Is Life a Zero Sum Game?

Hidup sungguh lucu.

Biasanya tulisan yang diawali dengan kalimat tersebut adalah tulisan yang klise yang membahas ulang apa yang sudah begitu sering dibicarakan orang dari zaman dahulu kala. Tapi bukankah jika topik tersebut sudah dibicarakan berkali-kali dan tak ada habisnya maka berarti topik tersebut timeless dan akan selalu relevan? Menurutku begitu. So bear with it. Saya akan membicarakan tentang sesuatu yang kemungkinan besar sudah kalian ketahui dan mungkin akan membuatmu “blergh” tapi hey, mungkin kalian dapat melihatnya sebagai pengingat alih-alih sebagai sesuatu yang super-klise dan merupakan bukti bahwa saya sangat tidak kreatif untuk muncul dengan topik baru yang lebih segar dan ‘renyah’. Atau mungkin, memang benar bahwa “there’s nothing new under the sun”.

Actually, i write this because i had a cliche revelation today.

Cukup dengan pembukaan yang terlalu panjang ini, maka saya akan ulangi lagi kata pembuka basi dan membosankan saya diatas:

Hidup sungguh lucu.

Dan mungkin memang benar, Tuhan (Jika Ia memang ada, dan oh saya sungguh berharap ia ada) maha asyik (Mengutip dari frasa yg dipopulerkan oleh Simbah Sujiwo Tejo).

Ya, hidup lucu, kamu bisa benar-benar merasakan putaran roda giginya. Menggilas tulang-tulangmu, meremukkan jiwa dan semangatmu, membuangmu dalam kubang depresi dan keputus asaan. Namun roda gigi itu berputar. Dan tahu-tahu kamu menemukan dirimu bahagia, dan segala harapanmu terkabul. Segalanya dengan aneh dan misterius terposisikan ditempat-tempat yang tepat dan waktu-waktu yang tepat. Entah mengapa, kamu sama sekali tidak paham, tapi itu yang terjadi, out of nowhere, you made it. You made it to the primest position in your life, holding whatever it is you want. While you are not sure what kind of effort have you put into whatever this is that took you here to this point in life.

Kamu merasa tidak pantas, tapi kamu menikmatinya. Dan jelas kamu pun gelisah, karena roda gigi itu berputar, kamu akan tergilas remuk lagi oleh hidup. Tentu. Broken bones and broken spirit is something that we will always have to deal with in life. Kamu hanya perlu menerimanya. Dan ini, kesadaran bahwa roda gigi itu selalu berputar, membuatmu memiliki harap ketika kamu berada di titik paling rendah paling nadir dan merasa bahwa tidak ada lagi masa depan bagimu. Kecuali kamu berumur tua dan sedang terbaring menunggu ajal, masa depanmu memang hanya satu: ajal. Namun kamu yang masih aktif terlibat dalam putaran roda gigi hidup itu dan tidak berada dalam ambang kematian, kamu masih punya kesempatan dan harapan. Kamu masih memiliki alasan untuk hidup karena esok, menawarkan peluang baru.

Wait.

Kini ketika saya berfikir lagi tentangnya, saya menyadari satu hal lain. Bahwa harap adalah motor penggerak kita dalam hidup. Bisa jadi, harap lah yang menggerakan roda gigi tersebut, Kita berharap maka kita berjuang, maka roda gigi berputar. Namun roda gigi lain, dari kehidupan orang lain yang bukan kita juga turut berputar, dan karena kita terhubung, maka roda gigi lain tersebut memaksa kita untuk terus berputar meski itu berarti turun. When we are gaining something, someone else is losing something. Dreams do come true, but other dreams got crushed too.

But is life a zero sum game?

Is it?

Let me know what you think.

Surat Ketiga, Bagi Batara Guru yang Dahulu Dewata.

Batara Guru,

Ini aku lagi. Aku yang terus menerus mengirim surat ke pangkuan tulang belulangmu. Karena sungguh, melipat surat ini menjadi sebesar bahtera Nuh dan melarungkannya di selat Gibraltar merupakan opsi yang sulit. Dan akan jauh lebih mudah menitipkan surat ini pada angin untuk menghembusnya tepat ke pangkuanmu. Meski aku yakin kedua bola matamu sudah habis dimakan belatung dan tidak dapat lagi memindai huruf-huruf yang telah kutorehkan dengan darah ini.

Ya, darah. Karena sungguh air mataku menolak untuk menetes demi perih ngilu di hatiku sendiri. Ia hanya akan dan ingin menetes untuk perih dan ngilu yang ditatahkan oleh sejarah dan peradaban pada hati rakyat jelata. Pada hati tiap-tiap ‘puntung’ yang dimatikan nyalanya dan dibuang oleh peradaban. Ya, aku akan dengan senang hati menangis untuk mereka. Namun tidak untuk aku. Tidak untuk aku. Cukup darahku yang mengalir untuk aku.

Batara Guru,

Aku masih hanya menggugat. Merahku masih pucat. Merahku hanya bermuara pada air mata dan berhilir pada segenggam kata dalam surat yang kualamatkan padamu ini. Sedihkah kau mendengarnya, Batara Guru? Ah, hatimu pun sudah habis dimamah cacing. Nuranimu, apakah lumat juga oleh waktu? Tidak, jangan. Jika nuranimu pun lumat oleh waktu, kepada siapa aku mengadu? Pada hantumu yang hampa? Pada kedua rongga matamu yang kosong? Jangan. Aku mengadu pada nuranimu. Pada nuranimu lah sejatinya surat ini kualamatkan. Namun Nurani adalah zat yang begitu abstrak, sehingga kuterbangkan surat ini ke pangkuanmu, berharap Nuranimu akan menemukannya dan membacanya meski tak mampu memberi jawabnya.

Batara Guru,

Jika surat ini kualamatkan pada media cetak alih-alih tulang pahamu, apakah akan lebih baik? Apakah akan meronakan merah didiriku? Apakah akan membakar inti tubuhku yang terlanjur pasi pucat? Jika kulantangkan gugatku melalui pengeras suara apakah akan mencipta merah disekitar? Pengeras suara model apa yang harus kugunakan, wahai Batara Guru? Pengeras Suara merk apa? Model apa? Kapasitas berapa?

Batara Guru,

Aku ingin, aku ragu, lantas aku gagu. Lantas Engkau muak. Karena aku bertanya dan menggugat padahal aku memasung sendiri kakiku dalam balok kayu. Namun aku lupa dimana kuletakkan kunci pasungku. Hingga aku menggugat, mengutuk, dan sambat. Namun aku –Akulah yang memasung kakiku dalam balok kayu dari awal.

Hari ini seorang kawan mengingatkanku. Bahwa kunci itu kukalungkan dileherku. Dan aku telah memegangnya selama ini. Tanganku gemetar, wahai Batara Guru. Jika kuputar kunci ini, apa yang akan terjadi?

Akankah kulayangkan surat keempat ke pangkuanmu?