat. Lebih bara daripada semangat bertahan hidupnya. Lebih pekat daripada angkaranya. Karena sungguh, sepi telah memadamkan segala merah dalam dirinya, kecuali merah gincunya.

Sampannya terus melaju, berusaha memecah keheningan dan menciptakan riak. Namun ternyata samudera menyabdakan sunyi abadi bagi perempuan diatas sampan. Sampan kecilnya terlalu lengang. Lengang yang menghimpit. Ia membencinya. Ah tidak, sesungguhnya ia mencintai spasi dan jarak antara dua insan. Tapi apakah masih dapat dikata spasi dan jarak jika tidak ada ujung lainnya? Jika kekosongan tersebut tak bertepi? Maka ia membencinya. Mengutuknya. Hingga habis napas. Hingga kering air mata. Hingga padam bara.

Namun bibirnya masih tetap menatah merah. Merah yang paling nyalang. Merah yang paling pekat.

“Gincuku abadi, kesedihan bersembunyi dibaliknya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s