Pada Suatu Perenungan

dsc03163

Sudah terlampau lama sejak aku terakhir menulis disini. Rasanya, mungkin blog ini sudah usang dan mengarat. Maaf.

Aku selalu melupakan diri saya ketika saya terjatuh. Ketika aku menjelma komet yang membara, melesat diantara debu kosmik, hanya untuk terbakar oleh lapis atmosfer planet lain. tergesek habis hingga padam dan sirna. Meremah. Dan berharap serpihku dapat mencipta kehidupan lain di angkasa, layaknya supernova.

Baru kini aku sadari, aku adalah membran tipis yang dapat dirasuki. identitasku tak sekokoh pualam. Ia hanya rangkaian debu yang terbungkus membran tipis, tak henti menyerap dan malih. Merupa apapun yang berada didekatnya. membahasakan apapun yang terbahasakan dalam proksimitas tertentu. Mungkin aku ini sejenis bunglon. Menyaru menjadi apapun yang dapat disaru.

aku tlah lesap kedalam sesuatu yang lain tanpa aku sadari. Kehilangan aku, identitasku, segalaku. Dan keluar kembali sebagai sehelai benang kusut yang bingung. Meraba kembali jati diri yang tlah koyak. Meramu kembali segala yang kusangka adalah aku. Namun tanya itu semakin membesar, menjelma lembaran selimut yang membungkusku lekat. Semua variabel yang kuduga sebagai komponen pembentuk aku meloncat dan hilang di udara.

mungkin yang kubutuhkan adalah seorang pembaca artefak untuk memaknai tiap koyak. atau seorang pandai besi yang mampu menempa ketiadaan. Atau bisa saja, yang kubutuhkan adalah seorang pengamat angkasa yang mampu membaca kematian.

atau mungkin… yang kubutuhkan hanyalah aku, dan sejenak sunyi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s