One out of many ways to kill yourself

Pada hari ke tujuh belas, detik bergulir sedikit lebih lambat. Mencemooh kelopak bunga yang jatuh satu persatu dirunyam waktu. Menertawakan kekosongan yang menelisip diantara.

Dan detik bagiku adalah cambuk-cambuk kecil yang menari di angkasa. melecutkan pias sesekali ke muka bumi -atau punggungku-. Hasilkan bilur biru yang enggan menggenang darah. Karena bagaimanapun, letupan itu tidaklah nyata. Letupan itu hanyalah hasil sintesa antara takut dan malu yang kawin tanpa tahu waktu. Bilur itu tidak pernah nyata. Aku sendiri yang torehkan biru dan ungu membentuk sayatan-sayatan kecil di punggungku.

Ah, kepala, kenapa kau tak hendaki sunyi barang sebentar saja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s