Jarak

Aku adalah seorang yang gemar menghitung jarak. Menakar dan memetakan setiap incinya.

Seperti jarak antara kedua tanganmu. Satu depa yang paling hangat, satu depa yang paling rindu.

Atau jarak yang diperlukan bagi bibirmu untuk sampai pada tangkup bibirku. Dengan samar cecap rokok yang menyelinap diantara keduanya.

Atau jarak yang tertera diantara jemarimu. Ia memeluk erat kekosongan yang tersimpan diantara jemariku.

Atau jarak yang berdetak diantara akhir minggu ke akhir minggu yang begitu cekatan memilin rindu di antaranya.

Aku adalah seorang penghitung jarak yang terampil.

Dan kau, adalah himpunan jarak yang tak jera kusyukuri adanya.

Advertisements

Perkara Hidup dan Derak Waktu

Derak waktu memang bukanlah musik yang ramah di telingaku.

Dentumannya tak pernah membentuk harmoni indah di hidupku.

Mereka kerap terlalu gegas dan tergesa, meninggalkan dan menemukan.

Pun terkadang ia melangkah lambat tertatih, begitu dramatis.

Aku tak pernah mampu mengikuti iramanya.

Aku membenci tik-toknya yang selalu berkejaran tak kenal lelah.

Aku mengutuk rupanya yang kerap meniada namun geliginya tak henti melumat jiwa.

Dimensi ini melelahkan, sungguh.

Bagaimana kamu dapat melangkah dengan bijak dan tenang ketika waktu selaksa mesin penghancur yang berjalan terus dibelakangmu tanpa ampun.

Namun pada malam seperti ini, aku menyerah. Waktu memberiku tidak hanya binasa melainkan harap yang samar, timbul tenggelam dalam remang cahaya lampu kota. Waktu memberiku kesempatan, untuk menggantung asa pada langit-langit esok dan bergerak menjauh dari genang darah di belakangku. 

Maka aku berserah. Pada hidup. Pada waktu dan geliginya.