One out of many ways to kill yourself

Pada hari ke tujuh belas, detik bergulir sedikit lebih lambat. Mencemooh kelopak bunga yang jatuh satu persatu dirunyam waktu. Menertawakan kekosongan yang menelisip diantara.

Dan detik bagiku adalah cambuk-cambuk kecil yang menari di angkasa. melecutkan pias sesekali ke muka bumi -atau punggungku-. Hasilkan bilur biru yang enggan menggenang darah. Karena bagaimanapun, letupan itu tidaklah nyata. Letupan itu hanyalah hasil sintesa antara takut dan malu yang kawin tanpa tahu waktu. Bilur itu tidak pernah nyata. Aku sendiri yang torehkan biru dan ungu membentuk sayatan-sayatan kecil di punggungku.

Ah, kepala, kenapa kau tak hendaki sunyi barang sebentar saja.

 

Advertisements

To all the stories that never find its ending

To all the stories that never find its ending:

This is getting old.

The cheering, the wooing, the teasing. Yet our feet reluctantly tip-toeing away.

This is getting banal.

The late night talking, the sands below our feet and the sounds of waves crashing each other.

I wish the wave you want to sew your eyes on is the wave of my body.

This is getting cliche.

The smile that sends my heart marching down to the beat of your drums.

Yet you can not seems to hear the thunderous wind inside this crippled heart.

perhaps we are just one tick away from our own version of eternity. Perhaps we are just one shy away from rolling into each others arms under a warm blanket on a rainy day like today. Perhaps.

Though we choose to once again sail away. leaving the waves, the thunders, and the wilderness, untouched, unexplored. and one day, perhaps, forgotten.

 

Gajah

Tik tok.

Biru merayap perlahan di sudut ruang.

hitam menganga lebar di langit-langit, mempertontonkan segala asa yang lumat.

Dan aku masih disini, menjaga bara tetap menyala. merah, nyalang.

Berkejaran dengan semesta dan waktu yang  memamah segala.

Titik keringat mengalir deras.

Gajah itu kembali lagi bersama biru yang kini hanya berjarak sejengkal dari ujung selimutku.

Gajah biru yang tak tahu diri.

Ia membawa hiruk pikuk dunia dan selebrasinya.

Melantunkannya tepat ke telingaku.

Sedang ruang ini semestinya menjadi tempatku bercengkrama dengan senyap.

Senyap ku lenyap.

 

Gajah sialan.

 

 

Pada Suatu Perenungan

dsc03163

Sudah terlampau lama sejak aku terakhir menulis disini. Rasanya, mungkin blog ini sudah usang dan mengarat. Maaf.

Aku selalu melupakan diri saya ketika saya terjatuh. Ketika aku menjelma komet yang membara, melesat diantara debu kosmik, hanya untuk terbakar oleh lapis atmosfer planet lain. tergesek habis hingga padam dan sirna. Meremah. Dan berharap serpihku dapat mencipta kehidupan lain di angkasa, layaknya supernova.

Baru kini aku sadari, aku adalah membran tipis yang dapat dirasuki. identitasku tak sekokoh pualam. Ia hanya rangkaian debu yang terbungkus membran tipis, tak henti menyerap dan malih. Merupa apapun yang berada didekatnya. membahasakan apapun yang terbahasakan dalam proksimitas tertentu. Mungkin aku ini sejenis bunglon. Menyaru menjadi apapun yang dapat disaru.

aku tlah lesap kedalam sesuatu yang lain tanpa aku sadari. Kehilangan aku, identitasku, segalaku. Dan keluar kembali sebagai sehelai benang kusut yang bingung. Meraba kembali jati diri yang tlah koyak. Meramu kembali segala yang kusangka adalah aku. Namun tanya itu semakin membesar, menjelma lembaran selimut yang membungkusku lekat. Semua variabel yang kuduga sebagai komponen pembentuk aku meloncat dan hilang di udara.

mungkin yang kubutuhkan adalah seorang pembaca artefak untuk memaknai tiap koyak. atau seorang pandai besi yang mampu menempa ketiadaan. Atau bisa saja, yang kubutuhkan adalah seorang pengamat angkasa yang mampu membaca kematian.

atau mungkin… yang kubutuhkan hanyalah aku, dan sejenak sunyi.

A Tale of Change

one thing i realize after this whole thing, is the fickleness of life.

We are trained to believe that something in this world is certain, secure. like the way our parents put us through school where we learned that going to school is a certainty. it happens, it always happened. the waking up, the getting ready for school, the classes, the 7 am ceremony, the going home. we are trained to go through it over and over that we think there are something bigger in life than our choices as a human. That society and their rules are something bigger than human. And when we follow the society, we are in a secure way to survive this horrid life. sure, they made us dream of a grandiose life as well. but we kind of trained to believe that it was just a dream as well. only some few can make it happen.

but after i graduate from school and put myself in this roller coaster of entrepreneurial life, i realize that life is fickle. it’s never certain. it changes so much in just a flip second. life will only happen as how you create it. destiny does not play many part. Because life will only move if you move your ass as well.and how you move, can change everything. nothing is eternal. it feels so real now. and what you have right now can and will change over the course of time.

i mean, i always know theoretically that nothing in life is certain, that life will always change. but i never thought that it is this fickle, this fragile. things can be born and perish so easily, so fast. this realization hits me hard. because i have been surrounded by the security my family and school created all my life.

even you are changing. your body cells die and regenerate every second, and created a whole different body over time. the 5 year ago you have an entirely different cells than the right now you. your worldview, paradigm, character, habits, are changing too. though some people believe that people’s ┬ácharacters can’t really change, but i have seen it with my own eyes how a man can change his character in just a night. it’s just a matter of understanding and choosing your action. i know for a fact as well that for some people, changing characters are something we have to do slowly. but really, if you believe you can change whatever it is you want to change, it will.

so then, if life is actually this fickle, why are we so afraid of changes? Why can’t we just embrace the fact that life is just like a flowing rivers? it change it’s shape and course and currents every time, following the circumstances around it. when we embrace the fickleness of life, we will realize that we are the one creating the circumstances that alter the flowing river. and life can’t really disappoint us anymore. change is inevitable.

humans are the only one in charge of his own life.

destiny is what we believe to be.

Hantu

aku pernah mengenalnya. perempuan itu, dengan ribuan simpul di kepalanya yang memeluk satu sama lain begitu lekatnya hingga ia merupa jalinan benang kusut.

aku pernah mengenalnya. lembayung yang bergelayut mesra dalam dadanya. oh, betapa ia mencintai langit senja dengan semburat jingga.

aku pernah mengenalnya. biru yang menarik denyut nadinya namun tak pula mematahkan tulang-tulangnya. pun hatinya.

aku pernah mengenalnya. setetes embun pagi yang mengalir dihamparan helai rambutnya. meliuk mesra seiring gelombang dan riaknya.

aku pernah mengenalnya. selarik puisi yang tersemat diantara lipatan bibirnya. ratap pilu yang menggebu dibalik deret geliginya.

aku pernah mengenalnya. aku pernah mencintainya. ia yang berjalan dengan kedua tangan di udara, menyapa hiruk pikuk kehidupan.

Aku pernah mencintaiku. kini, aku merindukanku.

Surat Permohonan, Bagi Batara Guru Yang Dewata.

Batara Guru,

Aku tidak menulis surat dengan arogansi kali ini. Aku tidak datang dengan tuntutan, pertanyaan, pun kecaman dan tuduhan. Aku menulis surat ini sebagai seorang manusia di bumi mu yang pertiwi. Penuh dengan rasa terimakasih, Kau telah memberikanku waktu untuk bercengkrama dengan ibu pertiwi milikMu yang sungguh pengasih dan romantis. Terimakasih. Dan maaf, untuk segala alpaku menjaga dan mengasihi ibu pertiwi.

Ya, Batara Guru.

Terlalu sering aku lupa mencintai Engkau dan Bumi Kita. Terlalu sering aku alpa untuk peduli pada apa yang ada dihadapku. Maaf. Sungguh, maaf. Tidak ada lagi yang dapat kuucapkan selain maaf, Batara Guru. Karena aku tidak punya pembelaan apapun atas kesalahanku, luputku, alpaku. Aku salah, dan hanya maaf yang dapat kuutarakan padamu.

Batara Guru,

Ingat dengan merahku? Merah yang pernah kukisahkan padamu, berulang-ulang? Merahku yang menggugatmu? Merahku menuntut untuk kulunasi, Batara Guru. Aku yang telah menyisipkan merah kedalam jiwaku. Aku harus bertanggung jawab dan melunasinya. Aku ingin melunasinya.

Merahku menuntut untuk Bumi yang damai. Bumi yang tidak menggunakan kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan permasalahan. Bumi dimana kebutuhan dasar setiap manusia terpenuhi. Bumi dimana prinsip, value, kebebasan dan cinta yang memerintah.

Batara Guru,

Bumi tidaklah sebesar telapak tanganku. Bagaimana mungkin sehelai serat kain yang penuh cacat hendak merubah seluruh hamparan kain? Aku tidak mampu, dan tak akan mampu tanpamu, Sang Pemilik kekuatan yang tak terbatas. Dan aku pun tak akan mampu, tanpa serat-serat kain yang lain, yang juga merindukan Bumi yang damai.

Aku telah menemukannya; serat kain yang lain, yang juga merindukan Bumi dan Engkau.

Aku telah menemukannya; rona merah yang sama, tersisip dalam jiwanya.

Aku telah menemukannya dan menggandeng tangannya. Memeluk jiwanya, mencintai merahnya.

Namun dua pasang kaki masih terlampau rapuh untuk melangkah menuju SemestaMu dan membayar lunas merah kami. Kami membutuhkan Engkau, dan kuasaMu yang tidak terbatas. Engkau sang muara cinta. Engkau sang pecinta sejati.

Batara Guru,

Kali ini aku datang dengan permohonan. Dengan kerendahan jiwa. Karena aku -kami- tak mampu untuk membayar merah kami tanpaMu. Maka tolong,

Terangi jalan kami.

Kuatkan kaki kami.

Tabahkan jiwa kami.

Ronakan merah kami.

Sisipkan cinta di setiap langkah kami.

Biarkan kami melangkah lebih jauh, lebih cepat, menuju SemestaMu. Membayar lunas, merah kami yang menggugat.