Surat Ketiga, Bagi Batara Guru yang Dahulu Dewata.

Batara Guru,

Ini aku lagi. Aku yang terus menerus mengirim surat ke pangkuan tulang belulangmu. Karena sungguh, melipat surat ini menjadi sebesar bahtera Nuh dan melarungkannya di selat Gibraltar merupakan opsi yang sulit. Dan akan jauh lebih mudah menitipkan surat ini pada angin untuk menghembusnya tepat ke pangkuanmu. Meski aku yakin kedua bola matamu sudah habis dimakan belatung dan tidak dapat lagi memindai huruf-huruf yang telah kutorehkan dengan darah ini.

Ya, darah. Karena sungguh air mataku menolak untuk menetes demi perih ngilu di hatiku sendiri. Ia hanya akan dan ingin menetes untuk perih dan ngilu yang ditatahkan oleh sejarah dan peradaban pada hati rakyat jelata. Pada hati tiap-tiap ‘puntung’ yang dimatikan nyalanya dan dibuang oleh peradaban. Ya, aku akan dengan senang hati menangis untuk mereka. Namun tidak untuk aku. Tidak untuk aku. Cukup darahku yang mengalir untuk aku.

Batara Guru,

Aku masih hanya menggugat. Merahku masih pucat. Merahku hanya bermuara pada air mata dan berhilir pada segenggam kata dalam surat yang kualamatkan padamu ini. Sedihkah kau mendengarnya, Batara Guru? Ah, hatimu pun sudah habis dimamah cacing. Nuranimu, apakah lumat juga oleh waktu? Tidak, jangan. Jika nuranimu pun lumat oleh waktu, kepada siapa aku mengadu? Pada hantumu yang hampa? Pada kedua rongga matamu yang kosong? Jangan. Aku mengadu pada nuranimu. Pada nuranimu lah sejatinya surat ini kualamatkan. Namun Nurani adalah zat yang begitu abstrak, sehingga kuterbangkan surat ini ke pangkuanmu, berharap Nuranimu akan menemukannya dan membacanya meski tak mampu memberi jawabnya.

Batara Guru,

Jika surat ini kualamatkan pada media cetak alih-alih tulang pahamu, apakah akan lebih baik? Apakah akan meronakan merah didiriku? Apakah akan membakar inti tubuhku yang terlanjur pasi pucat? Jika kulantangkan gugatku melalui pengeras suara apakah akan mencipta merah disekitar? Pengeras suara model apa yang harus kugunakan, wahai Batara Guru? Pengeras Suara merk apa? Model apa? Kapasitas berapa?

Batara Guru,

Aku ingin, aku ragu, lantas aku gagu. Lantas Engkau muak. Karena aku bertanya dan menggugat padahal aku memasung sendiri kakiku dalam balok kayu. Namun aku lupa dimana kuletakkan kunci pasungku. Hingga aku menggugat, mengutuk, dan sambat. Namun aku –Akulah yang memasung kakiku dalam balok kayu dari awal.

Hari ini seorang kawan mengingatkanku. Bahwa kunci itu kukalungkan dileherku. Dan aku telah memegangnya selama ini. Tanganku gemetar, wahai Batara Guru. Jika kuputar kunci ini, apa yang akan terjadi?

Akankah kulayangkan surat keempat ke pangkuanmu?

Advertisements

One thought on “Surat Ketiga, Bagi Batara Guru yang Dahulu Dewata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s