Maukah kamu menjadi Secangkir Kopi Pagiku?

Kamu menginginkan kekasih seperti kamu menginginkan secangkir kopi pagimu untuk menjadi. Manis, cukup manis untuk mengaburkan pahit. Namun tidak terlampau manis hingga terasa mencekat kerongkongan. Kamu pula menginginkan manisnya untuk terasa alami dan tidak artifisial, karena pemanis artifisial membuat gatal kerongkonganmu. Namun kamu pula tidak ingin manis itu menjajah rasa-rasa yang lain. Kamu tetap ingin samar rasa asam dan sejimpit pahit menemani. Karena kamu bukan putri di negeri dongeng, kesenangan tidak kamu dapatkan karena segalanya manis. Kesenangan justru kamu dapatkan dari sedikit asam dan pahit yang terselip disana-sini.

Ya, kamu butuh sedikit asam untuk menyalakan bara penggerakmu. Kamu butuh sedikit asam agar kamu tetap berpijak pada realita alih-alih terperangkap dalam angan. Dan ya, pahit akan tetap menjadi rasa paling primer dari secangkir kopi pagimu. Karena kau tahu segalanya baru akan terasa manis setelah kau pahami segala yang pahit. Pahit membuatmu bersyukur. Pahit membuatmu bijaksana. Dan pahit, akan tetap menjadi rasa paling primer dalam hidup. Pahit melindungi segala rasa sebagaimana hitam melindungi segala warna. Pahit menjadikan manis, asam, asin lebih nyata.

Satu hal yang paling kamu inginkan dari seorang kekasih adalah: Layaknya kopi, ia mampu menginspirasi dan membuat hari-harimu lebih hidup. Dan sungguh, layaknya kopi, ia akan mampu membuatmu mencandu hadirnya disetiap pagimu.

Jadi, Maukah kamu menjadi secangkir kopi pagi untuknya?

Advertisements

One thought on “Maukah kamu menjadi Secangkir Kopi Pagiku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s