Belajar Berenang

Aku ingat pada malam itu, tempias cahaya menimpa separuh tubuhmu, separuh wajahmu. Kau berbaring terjaga di atas lenganmu, menatap lurus pada entah mataku atau dahiku. Di sela tawamu yang sungguh serupa noktah merah muda, kau pinta aku untuk belajar berenang.

Untuk sejenak melepaskan kedua dayung yang selama ini ku sekap dalam genggaman dan melompat turun dari sampan kecil yang kurakit sendiri dari berbagai teori-teori asing yang ku impor dari rentet aksara.

Memintaku untuk meninggalkan satu-satunya benda yang membuatku sejengkal berada di atas nyata, untuk meluruh ke dalam aliran sungai dan belajar berenang di dalamnya.

Katamu, secanggih apapun sampan yang kurakit untuk memisahkan aku dari muka air ini, tanpa mampu berenang, aku tak ubahnya seonggok kayu terlarung yang mati-matian menentukan arus tanpa pernah benar-benar memahami tabiat dan ‘rasa’ dari sungai yang kuarungi. Dan aku akan mati konyol di pangkuan sungai yang begitu piawai membolak-balik sampan-sampan mungil seperti milikku ini.

Sungguh, aku takut menyentuh bentangan air ini dengan begitu telanjang, tanpa perantara dayung yang ku tatah dengan logika dan testimoni asing. Aku begitu kalut tanpa sampan yang melayangkanku, memisahkanku dari lembap dan dingin yang kunyana bercokol di antara riak lembut air.

Tapi kau benar. aku harus belajar berenang jika tak ingin mati sia-sia.

Pertama, kau rentangkan tanganku, jauh, ke depan, membentuk ujung tombak yang runcing. Karena ketajaman sikap dan pendirian adalah apa yang dapat membuatmu tampak di antara jutaan manusia lain yang berduyun menuju satu rindu yang sama.

Lalu jejakkan kaki kuat-kuat, katamu, karena kau butuh daya pegas, daya juang, untuk melontarkanmu, melambung, hingga mungkin — hanya mungkin — kau dapat sejenak merabai semesta dengan ujung-ujung jemarimu.

Jika sudah dapat meluncur dengan tenang, cobalah kayuhi kedua tangan dan kakimu. Karena daya juang semata tak cukup untuk membawamu bertahan dalam derasnya arus sungai. Konsistensi dan determinasimu dalam menggerakkan kaki dan tanganmu dalam ritme yang konstan adalah apa yang akan mencegahmu mati konyol begitu saja.

Lalu kau bertanya: sudah kau berenang? Apakah kau rasa panas yang menjalar dari dadamu menuju ke ubun-ubunmu dan membuat kerongkonganmu tercekat? Ya, kayuhan lengan dan kaki saja tak cukup. Tanpa kemampuan untuk berhenti sejenak, melambat barang sebentar, dan mengisi rongga-rongga kosong di dadamu dengan napas yang kau hirup tanpa pretensi.

Pun aku belum benar-benar berenang, katamu, jika aku tidak mampu membiaskan egoku di antara gelombang. Aku akan cepat lelah jika tak mampu bekerja sama dengan Ia yang kuselami. Maka kau pinta aku, untuk berserah.

Maka aku belajar berenang dan menakar egoku. Terimakasih telah mengawani tatihku.

Advertisements