Teman Hujan

“Tidakkah hujan itu sedih?”

Tanyamu sore itu, memecah keheningan yang mengisi ruang diantara kita sedari tadi. Tatapanmu terlempar jauh, kearah rintik air hujan yang menerpa genangan di jalanan. Pertanyaanmu kubiarkan menggantung di udara, tak terbalas. Karena aku tahu, kamu tidak sedang bertanya padaku. Kamu tidak sedang berbicara padaku. Kamu berbicara padanya. Ia yang bersembunyi dibalik kulit dan tulangmu. Ia yang bersemayam di dalam dirimu. Biarlah kamu melanjutkan percakapanmu dengannya. Biar hening tetap mengisi ruang ini. Karena sejatinya, kamu tidak berbicara padaku, yang nyata adanya.

“Tidakkah hujan itu sedih? Ia pasti begitu kesepian. Menjatuhkan diri, berserah pada gravitasi, demi manusia yang konon katanya memuja hadirnya. Namun ketika ia sampai ke bumi, tak seorang pun sudi memeluknya. Ia dibiarkan menderas ke aspal. Dan manusia-manusia itu yang katanya begitu memuja hujan, justru lari menjauh.”

Kamu terus meracau. Katakan sayang, apakah ia membalas kalimatmu dengan hangat? Ataukah ia membalasnya dengan lugas dan ketus? Aku tidak akan pernah tahu. Di saat-saat seperti ini kamu sudah tak ubahnya hamster dalam bola, terasing dari dunia luar. Ingin aku menyentuh tanganmu, mengajakmu kembali menapak bumi. Namun kamu telah begitu larut, sekedar menyentuh tanganmu pun aku tak kuasa.

“mereka hanya ingin menikmati hujan dari jauh, melihat tetesannya tanpa hendak menerimanya di ceruk tangan mereka. Pasti hujan sungguh kesepian. Mereka hanya menanti apa yang hadir setelah hujan dengan ikhlasnya menjatuhkan diri. Mereka hanya menanti pelangi, atau petrichor yang meruak dari tanah basah. Hujan pasti sangat kesepian.”

Entahlah sayang, aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh hujan. Kurasa ia benda mati. Tidak dapat merasakan apapun. Berbeda denganmu dan kecamuk yang kerap hadir dalam kedua bola matamu….

Berbeda denganku dan kecamuk yang selalu hadir kala kau menenggelamkan dirimu dengannya….

“Tidakkah kamu kini melihatnya? Kepiluan dan kesepian yang disimpan rapat oleh hujan demi membahagiakan manusia-manusia kekasihnya yang selalu alpa mencintai hujan seutuhnya?”

Kali ini kamu meninggikan suaramu dan menengok kearahku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tidak sanggup memandang kedua matamu.

“Tidakkah kamu kini memahami bahwa hujan meminta untuk ditemani dan bukannya ditinggal pergi?”

Suaramu semakin meninggi. Aku dapat merasakan getaran diujung kalimatmu. Dan aku masih tak mampu untuk mengangkat wajahku dan memandang pualam wajahmu.

“Tidakkah kamu mengerti…”

Bisikmu lirih. Aku terpaku pada kursi rotan tua ini. Tak mampu bangkit untuk memelukmu atau meraih tanganmu. Aku lemah, aku terlalu lemah untuk menghadapi tatapmu yang aku yakin kini telah dihiasi bulir air yang buncah dari sudut matamu.

Dan aku masih terpaku pada kursi rotan tua ini. Bertahun setelahnya. Kala tak ada lagi kamu yang melamunkan hujan. Tak ada lagi kamu yang berbincang dengan ia. Tak ada lagi kamu dan mug mu yang kosong. Bertahun setelah kamu memutuskan untuk menjadi salah satu rintik hujan yang menyerahkan diri pada gravitasi dan luruh mencium kelabu aspal jalanan, aku masih duduk di kursi rotan tua ini. menceritakan kisah yang sama tentang hujan yang meminta untuk ditemani.

Hujan, yang alpa untuk kutemani.

Supernova!

Ibu, aku akhirnya melihatnya. Aku melihat cahaya itu. Cahaya itu yang bersinar sangat terang hingga membakar retinaku, kepalaku dan dadaku. Cahaya yang bersinar sangat terang di antara kegelapan yang membosankan. Cahaya yang bersinar sangat terang melebihi nyala api meteor kala bergesekan dengan lapis atmosfer.

Ibu, kurasa aku menemukan supernova-ku.

Ibu, cahaya itu dapat meniadakanku. Cahaya itu membakar, dan aku terbakar nyala nya. Aku pupus, ibu. Sirna. Lumat. Musnah ditelannya. untuk beberapa menit yang menyenangkan kurasa aku turut menyala bara, ibu. Membakar. Terbakar. Dibakar. Bakar. Pasiku mamah. untuk beberapa menit yang menyenangkan. untuk beberapa menit. semata menit. enggan mengulur jarum menuju jam.

Ibu, Kurasa aku menemukan mati-ku.

Ibu, aku terhempas. Aku terserak. menyerak. menyerpih. Usah aku merangkak menggandeng tiap serpih kembali. Menguntainya jadi satu yang padu. Usah aku meniti punggung sang angin, membujuknya untuk menguntalku kembali utuh. Aku menyerak dan aku berserah. Pada kehendak Yang Berkehendak. Kutemukan keberserahan kali ini, ibu.

Lihat, ibu! Debuku mengerjap perak! Debuku memantul cahya! Ilahi kah itu, Ibu?

Ibu, oh, Ibu! Tewas aku!

Meteor itu melesat pergi, Ibu. Kikis oleh atmosfer. Kini debu kosmiknya tersisa. nyaru denganku. Dengan kerlap kerlip debu semesta yang mantulkan cahya.

Supernova-ku redup, ibu. Lihat, ia mengerjap lelah. Matanya sembab. Dadanya membengkak. Sakitkah ia, Ibu? Apakah debuku menelisip dalam matanya? Lihat matanya mengalirkan untai permata mendung!

Mega mendung menggayut di angkasa kelabu. Siap menjatuhkan rerintiknya yang gemar berserah pada gravitasi.

Ibu, apa ini yang memelesak diantara rusukku? Apa ini yang berdentam keras dalam satu ketukan nyaring di antara kedua telingaku?

Ibu, aku telah binasa. Kali ini benar-benar binasa.