Gajah

Tik tok.

Biru merayap perlahan di sudut ruang.

hitam menganga lebar di langit-langit, mempertontonkan segala asa yang lumat.

Dan aku masih disini, menjaga bara tetap menyala. merah, nyalang.

Berkejaran dengan semesta dan waktu yang  memamah segala.

Titik keringat mengalir deras.

Gajah itu kembali lagi bersama biru yang kini hanya berjarak sejengkal dari ujung selimutku.

Gajah biru yang tak tahu diri.

Ia membawa hiruk pikuk dunia dan selebrasinya.

Melantunkannya tepat ke telingaku.

Sedang ruang ini semestinya menjadi tempatku bercengkrama dengan senyap.

Senyap ku lenyap.

 

Gajah sialan.

 

 

Jatuh Cinta yang Paling Indah, Terjadi diatas Gunung

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi diatas gunung.

Saat aku dan kamu menatap setapak tanah yang berliku, menanjak, dan menurun dengan curam. Tapi kita berdua tahu bahwa bagaimanapun beratnya, jalan ini dapat kita lalui bersama. Selama jemari kami tetap bertaut, menarik dan menjaga satu sama lain saat kita terperosok maupun tergelincir. Kita berdua tahu perjalanan ini tidak akan mudah, namun kita percaya perjuangan ini layak untuk kita lakukan. Karena pada akhirnya, setiap perjuangan akan terbayar lunas. Baik oleh hamparan padang edelweiss yang sedang mekar ataupun lautan awan yang berarakan dengan gembira dibawah kaki kita. Pun perjuangan hati kita akan terbayar lunas, oleh pelajaran hidup yang akan kita tuai dari langkah kita bersama.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu meluruh kedalam pelukan pepohonan, berusaha menjadi bagian dari kemajestikan alam semesta. Berusaha memberi makna atas setiap langkah yang kita ambil. Berusaha mengenali dan menguasai diri lebih dalam lagi. Setiap langkah, akan menjadi cerita yang baru, berisi pemahaman akan hidup. Kamu akan terlihat beribu kali lebih indah dalam rengkuhan hutan daripada ketika kamu berada dibawah gemerlap lampu kota. Dan aku akan mencintaimu beribu kali lebih dalam.

Jatuh Cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu bersandar dibawah rimbun pepohonan, melepas lelah. Lamunan kita akan melayang, ke masa depan yang menanti kita bersama. Kita akan mengerti arti penting sebuah komitmen. Karena tanpa komitmen yang kuat pada diri, kita tidak akan pernah mencapai puncak. Begitu pun dalam hubungan kita, tanpa komitmen yang kuat pada diri sendiri dan pasangan, kita tidak akan pernah mencapai masa depan yang kita rancang bersama. Pun kita juga akan berusaha untuk ikhlas dan rela ketika semuanya harus berakhir ditengah jalan. Karena gunung juga telah mengajarkan pada kita bahwa seringkali semesta memiliki kehendak lain yang tidak sejalan dengan keinginan kita dan kita tak dapat mengubahnya atau melawan putusannya. Kita akan mengerti, bahwa usaha dan persistensi dibutuhkan dalam perjalanan. Akan tetapi segala ambisi tersebut harus diimbangi dengan kerelaan dan sikap berserah karena terdapat variabel penentu lain selain diri kita. Keseimbangan menjadi prinsip penting dalam tiap perjalanan kita. Baik perjalanan dunia maupun perjalanan hati.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu duduk bersama, memandangi hamparan langit kelam berbintang. Kita akan terbawa syahdunya sinar keperakan rembulan dan bercerita mengenai segala kecamuk dalam diri. Ah magis malam memang selalu berkali lipat kala kita menghabiskannya di atas gunung. Dingin angin dan sayup suara serangga akan membius kita. Merasa terhubung dan satu. Kita akan mencoba mengisi ruang hampa di antara kita dengan bahasa. Mencoba memahami satu sama lain melalui tutur kata dan dongeng-dongeng. Dan kita akan jatuh cinta, pada tawa dan sendu yang kita bagi bersama. Hingga tak terasa malam mulai pudar, memanggil kita untuk menelisip kedalam kantong tidur dan mengucapkan selamat malam.

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu menapakkan kaki untuk pertama kalinya dititik tertinggi gunung. Saat kita lebur dalam kebahagiaan dan tak segan menitikkan air mata dihadapan alam yang begitu megah. Sinar pertama mentari akan menimpa sebagian wajahmu, menyinarimu dengan cahaya keemasannya. Dan kita akan jatuh cinta lebih dalam, lebih tergesa. Kita akan menyadari betapa rapuhnya kita dan segala emosi jiwa ini. betapa tidak berartinya kita dihadapan semesta. Dan apalagi yang dapat kita lakukan selain menikmati tiap detik yang mengalir rapuh ini, kasih?

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat aku dan kamu berjalan beriringan di setapak yang rimbun. Kita akan menjadi seorang yang mampu menjaga jarak yang tepat. Karena diatas gunung, tanpa jarak yang tepat kita akan berakhir mencelakai satu sama lain. Kekasihku dan aku akan tahu benar akan hal itu, maka kita akan menjadi seorang yang pandai menjaga jarak. Memberi spasi. Menanam kerinduan. Dan aku akan mencintainya lebih lagi karena hal itu. kekasihku pun akan mengerti bahwa ia tidak akan pernah benar-benar memiliki dan menguasai apapun selain dirinya sendiri, karena gunung telah mengajarkan hal itu padanya dengan keras. Pun hatiku bukan sesuatu yang dapat ia miliki seutuhnya, karena sebagian besar hatiku akan selalu dikuasai oleh alam dan semesta yang begitu luas. Dan begitupun hatinya, tidak akan pernah dapat kumiliki seutuhnya.

Jatuh Cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung.

Saat kabut tipis turun perlahan-lahan, mengaburkan pandang. Dan kita harus berjalan perlahan, tertatih. Namun semua terasa ringan dengan jemari kita yang tertaut. Kita tahu bahwa kita tidak sendiri, dan kita ada untuk satu sama lain. Meski segala dibalik kabut merupa ketidak pastian, namun kita akan berani menghadapinya. Berkali lipat lebih berani. Dan bukankah dalam hidup pula kabut sering turun? Mengaburkan masa depan, membuat kita merasa bahwa masa depan kita suram. Dan bukankah akan lebih mudah menghadapi ketidak pastian hidup bersama seseorang yang pasti mencintaimu?

Jatuh cinta yang paling indah, terjadi di atas gunung

Saat aku dan kamu menatap ke kedalaman mata satu sama lain, tertawa, dan bersyukur kita telah jatuh cinta diatas gunung. Bersyukur, kita telah menemukan jatuh cinta yang paling indah.

artikel ini telah dipublish di Hipwee pada 23 Maret lalu, namun dengan cukup banyak suntingan disana-sini. Saya jauh lebih menyukai karya asli saya dibandingkan dengan yang telah disunting oleh Hipwee maka saya mempublish karya ini lagi disini. Berikut tautan ke artikel saya di Hipwee:

http://www.hipwee.com/daripembaca/kepadamu-gunung-yang-pernah-kita-daki-bersama-terima-kasih-telah-membuatku-jatuh-cinta/

Foto diambil oleh Siti Sulastri

Dua Pucuk Surat Terbengkalai di Pangkuan Batara Guru yang Telah Membangkai

Batara Guru,

Ini adalah surat kedua yang saya layangkan ke haribaanMu. surat kedua yang saya kirimkan hanya untuk terbengkalai di pangkuan Engkau yang telah membangkai. Engkau, yang dahulu begitu dewata, begitu emas permata. kini tak lebih dari sekadar tulang-belulang dengan sejumput daging busuk di sana-sini, bergelantungan di rangka-rangkamu. RangkaMu yang dulu begitu megah berbalut kearifan, kesantunan, keluhuran budaya. ah, kini Engkau telah tewas, mangkat, modar. dan kami sendiri lah yang telah membunuhMu, membunuh ke-adiluhung-anMu. Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!* Dulu kita bersorak gempita mengabarkan kematian Engkau. DarahMu menjadi noktah abadi di tangan dan jiwa kami.

Batara Guru,

Engkau mungkin telah lama mati, Engkau mungkin telah berupa seonggok bangkai bau tak berarti. Namun pada suatu masa yang silam, yang lampau, Engkau pernah menjadi kiblat kemana kami melangkah. Engkau pernah menjadi cahaya yang mengisi bejana-bejana di rumah kami. Dan kini saya kembali menghadapMu. Bicara pada bangkaiMu yang sungguh memuakkan. Namun kepada siapa lagi dapat saya kirimkan surat penghantar keresahan ini selain padaMu? Engkau telah mati, mangkat, modar, namun biarlah bangkaiMu jadi tempat saya menuang resah yang telah lama kutampung dalam belanga langu ini. Meski saya harus bicara pada bangkai, tak ubahnya pesakitan.

Batara Guru,

Resah ini menggugat meminta digubah jadi gerak juang. Resah ini menggugat dengan begitu hebat dan ia sambat. Sambat pada modernisasi yang meleburkan nilai. Sambat pada zaman yang gemar sekali mencumbu ambigu. Sambat pada kami, manusia-manusia yang menitah ragu menjadi tumpu. Sambat pada merah gincu yang merah bukan alang kepalang sedang juang kami tak kunjung memerah marah. Resahku ini sambat tak tahu aturan. Namun ia pula tak tahu jalan mana yang dapat ditempuh agar redam atau malih jadi aksi.

Batara Guru,

Dahulu para pendongeng berkisah tentang pandita-pandita yang membawa kearifan alam ke hadapan manusia yang congkak. kemanakah kini para pandita itu? Sudahkah mereka memasuki gorong-gorong konsumerisme yang menghantar mereka tepat ke mulut raksasa kapital yang menganga lebar siap menelan seisi dunia? Apakah mereka kini menjelma pandita korporasi yang menjajakan kearifan di televisi? padahal televisi tak pernah peduli pada apa yang arif, apa yang luhur dan mulia. Televisi hanya peduli grafik rating tanpa pernah mau tahu perubahan apa yang telah mereka torehkan di masyarakat.

Batara Guru,

Saya pun gamang mencari kearifan yang syahdan terselip dalam sela-sela diantara rintik air hujan. tersemat dalam senyap diantara rentet kata. Tertatah dalam jiwa yang tak jemu menempa kehidupan. Saya gamang. Kearifan yang dikisahkan begitu sakti mandraguna nyatanya tak kunjung saya temukan. Hingga jengah saya memungut serpih jawab dari tanya yang kulempar pada semesta. namun tak pula kutemukan kebenaran yang paling pakem.

Batara Guru,

Haruskah saya berhenti melempar tanya agar resah tak melulu menggugat? Saya yakin kamu akan melarangku pensiun bertanya. Karena tanpa tanya, saya tak ubahnya binatang. Menerima segala sesuatu sebagai keniscayaan. Sedangkan bahkan engkau, Batara Guru, Raja yang Maha Diraja, Putra dari Sang Hyang Tunggal, ayah dari para dewata, yang begitu sakti mandraguna, tak dapat menjadi satu yang niscaya.

Lalu apakah yang niscaya di dunia yang maya ini? Ketiadaan. Ketiadaan yang niscaya.

*Frasa terkenal dari Nietzsche

(Surat pertama dapat ditilik disini)

Tuhan dalam Bejana

Saya telah menghabiskan setidaknya tiga tahun terakhir dalam hidup saya mencari berbagai negasi atas eksistensi Tuhan. Saya menolak untuk percaya. Namun tidak dengan kenetralan dan kacamata yang imparsial. Nyatanya saya bukan mencari ‘kebenaran’ namun saya hanya mencari argumen pendukung bagi penolakan saya atas Tuhan. Saya menolak membaca buku-buku relijius karena saya sudah duluan mencapnya sebagai sesuatu yang dogmatis dan mengkotak-kotakkan antar agama. Saya sudah duluan menolak segala yang berbau agama. Bahkan saya menolak berdiskusi mengenai agama. Saya berdalih bahwa agama adalah hak prerogatif setiap manusia. dan tidak butuh diperbincangkan, apalagi didiskusikan.

Namun kalau saya benar-benar jujur, saya menolak bicara agama bukan karena alasan diatas. Saya semata menolak karena takut lawan bicara saya akan bicara sesuatu yang saya benarkan dan menggoyahkan fondasi penolakan saya akan Tuhan.

Saya munafik. Bicara tentang betapa kebenaran tidak pernah mutlak. Akan tetapi saya sendiri memutlakan diri untuk menolak keberadaan Tuhan dan keabsahan agama. Saya menolak pergi ke masjid, gereja, atau rumah peribadatan lainnya. kenapa? Karena saya malu akan diri saya yang begitu sombong. Karena saya pikir yang diomongkan oleh para pengkhotbah segalanya adalah doktrin dan saya yang merasa dikaruniai akal ini menolak untuk didoktrin. Tapi saya mengeneralisir terlalu jauh. Saya salah. Tidak semua pengkhotbah mengajarkan dogma dan menolak akal. Beberapa pengkhotbah meski agamis totok namun tetap memegang teguh akal. Saya sombong, menolak mendengar pendapat para pengkhotbah karena sudah memutlakan penolakan terhadap sesuatu yang sungguh abstrak seperti Tuhan. Atau mungkin, saya sekedar takut diri saya yang teramat rapuh pondasinya ini akan termakan doktrin pengkhotbah? Mungkin.

Pemahaman saya kini tidak sampai kemana-mana. Karena saya terlalu sibuk menegasikan Tuhan hingga lupa mencari keberadaannya. Mungkin memang Tuhan ada. Namun kita meletakkannya dalam bejana yang berbeda-beda. Dan bejana itu kita simpan pula dalam koridor yang berbeda-beda. Kita semua memanfaatkan Tuhan, hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana islam dan menaruhnya dalam koridor ‘ketakutan’ dimana Tuhan menjadi Sang Maha Penghukum. Ada yang menaruh Tuhan dalam bejana Kristen namun menaruhnya dalam koridor ‘penghibur lara’ dimana Tuhan menjadi semata tempat mengadu. Ada pula yang menaruh Tuhan dalam bejana Hindu dan menyebarnya ke koridor mana-mana dimana Tuhan menjadi penghukum, penyayang, penghibur lara, pemberi penghidupan dan segalanya. Menurut pemahaman saya kini, inipun tidak salah. Semua melakukan apa yang mereka butuhkan. Mereka butuh untuk menaruh Tuhan dimana?

Saya belum menemukan bejana yang tepat untuk menaruh Tuhan saya. Apalagi menaruhnya di koridor mana. Sungguh, saya ingin dapat bersandar pada sesuatu yang lebih besar dari saya, namun Ia terlalu abstrak untuk saya golongkan kedalam sebuah bejana saja. sungguh saya ingin memanfaatkan Tuhan, namun saya masih merasa terlalu nihil untuk memanfaatkan sesuatu yang katanya Maha Segalanya.

Dan kini saya mengerti alasan dibalik kenihilan saya yang menjangkit tak kunjung terobati ini; saya terlalu sibuk menegasi Tuhan tanpa pernah mau mencari serpihnya dengan sungguh-sungguh.

Perempuan Berselubung Sunyi

Ada Pelatuk yang melagu. Berkisah. Syahdan, hiduplah seorang perempuan berselubung sunyi. Tak ada sesuatu pun yang ia akrabi melainkan sunyi. Sunyi yang terlalu familiar untuk ia hentak pergi. sunyi yang ia timang mesra dan intim.

Perempuan berselubung sunyi. Menjaganya agar tetap sepi. Menjaga bisiknya agar tetap bisu. Menjaga jeritnya agar tetap gagu. Perempuan berselubung sunyi. Terlalu pekak. Terlalu riuh. Hingga melankoli merintik. Perempuan itu tetap berselubung sunyi. Menjaganya tetap sepi.

Perempuan berselubung sunyi. Gelayut biru tersimpan di kedua matanya. Mewujud samudera. Siap mengutus hujan agar membanjir. Mengaliri liang-liang rindu. Gorong-gorong kenang. Hingga kuning lampu jalanan tak lagi mampu mengisi sunyi yang ia selubungkan rapat disekujur jiwanya.

Ah, perempuan berselubung sunyi. Teganya kamu! Sunyi tak patut kau kenakan serupa pakaian! Sunyi pula tak patut kau titah serupa perhiasan! Sunyi terlalu agung untuk kau tatah menjadi perisai!

Tega!

Sunyimu serupa sangkakala! Membunuh!

Perihal Jati Diri dan Menjadi Buta

Beberapa malam yang lalu, saya berbincang dengan seorang kawan yang sedang dilanda kebimbangan. Ia mempertanyakan hakikat diri. Merasa terlambat dalam menemukan jati diri. sedangkan orang lain seusianya tidak seharusnya masih memikirkan hal-hal seperti jati diri dan kebermaknaan hidupnya.

Lalu saya jadi bertanya, apa memang mungkin bagi kita untuk benar-benar memahami siapa diri kita sejatinya? Termasuk dengan makna sejati keberadaan kita di dunia. Kok rasa-rasanya… tidak mungkin.

Mungkin kekhawatiran teman saya itu berlebihan, mungkin sebenarnya tidak pernah ada seorang pun yang benar-benar mengerti siapa dirinya dan untuk apa ia ada. Seringkali, hidup kita tercipta dari serentetan reaksi kita akan segala sesuatu. Tentu ini tidak dibenarkan, namun memang benar terjadi, kan? We’re merely trying to survive.

Kenapa kita berada di titik kita berdiri sekarang? Jika ditanyakan, mungkin hanya sedikit orang yang dapat menjawabnya dengan pasti dan konsisten dari waktu ke waktu. Saya sendiri merasa berada di titik ini semata karena hidup ‘mengalirkan’ saya kesini. Tidak karena saya punya idealisme tertentu yang ingin diwujudkan dan titik ini merupakan salah satu tahapannya. Lha wong idealisme seseorang saja kerapkali berubah-ubah sesuai dimana ia berdiri kok. Mimpi seseorang pun seringkali disusun berdasarkan posisinya. Misal, seorang yang tadinya bermimpi ingin menjadi diplomat eh ternyata dijalan ia melihat bahwa menjadi diplomat tidak mudah lalu mangkir dan bermimpi jadi pengusaha. Mimpi dan idealisme kita banyak ditentukan oleh dimana posisi kita. Nanti mungkin dikala hidup memaksa kita mengikuti arusnya hingga ke titik lain, mimpi dan idealisme kita pun akan turut berubah. Dan pemaknaan diri, tentunya juga akan berubah.

Lalu apakah ada ‘diri yang sejati’? entahlah, teman saya yang mempelajari ilmu psikologi berkata bahwa ada ‘diri yang sejati’ berenang di alam bawah sadar kita. Dan ‘diri yang sejati’ itu permanen, akan selalu ada dan begitu. Namanya saja sejati. Tapi rasanya mengesalkan bukan, kita memiliki satu set karakter yang ada begitu saja dan tidak dapat dihapuskan. Sedangkan karakter itu bukan kita yang membentuk melainkan keluarga dengan pendidikan dini yang mereka berikan. Ah, jikapun benar kita memiliki karakter set yang pakem, toh kita dikaruniai pikiran untuk menelaah ulang dan merekonstruksi diri.

Lalu pentingkah untuk mengetahui karakter pakem kita (jika memang ada)? Haruskah kita mengkhawatirkan diri jika kita tidak mengerti karakter pakem kita? Padahal kita telah diberi kebebasan akses untuk mengkonstruksi diri sedemikian rupa. Melalui pendidikan, teknologi dan informasi yang beredar bebas. Tidak bisakah kita tidak memusingkan yang sejati dan hanya berfokus pada seperti apa kita ingin diri kita menjadi?

Ah, pening.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah menjalankan hidup, bukan? Yang penting adalah tetap melangkah kedepan, kan? Meskipun mungkin akan lebih mudah jika kita tahu dengan jelas karakter dan preferensi diri yang sebenar-benarnya, Namun tidak masalah. tanpa tahu pun kita masih dapat berkarya dan bermanfaat. Seperti kutipan berikut,

terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk

-Tan Malaka

Mungkin benturan yang akan dialami jika melangkah tanpa mengetahui ‘karakter pakem’ kita akan lebih banyak. Akan tetapi, benturan itu-lah yang nantinya akan membentuk karakter, merevisi ‘karakter pakem’ kita.

Toh, dunia penuh dengan segala sesuatu yang telah dikonstruksi sedemikian rupa dengan hati-hati oleh para perancang sistem sosial. Atau mungkin, mereka pula berjalan dengan buta macam kita? Tak tahu arah dan semata bereaksi?

Dua

Kita adalah dua yang tak pernah satu.

Dua yang terlalu bertolak untuk bergerak mendekat.

Dua yang terlalu angkuh untuk saling mengamini

Dua yang terlalu kaku untuk saling melengkapi

Dua yang terlalu buta untuk bersitatap

Dua yang terlalu riuh untuk saling memahami

Dua yang terlalu rikuh untuk berucap jujur

Kita adalah dua yang tak pernah satu

Dua yang terlalu mengasihi untuk beranjak pergi