A Tale of Change

one thing i realize after this whole thing, is the fickleness of life.

We are trained to believe that something in this world is certain, secure. like the way our parents put us through school where we learned that going to school is a certainty. it happens, it always happened. the waking up, the getting ready for school, the classes, the 7 am ceremony, the going home. we are trained to go through it over and over that we think there are something bigger in life than our choices as a human. That society and their rules are something bigger than human. And when we follow the society, we are in a secure way to survive this horrid life. sure, they made us dream of a grandiose life as well. but we kind of trained to believe that it was just a dream as well. only some few can make it happen.

but after i graduate from school and put myself in this roller coaster of entrepreneurial life, i realize that life is fickle. it’s never certain. it changes so much in just a flip second. life will only happen as how you create it. destiny does not play many part. Because life will only move if you move your ass as well.and how you move, can change everything. nothing is eternal. it feels so real now. and what you have right now can and will change over the course of time.

i mean, i always know theoretically that nothing in life is certain, that life will always change. but i never thought that it is this fickle, this fragile. things can be born and perish so easily, so fast. this realization hits me hard. because i have been surrounded by the security my family and school created all my life.

even you are changing. your body cells die and regenerate every second, and created a whole different body over time. the 5 year ago you have an entirely different cells than the right now you. your worldview, paradigm, character, habits, are changing too. though some people believe that people’s  characters can’t really change, but i have seen it with my own eyes how a man can change his character in just a night. it’s just a matter of understanding and choosing your action. i know for a fact as well that for some people, changing characters are something we have to do slowly. but really, if you believe you can change whatever it is you want to change, it will.

so then, if life is actually this fickle, why are we so afraid of changes? Why can’t we just embrace the fact that life is just like a flowing rivers? it change it’s shape and course and currents every time, following the circumstances around it. when we embrace the fickleness of life, we will realize that we are the one creating the circumstances that alter the flowing river. and life can’t really disappoint us anymore. change is inevitable.

humans are the only one in charge of his own life.

destiny is what we believe to be.

Hantu

aku pernah mengenalnya. perempuan itu, dengan ribuan simpul di kepalanya yang memeluk satu sama lain begitu lekatnya hingga ia merupa jalinan benang kusut.

aku pernah mengenalnya. lembayung yang bergelayut mesra dalam dadanya. oh, betapa ia mencintai langit senja dengan semburat jingga.

aku pernah mengenalnya. biru yang menarik denyut nadinya namun tak pula mematahkan tulang-tulangnya. pun hatinya.

aku pernah mengenalnya. setetes embun pagi yang mengalir dihamparan helai rambutnya. meliuk mesra seiring gelombang dan riaknya.

aku pernah mengenalnya. selarik puisi yang tersemat diantara lipatan bibirnya. ratap pilu yang menggebu dibalik deret geliginya.

aku pernah mengenalnya. aku pernah mencintainya. ia yang berjalan dengan kedua tangan di udara, menyapa hiruk pikuk kehidupan.

Aku pernah mencintaiku. kini, aku merindukanku.

Surat Permohonan, Bagi Batara Guru Yang Dewata.

Batara Guru,

Aku tidak menulis surat dengan arogansi kali ini. Aku tidak datang dengan tuntutan, pertanyaan, pun kecaman dan tuduhan. Aku menulis surat ini sebagai seorang manusia di bumi mu yang pertiwi. Penuh dengan rasa terimakasih, Kau telah memberikanku waktu untuk bercengkrama dengan ibu pertiwi milikMu yang sungguh pengasih dan romantis. Terimakasih. Dan maaf, untuk segala alpaku menjaga dan mengasihi ibu pertiwi.

Ya, Batara Guru.

Terlalu sering aku lupa mencintai Engkau dan Bumi Kita. Terlalu sering aku alpa untuk peduli pada apa yang ada dihadapku. Maaf. Sungguh, maaf. Tidak ada lagi yang dapat kuucapkan selain maaf, Batara Guru. Karena aku tidak punya pembelaan apapun atas kesalahanku, luputku, alpaku. Aku salah, dan hanya maaf yang dapat kuutarakan padamu.

Batara Guru,

Ingat dengan merahku? Merah yang pernah kukisahkan padamu, berulang-ulang? Merahku yang menggugatmu? Merahku menuntut untuk kulunasi, Batara Guru. Aku yang telah menyisipkan merah kedalam jiwaku. Aku harus bertanggung jawab dan melunasinya. Aku ingin melunasinya.

Merahku menuntut untuk Bumi yang damai. Bumi yang tidak menggunakan kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan permasalahan. Bumi dimana kebutuhan dasar setiap manusia terpenuhi. Bumi dimana prinsip, value, kebebasan dan cinta yang memerintah.

Batara Guru,

Bumi tidaklah sebesar telapak tanganku. Bagaimana mungkin sehelai serat kain yang penuh cacat hendak merubah seluruh hamparan kain? Aku tidak mampu, dan tak akan mampu tanpamu, Sang Pemilik kekuatan yang tak terbatas. Dan aku pun tak akan mampu, tanpa serat-serat kain yang lain, yang juga merindukan Bumi yang damai.

Aku telah menemukannya; serat kain yang lain, yang juga merindukan Bumi dan Engkau.

Aku telah menemukannya; rona merah yang sama, tersisip dalam jiwanya.

Aku telah menemukannya dan menggandeng tangannya. Memeluk jiwanya, mencintai merahnya.

Namun dua pasang kaki masih terlampau rapuh untuk melangkah menuju SemestaMu dan membayar lunas merah kami. Kami membutuhkan Engkau, dan kuasaMu yang tidak terbatas. Engkau sang muara cinta. Engkau sang pecinta sejati.

Batara Guru,

Kali ini aku datang dengan permohonan. Dengan kerendahan jiwa. Karena aku -kami- tak mampu untuk membayar merah kami tanpaMu. Maka tolong,

Terangi jalan kami.

Kuatkan kaki kami.

Tabahkan jiwa kami.

Ronakan merah kami.

Sisipkan cinta di setiap langkah kami.

Biarkan kami melangkah lebih jauh, lebih cepat, menuju SemestaMu. Membayar lunas, merah kami yang menggugat.

Batara Guru, ini Surat Kelimaku. UntukMu.

Batara Guru,

Ruang luas ini masih senyap dari riuh rendah suara semesta. Ruang ini sunyi. Terlalu sunyi untuk berdenyut. Mendenyutkan cintaMu. Singgasanamu memangku hampa. Jubahmu berselimut debu. Tanah dimana Engkau semestinya berpijak, memucat pasi.

Dan aku masih terpagut renung. Bersimbah pekat, menghitam jelaga. Jelaga yang mengerak, keras.

Batara Guru,

Mereka berkata kau adalah sumber cahaya yang paling benderang, paling mega, paling lembayung, paling rona, paling nila, paling kelabu, paling. Paling. Maka aku menanti disini, menanti cahayamu untuk merasuk dan memantul di dinding-dinding jiwaku yang katanya serupa bejana cermin, mengaduk segala menjadi satu. Memantulkan segala tanpa celah.

Penantianku namun tak kunjung Kau usaikan, Batara. CahayaMu tak kunjung rasuk. CintaMu tetap kemarau, meniada. Mungkin aku terlalu jelaga tak bercelah hingga cahayaMu tak mampu singgah. Atau aku terlalu kelam hingga cintaMu enggan menghujan?

Batara Guru,

Aku rindu. Tak dapatkah kau melihatnya? Aku menyerpih debu, memohon kasihMu. Runyam lumat egoku, berserak dihadapmu. Hancur luluh sombongku, dimamah sujudku. Tak sampaikah serpih egoku di ujung jemari kakimu?

Aku rindu Engkau, dimana cinta bermuara. Tak patutkah aku menjadi hilir bagi hulu-Mu?

“Coba katakan padaku, katakan, bagaimana aku dapat merengkuh, menggenggam cahaya?” (22 April, 2015)

“Kau dapat. Kau dapat merengkuhnya dalam gelap. Kau dapat menggenggamnya dalam hitam. Kau dapat memeluknya dalam pekat.” (23 Juli, 2015)

Teman Hujan

“Tidakkah hujan itu sedih?”

Tanyamu sore itu, memecah keheningan yang mengisi ruang diantara kita sedari tadi. Tatapanmu terlempar jauh, kearah rintik air hujan yang menerpa genangan di jalanan. Pertanyaanmu kubiarkan menggantung di udara, tak terbalas. Karena aku tahu, kamu tidak sedang bertanya padaku. Kamu tidak sedang berbicara padaku. Kamu berbicara padanya. Ia yang bersembunyi dibalik kulit dan tulangmu. Ia yang bersemayam di dalam dirimu. Biarlah kamu melanjutkan percakapanmu dengannya. Biar hening tetap mengisi ruang ini. Karena sejatinya, kamu tidak berbicara padaku, yang nyata adanya.

“Tidakkah hujan itu sedih? Ia pasti begitu kesepian. Menjatuhkan diri, berserah pada gravitasi, demi manusia yang konon katanya memuja hadirnya. Namun ketika ia sampai ke bumi, tak seorang pun sudi memeluknya. Ia dibiarkan menderas ke aspal. Dan manusia-manusia itu yang katanya begitu memuja hujan, justru lari menjauh.”

Kamu terus meracau. Katakan sayang, apakah ia membalas kalimatmu dengan hangat? Ataukah ia membalasnya dengan lugas dan ketus? Aku tidak akan pernah tahu. Di saat-saat seperti ini kamu sudah tak ubahnya hamster dalam bola, terasing dari dunia luar. Ingin aku menyentuh tanganmu, mengajakmu kembali menapak bumi. Namun kamu telah begitu larut, sekedar menyentuh tanganmu pun aku tak kuasa.

“mereka hanya ingin menikmati hujan dari jauh, melihat tetesannya tanpa hendak menerimanya di ceruk tangan mereka. Pasti hujan sungguh kesepian. Mereka hanya menanti apa yang hadir setelah hujan dengan ikhlasnya menjatuhkan diri. Mereka hanya menanti pelangi, atau petrichor yang meruak dari tanah basah. Hujan pasti sangat kesepian.”

Entahlah sayang, aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh hujan. Kurasa ia benda mati. Tidak dapat merasakan apapun. Berbeda denganmu dan kecamuk yang kerap hadir dalam kedua bola matamu….

Berbeda denganku dan kecamuk yang selalu hadir kala kau menenggelamkan dirimu dengannya….

“Tidakkah kamu kini melihatnya? Kepiluan dan kesepian yang disimpan rapat oleh hujan demi membahagiakan manusia-manusia kekasihnya yang selalu alpa mencintai hujan seutuhnya?”

Kali ini kamu meninggikan suaramu dan menengok kearahku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tidak sanggup memandang kedua matamu.

“Tidakkah kamu kini memahami bahwa hujan meminta untuk ditemani dan bukannya ditinggal pergi?”

Suaramu semakin meninggi. Aku dapat merasakan getaran diujung kalimatmu. Dan aku masih tak mampu untuk mengangkat wajahku dan memandang pualam wajahmu.

“Tidakkah kamu mengerti…”

Bisikmu lirih. Aku terpaku pada kursi rotan tua ini. Tak mampu bangkit untuk memelukmu atau meraih tanganmu. Aku lemah, aku terlalu lemah untuk menghadapi tatapmu yang aku yakin kini telah dihiasi bulir air yang buncah dari sudut matamu.

Dan aku masih terpaku pada kursi rotan tua ini. Bertahun setelahnya. Kala tak ada lagi kamu yang melamunkan hujan. Tak ada lagi kamu yang berbincang dengan ia. Tak ada lagi kamu dan mug mu yang kosong. Bertahun setelah kamu memutuskan untuk menjadi salah satu rintik hujan yang menyerahkan diri pada gravitasi dan luruh mencium kelabu aspal jalanan, aku masih duduk di kursi rotan tua ini. menceritakan kisah yang sama tentang hujan yang meminta untuk ditemani.

Hujan, yang alpa untuk kutemani.

Supernova!

Ibu, aku akhirnya melihatnya. Aku melihat cahaya itu. Cahaya itu yang bersinar sangat terang hingga membakar retinaku, kepalaku dan dadaku. Cahaya yang bersinar sangat terang di antara kegelapan yang membosankan. Cahaya yang bersinar sangat terang melebihi nyala api meteor kala bergesekan dengan lapis atmosfer.

Ibu, kurasa aku menemukan supernova-ku.

Ibu, cahaya itu dapat meniadakanku. Cahaya itu membakar, dan aku terbakar nyala nya. Aku pupus, ibu. Sirna. Lumat. Musnah ditelannya. untuk beberapa menit yang menyenangkan kurasa aku turut menyala bara, ibu. Membakar. Terbakar. Dibakar. Bakar. Pasiku mamah. untuk beberapa menit yang menyenangkan. untuk beberapa menit. semata menit. enggan mengulur jarum menuju jam.

Ibu, Kurasa aku menemukan mati-ku.

Ibu, aku terhempas. Aku terserak. menyerak. menyerpih. Usah aku merangkak menggandeng tiap serpih kembali. Menguntainya jadi satu yang padu. Usah aku meniti punggung sang angin, membujuknya untuk menguntalku kembali utuh. Aku menyerak dan aku berserah. Pada kehendak Yang Berkehendak. Kutemukan keberserahan kali ini, ibu.

Lihat, ibu! Debuku mengerjap perak! Debuku memantul cahya! Ilahi kah itu, Ibu?

Ibu, oh, Ibu! Tewas aku!

Meteor itu melesat pergi, Ibu. Kikis oleh atmosfer. Kini debu kosmiknya tersisa. nyaru denganku. Dengan kerlap kerlip debu semesta yang mantulkan cahya.

Supernova-ku redup, ibu. Lihat, ia mengerjap lelah. Matanya sembab. Dadanya membengkak. Sakitkah ia, Ibu? Apakah debuku menelisip dalam matanya? Lihat matanya mengalirkan untai permata mendung!

Mega mendung menggayut di angkasa kelabu. Siap menjatuhkan rerintiknya yang gemar berserah pada gravitasi.

Ibu, apa ini yang memelesak diantara rusukku? Apa ini yang berdentam keras dalam satu ketukan nyaring di antara kedua telingaku?

Ibu, aku telah binasa. Kali ini benar-benar binasa.

Is Life a Zero Sum Game?

Hidup sungguh lucu.

Biasanya tulisan yang diawali dengan kalimat tersebut adalah tulisan yang klise yang membahas ulang apa yang sudah begitu sering dibicarakan orang dari zaman dahulu kala. Tapi bukankah jika topik tersebut sudah dibicarakan berkali-kali dan tak ada habisnya maka berarti topik tersebut timeless dan akan selalu relevan? Menurutku begitu. So bear with it. Saya akan membicarakan tentang sesuatu yang kemungkinan besar sudah kalian ketahui dan mungkin akan membuatmu “blergh” tapi hey, mungkin kalian dapat melihatnya sebagai pengingat alih-alih sebagai sesuatu yang super-klise dan merupakan bukti bahwa saya sangat tidak kreatif untuk muncul dengan topik baru yang lebih segar dan ‘renyah’. Atau mungkin, memang benar bahwa “there’s nothing new under the sun”.

Actually, i write this because i had a cliche revelation today.

Cukup dengan pembukaan yang terlalu panjang ini, maka saya akan ulangi lagi kata pembuka basi dan membosankan saya diatas:

Hidup sungguh lucu.

Dan mungkin memang benar, Tuhan (Jika Ia memang ada, dan oh saya sungguh berharap ia ada) maha asyik (Mengutip dari frasa yg dipopulerkan oleh Simbah Sujiwo Tejo).

Ya, hidup lucu, kamu bisa benar-benar merasakan putaran roda giginya. Menggilas tulang-tulangmu, meremukkan jiwa dan semangatmu, membuangmu dalam kubang depresi dan keputus asaan. Namun roda gigi itu berputar. Dan tahu-tahu kamu menemukan dirimu bahagia, dan segala harapanmu terkabul. Segalanya dengan aneh dan misterius terposisikan ditempat-tempat yang tepat dan waktu-waktu yang tepat. Entah mengapa, kamu sama sekali tidak paham, tapi itu yang terjadi, out of nowhere, you made it. You made it to the primest position in your life, holding whatever it is you want. While you are not sure what kind of effort have you put into whatever this is that took you here to this point in life.

Kamu merasa tidak pantas, tapi kamu menikmatinya. Dan jelas kamu pun gelisah, karena roda gigi itu berputar, kamu akan tergilas remuk lagi oleh hidup. Tentu. Broken bones and broken spirit is something that we will always have to deal with in life. Kamu hanya perlu menerimanya. Dan ini, kesadaran bahwa roda gigi itu selalu berputar, membuatmu memiliki harap ketika kamu berada di titik paling rendah paling nadir dan merasa bahwa tidak ada lagi masa depan bagimu. Kecuali kamu berumur tua dan sedang terbaring menunggu ajal, masa depanmu memang hanya satu: ajal. Namun kamu yang masih aktif terlibat dalam putaran roda gigi hidup itu dan tidak berada dalam ambang kematian, kamu masih punya kesempatan dan harapan. Kamu masih memiliki alasan untuk hidup karena esok, menawarkan peluang baru.

Wait.

Kini ketika saya berfikir lagi tentangnya, saya menyadari satu hal lain. Bahwa harap adalah motor penggerak kita dalam hidup. Bisa jadi, harap lah yang menggerakan roda gigi tersebut, Kita berharap maka kita berjuang, maka roda gigi berputar. Namun roda gigi lain, dari kehidupan orang lain yang bukan kita juga turut berputar, dan karena kita terhubung, maka roda gigi lain tersebut memaksa kita untuk terus berputar meski itu berarti turun. When we are gaining something, someone else is losing something. Dreams do come true, but other dreams got crushed too.

But is life a zero sum game?

Is it?

Let me know what you think.