Batara Guru, ini Surat Kelimaku. UntukMu.

Batara Guru,

Ruang luas ini masih senyap dari riuh rendah suara semesta. Ruang ini sunyi. Terlalu sunyi untuk berdenyut. Mendenyutkan cintaMu. Singgasanamu memangku hampa. Jubahmu berselimut debu. Tanah dimana Engkau semestinya berpijak, memucat pasi.

Dan aku masih terpagut renung. Bersimbah pekat, menghitam jelaga. Jelaga yang mengerak, keras.

Batara Guru,

Mereka berkata kau adalah sumber cahaya yang paling benderang, paling mega, paling lembayung, paling rona, paling nila, paling kelabu, paling. Paling. Maka aku menanti disini, menanti cahayamu untuk merasuk dan memantul di dinding-dinding jiwaku yang katanya serupa bejana cermin, mengaduk segala menjadi satu. Memantulkan segala tanpa celah.

Penantianku namun tak kunjung Kau usaikan, Batara. CahayaMu tak kunjung rasuk. CintaMu tetap kemarau, meniada. Mungkin aku terlalu jelaga tak bercelah hingga cahayaMu tak mampu singgah. Atau aku terlalu kelam hingga cintaMu enggan menghujan?

Batara Guru,

Aku rindu. Tak dapatkah kau melihatnya? Aku menyerpih debu, memohon kasihMu. Runyam lumat egoku, berserak dihadapmu. Hancur luluh sombongku, dimamah sujudku. Tak sampaikah serpih egoku di ujung jemari kakimu?

Aku rindu Engkau, dimana cinta bermuara. Tak patutkah aku menjadi hilir bagi hulu-Mu?

“Coba katakan padaku, katakan, bagaimana aku dapat merengkuh, menggenggam cahaya?” (22 April, 2015)

“Kau dapat. Kau dapat merengkuhnya dalam gelap. Kau dapat menggenggamnya dalam hitam. Kau dapat memeluknya dalam pekat.” (23 Juli, 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s