The Everyday Heroes

Memulai tahun ini dengan merantau untuk pertama kalinya, I was ecstatic. Sejak SMA, aku sudah bermimpi untuk tinggal di kota lain dan menghadapi ribuan kemungkinan yang muncul. Sayang, impianku untuk kuliah di kota lain pupus karena ultimatum dari Ayahanda yang tak mungkin kubantah.

Kesempatan untuk merantau justru muncul saat aku menginjak paruh akhir 20-an. Bukan usia yang umum untuk memulai hidup baru di tempat baru memang, tapi semangatku nyatanya masih sama. I board my train to the capital city with this giddy excitement on my chest, although leaving my hometown wasn’t easy.

Tentu saja, menjadi anak rantau walau sudah lebih stabil secara emosional maupun finansial, terbukti tidak mudah. Aku rindu kota asalku dan keluarga, kesepian, dan merasa canggung di tengah orang-orang yang terlihat sangat berbeda dariku. Bahkan mengunjungi supermarket untuk belanja pun terasa menantang karena jalan yang nggak kukenali.

Tapi keadaan inilah yang bikin aku merasakan pentingnya meminta tolong dan menerima uluran tangan sekitar. Menemukan pahlawan sehari-hari di sekitar kita, yang membuat kehidupan menjadi lebih baik. Aku belajar menekan egoku yang ingin selalu hidup mandiri dan tidak bersandar pada kebaikan dan bantuan orang lain.

Heroes come in many shapes and colors

Flickr

Bicara pahlawan, mungkin yang kita bayangkan adalah Jenderal Sudirman yang angkat senjata mengusir penjajah, atau Kartini yang memperjuangkan hak perempuan untuk menuntut ilmu. Pahlawan adalah sesuatu yang besar, mereka yang berhasil mencapai hal-hal menakjubkan dan mengubah kehidupan orang banyak.

Namun seiring dengan berjalannya kehidupan, sepertinya makna pahlawan pun turut meluas. Bukan hanya mereka yang berjasa bagi bangsa dan negara. Namun mereka yang berjasa bagi lingkungan sekitar dan individu lain, juga patut menyandang gelar sebagai pahlawan. Mereka yang menjadi roda gigi dari masyarakat modern, berjasa membangun kehidupan, as we know it.

Di ibu kota, pahlawanku adalah bapak porter kereta api yang membantuku mengangkut barang-barang dari kereta hingga menuju lokasi penjemputan. Bapak kos yang membantuku settling di tempat tinggal baru, serta mengangkut sampah setiap pagi dari depan kamar kos. Ibu penjual sayur di gang yang memberikanku opsi untuk belanja mudah tanpa harus ke pasar atau supermarket. Pekerja umum yang membenahi lubang di tengah jalan agar tak ada lagi orang yang celaka. Atau Super Agen yang membantu para pemilik warung sembako untuk kulakan lebih mudah.

Mereka, yang membuat kehidupan lebih baik bagi sekitar. Roda gigi masyarakat, yang memastikan hidup terus bergulir untuk semua orang

I Am Too, A Hero

Unsplash

Sadar nggak, kalau aku dan kamu juga pahlawan bagi sekitar? Apapun pekerjaanmu, se-egois apapun alasanmu dalam mengambil pekerjaan itu, tapi pekerjaan kita bermanfaat lho untuk orang lain dan diri sendiri.

Aku adalah seorang copywriter, reviewer, dan marketing associate. Aku memberikan manfaat bagi sekitar dengan mewartakan kehadiran produk yang mungkin dibutuhkan orang lain. Seems minuscule, ya? Tapi itu caraku menjadi pahlawan bagi sekitar. Nggak harus kerja sosial, nggak harus jadi orang paling self-less sedunia untuk jadi pahlawan kok. Aku bisa, kamu bisa, kita semua bisa jadi pahlawan dan berkontribusi bagi sekitar.

Aku juga menjadi pahlawan untuk diri sendiri dengan terus berupaya mengadopsi pola pikir serta gaya hidup yang lebih sehat. Nyatanya, kita semua butuh untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Memeluk diri saat resah dan insecure. Meyakinkan diri saat kita merasa tak cukup baik. Memberi waktu bagi diri untuk beristirahat dan melakukan hal yang membahagiakan.

If that’s not enough, ada kok cara lain menjadi pahlawan. Yakni dengan menulis. Menuangkan idemu, buah pikirmu. Mengajak orang lain ikut dalam aktivitas positif seperti Kontes Blog Super Bercerita. Mengusung tema #KadoUntukPahlawan, kontes blog kali ini mengajak kita semua yang hobi blogging untuk berkisah tentang pahlawan-pahlawan di sekitar kita. Nggak hanya menyebar energi positif lewat tulisan, kita juga berkesempatan untuk mendapatkan hadiah hingga jutaan rupiah lho! Cek syarat dan ketentuannya di sini, ya!

Langkah Kecil Bagi Bangsa

“Apa sih langkah yang sudah kamu berikan bagi Indonesia?”

Aku pertama mendapatkan pertanyaan di atas kala mengikuti seleksi LPDP. Saat itu, sungguh aku bingung apa jawaban yang bisa kuberikan. Bagi seseorang dengan sindrom impostor, pertanyaan ini hampir mustahil untuk dijawab. Bayangkan, ada bangsa yang sebegini besar dan kamu hanyalah satu noktah kecil tak kasat mata di dalamnya. Apa yang bisa kamu perbuat bagi bangsa? Bukankah bentuk kontribusi bagi bangsa itu jadi semacam delusi semata? Saat itu, aku menjawabnya dengan menyebutkan beragam aktivitasku, yang saat itu aku sendiri melihatnya sebagai omong kosong.

Pertanyaan ini kembali aku temukan di Kontes Blog #Superbercerita. Jujur, aku hampir memilih untuk menulis tentang orang lain di topik Superhero Negeriku. Rasanya, aku masih tak memiliki jawaban atas pertanyaan di atas. Rasanya, masih mustahil bagi seorang yang bukan siapa-siapa untuk bisa berkontribusi bagi bangsa.

Beberapa waktu lalu, aku mendapat shock therapy dari seseorang. Ia bertanya, ketika keluargaku, teman-temanku, dan pasanganku sendiri percaya akan kemampuanku dan mengandalkanku untuk banyak hal, kenapa aku tidak percaya akan kemampuanku sendiri? Setidaknya kalau itu susah, kenapa tidak memutuskan untuk percaya pada orang lain yang mengatakan kalau aku mampu?

He is right. Saat aku tidak bisa percaya pada diri sendiri, di saat itu pula aku menyangkal semua orang yang sudah mempercayai dan menaruh harap padaku. It might be hard to trust your own distorted views, tapi kenapa tidak percaya pada orang lain?

Menilik kembali, ternyata kontribusi bagi bangsa tak harus melulu berbentuk inisiatif besar. Melalui inisiatif kecil untuk memupuk diri dan orang-orang di sekitar kita, itu saja sudah merupakan kontribusi bagi bangsa. Ingat, bangsa yang maju membutuhkan manusia yang sehat akal, sehat pikir, sehat jiwa, dan sehat jasmani. Maka, bukankah dengan me-nurture diri dan sekitar, kita sudah meletakkan bata-bata kecil untuk jalan bangsa menuju ke masa depan yang lebih baik?

Langkah tak melulu harus besar. Hampir semua perubahan besar berawal dari langkah kecil seseorang yang berani memulai dan mendorong diri untuk berkembang. Langkah kecil itu yang mendorongku bergabung dengan perusahaan social commerce dengan misi untuk memajukan perekonomian bangsa. Menjadi roda gigi kecil dalam inisiatif besar, kenapa tidak? Bukankah itu langkah konkrit bagi negara?

All of the maybes you left me with

Maybe it was all in my head.

Maybe I put in too much cotton candies and ice creams into something that is as bland as unsalted butter.

Maybe I was happy alone, not together.

Maybe I dreamt alone and you were all scared and jittery that you choose to put me as a temporary residence only.

Maybe letting us break apart actually sets you free.

Be free, then. Soar and roar. You don’t need your fragile eggshells anymore.

Afterall, I’d hate to be the one who chokes you down.

Kenapa memilih kosmetik cruelty free?

For the past few months, I’ve been getting into skincare and cosmetics a lot. I started taking care of my skin more than usual. Sebenarnya dari dulu sih sudah tertarik ya, karena aku juga beberapa kali pernah coba-coba pakai metode skincare yang all natural. Bukan hanya pakai skincare yang berlabel alami aja, aku dulu justru gemas dengan DIY skincare. Mulai dari bikin cleansing oil, face wash, sampai cold cream sendiri, biarpun memang lebih banyak gagalnya sih daripada berhasilnya. And so when I say that natural skincare is not always better, I’m talking from experience (I mean come on, pakai bedak dari tepung dan cokelat bubuk? Not a great idea.)

Although I have my fair share of natural skincare failure, and currently renounce DIY natural skincare, tapi aku masih berpegang teguh pada prinsip nonviolence. That’s why I choose to go cruelty free. Karena aku rasa nggak adil kalau ada hewan-hewan yang harus menderita atau mati hanya demi penampilan kita.

Aku masih bisa paham jika obat-obatan memerlukan animal testing, karena itu menyangkut nyawa. Tapi untuk kosmetik dan penampilan? No life should be harmed for the sole purpose of vanity. Apalagi ketika ada metode ujicoba lainnya yang diklaim bisa sama efektifnya atau bahkan lebih efektif.

Apa iya cuma demi bulu mata yang lentik bervolume kita tega membiarkan banyak kelinci kesakitan dan buta? Atau demi bibir yang berwarna-warni, kita rela membiarkan tikus mengalami sensasi terbakar dan meninggal?

Well I don’t, and I can’t live with that. So going cruelty free to me, is the right thing to do. Bukannya lebay atau apa, tapi ketika ada pilihan yang lebih baik, kenapa lebih memilih menyakiti makhluk lain? Pun hingga saat ini, aku juga belum berhasil 100% cruelty free (Semua butuh proses kan?). Aku masih menggunakan toner dan facial wash dari brand yang melakukan animal testing. But I’m looking forward to finish them dan beralih ke produk cruelty free.

Awalnya sempat takut akan kesulitan menemukan produk-produk cruelty free. Tapi ternyata nggak juga kok. Terlebih buat kita yang hidup di Indonesia dan akrab dengan produk kosmetik halal. Karena selama produk tersebut dilabeli halal, berarti produk tersebut juga cruelty free. Isn’t that such a convenience? Selain itu, di Indonesia juga ada beberapa brand indie kosmetik yang mengklaim nggak melakukan animal testing seperti Sensatia Botanicals, Mineral Botanica, atau brand-brand yang less popular but has good reviews kayak Sandara Jiwa dan Envygreen.

Pun kalau kita mau coba produk luar, ada banyak kok brand skincare Korea dan Amerika yang cruelty free dengan kualitas bagus. Sebut saja The Ordinary, Klairs, Cosrx, Benton, dan lain-lain. Kalian bisa coba googling lebih lanjut terkait list brand cruelty free atau penjelasan lebih dalam tentang cruelty free dan animal testing. Intinya, ada banyak opsi yang bisa kita coba kalau mau going cruelty free, dan kita nggak harus berakhir dengan DIY skincare yang banyak gagalnya daripada berhasilnya itu juga kok.

Kunci menjadi cruelty free sebenarnya sederhana: Sadar dan mau effort. Sadar, kalau segala pilihan kita, sekecil apa pun, akan berdampak pada lingkungan sekitar. Effort, karena kesadaran tanpa effort hanya akan jadi kegalauan semata. Jadi harus mau berupaya menemukan solusinya meskipun hanya di skala personal.

Nggak sulit kan?

Skincare alami, apakah selalu lebih baik?

Ada banyak cara untuk menilai apakah kulit kita sehat atau enggak. Beberapa orang percaya bahwa kulit sehat adalah kulit yang jauh dari berbagai bahan kimia dan segala jenis produk sintetis. Hal ini mungkin benar hingga level tertentu. Tapi beberapa jenis kulit membutuhkan support lebih untuk menjaganya tetap sehat. Beberapa membutuhkan zat aktif dengan konsentrasi tertentu untuk bekerja di kulitnya. Dan nggak ada yang salah dengan itu.

Bahan kimia, sama halnya dengan teknologi dan media sosial, adalah alat yang bisa kita gunakan untuk tujuan baik maupun jahat. Mau jadi sosok antagonis maupun protagonis alat-alat ini, semua kembali kepada kita selaku penggunanya. Jadi nggak adil rasanya kalau kita menyalahkan bahan kimia. Selama kita paham apa yang kita gunakan dan nggak berlebihan dalam memanfaatkannya, bahan kimia bisa sangat membantu kok.

Begitu pula dengan bahan organik  atau alami. Kita semua terkondisikan untuk berpikir bahwa yang alami selalu lebih baik. Padahal semuanya kembali lagi ke kita sebagai penggunanya. Apakah zat dalam produk alami tersebut cocok? Apakah kadarnya aman dan sesuai dengan anjuran BPOM? Apakah sudah ada penelitian mendalam mengenai bahan tersebut dan dampaknya pada kulit? Apakah konsentrasinya cukup tinggi hingga dapat memberikan perubahan? Karena ternyata ada lho orang-orang yang justru nggak cocok dan menunjukkan reaksi alergi atau nggak cocok saat menggunakan kosmetik alami.

Masih ingat dengan tren minyak kelapa yang digilai oleh pecinta produk alami? Meski bagi beberapa orang minyak kelapa memang bekerja sesuai klaimnya, membuat kulit lebih sehat, lembap dan bercahaya, tapi ternyata minyak ini bisa menyebabkan breakout di beberapa orang lain. Hal ini dikarenakan minyak kelapa memiliki sifat comedogenic yang dapat menyumbat pori-pori bagi mereka yang memiliki jenis kulit acne prone. Beberapa orang yang mencoba melakukan teknik Oil Cleansing Method dengan minyak kelapa pun mendapati kulitnya justru semakin kering dan kusam setelah beberapa minggu pemakaian.

Kalau mau dicari, ada banyak juga kok kisah-kisah breakout atau nggak cocok sama skincare alami atau DIY. Apalagi mereka yang punya kulit sensitif, using products specifically tailored for sensitive skin may be their best bet on getting healthier skin.

Pada akhirnya, semua kembali kepada nilai dan preferensi kita masing-masing. Nggak ada salahnya jika kita mau mencoba produk kosmetik natural atau bertahan dengan yang “nggak natural”. Nggak ada yang “pasti” lebih baik. Karena kulit kita berbeda-beda dan nggak ada cara pasti untuk mengetahui apakah suatu produk cocok untuk kita selain mencobanya langsung. Semua kembali pada seberapa dalam kita mengenal kulit kita dan kebutuhannya. Selama kita mampu memenuhi kebutuhan kulit, tampilan organ tubuh kita yang satu ini pun pasti akan lebih baik dan bercahaya.

So, stop judging others or yourself for not going the organic and natural route. Do whatever works for you.

One of those days

You beg for the earth to swallow you whole. Sending you straight into oblivion. You wish your bed is a quicksand. Sucking your existence, your memories, your footprints.
If only, your chest isn’t a blackhole. If only the elephant would give you a break and let you breathe for a moment.

merah muda

Katamu jatuh cinta itu merah muda.

Nyalang merah, jalang dan bara

Semu putih, naif dan malu-malu

Baku cium di balik tirai liris pujangga

Hingga senja benam dan bulan gantung separuh
Karena memang cinta harus datang dengan sejumput naif

Sejumput naif untuk percaya, bahwa selamanya bukan hanya denting lonceng santa klaus di malam sepi
Lalu kau kawin mawin

Noktah merah di atas derit ranjang saat purnama. Noktah serupa darah.

Mungkin ranjangmu terbuat dari ribuan jarum yang merancap semakin dalam seiring derak rusukmu yang kini kau nyana lengkap.
Jatuh cinta itu merah muda katamu,

Lalu bagaimana menakar merah muda? Berapa merah dan putih harus kita ramu demi rambut putih dan keriput di wajah kekasih?

Pasir hisap itu hidup

Akrab. Kamu pernah berada di sini sebelumnya. Menjelma jam pasir. Tik tik tik yang berjalan terlalu lambat. Pun tiap detak jam meluruhkan sedikit demi sedikit dirimu.

Siapa yang tahu kepalamu serupa pasir hisap, mampu menelan akal sehatmu utuh?

Siapa yang tahu bahwa jam pasir tidak punya jemari pun suar dengan lampu 50 watt untuk memandu kapal-kapal yang akrab tapi asing?

Siapa yang tahu, gajah dapat duduk di atas dada manusia meremukkan segala sendi dan kebanggaan?

Eka Kurniawan, Surealisme dan Kekelaman Hidup

Buku-PerempuanPatahHati-1

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

sumber gambar

Membaca Eka Kurniawan, saya seakan diingatkan kembali pada masa-masa SMA dahulu di mana saya kerap kali menghabiskan waktu di perpustakaan mencari buku-buku cerita yang menarik. Salah satu buku kesukaan saya, adalah buku Malaikat Jatuh karya Clara Ng. Dalam buku tersebut, terdapat beberapa cerita yang dikemas dalam satu buku. Ada satu hal yang jelas terasa dari tiap cerita tersebut; nuansa surealis nan kelam.

Begitupun buku Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan. Buku ini berisikan beberapa cerita pendek dengan nuansa kelam yang kental. Yang membuat setiap pembacanya lalu merenungi kelamnya kehidupan, betapa kehidupan mampu mengombang-ambingkan dan menginjak-injak anak manusia. Entah ada apa antara sastra surealis dan kekelaman hidup, namun keduanya kerapkali disandingkan bersamaan. Karena tidak hanya Clara Ng dan Eka Kurniawan, banyak penulis sastra lain yang gemar mengangkat cerita mengenai borok dan bobroknya kehidupan dan mengemasnya dalam berbagai metafor di dunia yang surealis. Seperti Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Penembak Misterius. Atau Djenar Maesa Ayu dalam bukunya Mereka Bilang Saya Monyet.

Mungkin keterkaitan erat antara sastra surealis dan kekelaman hidup ini berangkat dari asumsi (yang hampir selalu tepat) bahwa melankolia, atau kesedihan, mendorong kreatifitas seseorang dalam menciptakan karya seni. Dan bukankah dari kekelaman hidup tersebut, kesedihan dan melankolia berasal? Namun bagaimanakah pola hubungan antara kesedihan dan kreatifitas atau sastra dan kekelaman hidup? Apakah sastra surealis yang bagus selalu mengisahkan tentang kehidupan yang kelam? Apakah untuk mendapatkan dorongan kreatif dan menciptakan karya tulis yang bagus, seorang penulis harus menjadi sedih dan tenggelam dalam melankolia?

Bagaimanapun pola hubungannya, terdapat satu hal yang dapat kita sepakati bersama. Bahwasanya sastra, terutama yang bersifat surealis, dan kelamnya kehidupan, dapat berpadu dengan sangat indah. Ada sesuatu yang magis, yang dapat mempengaruhi jiwa kita kala membaca karya sastra yang seperti ini. Karya-karya ini menyampaikan sudut pandang tertentu, gagasan tertentu yang lalu terpatri dalam benak kita karena diselimuti dengan diksi dan gaya penceritaan yang estetis.

Begitupun Eka Kurniawan dan karya-karyanya yang surealis dan kelam. Mereka berhasil mempengaruhi jiwa saya pada tingkat yang sungguh mendalam. Karena Eka Kurniawan, telah berhasil mengawinkan sastra dan melankolia sedemikian rupa dan sedemikian indahnya.

Jatuh Cinta Pada Omong Kosong Seno Gumira Ajidarma

25035998_1714955998555316_5216702354719506432_n

Kitab Omong Kosong

sumber gambar

Saya tidak bisa berhenti jatuh cinta pada buah karya dari sang maestro, cerpenis nasional, Seno Gumira Ajidarma. Ia adalah sosok cinta pertama saya di dunia sastra, yang membawa saya bertualang mengarungi indahnya kata dan makna yang terselip dalam banalnya kehidupan. Cerpennya ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’ telah dengan sukses mengajarkan saya untuk mencintai sastra. Maka napas saya memburu  ketika saya mendapatkan Kitab Omong Kosong karya SGA, tak sabar ingin melalap habis buah karyanya ini.

Cerita dalam buku setebal 446 halaman ini terbagi menjadi tiga bagian yang terkoneksi satu sama lain. Bagian pertama menceritakan kisah dari level elit kerajaan. Tokoh-tokoh yang terlibat adalah tokoh dalam kisah Ramayana seperti Rama, Sinta, Rahwana, Trijata, Hanuman dan lainnya. bagian ini bercerita mengenai awal dari peristiwa persembahan kuda yang memporak porandakan seluruh negeri. Bagian kedua menceritakan perjalanan Satya dan Maneka, dua rakyat jelata yang berkelana bersama karena situasi. Bagian ini menggambarkan dampak dari tragedi persembahan kuda yang dilakukan oleh para elit kepada rakyat jelata. Sedangkan bagian ketiga menceritakan isi dari kitab omong kosong dan berbagai pelajaran yang dapat digunakan untuk menjelaskan dunia dan segala perilaku rasional dan irasional penghuninya. Bagian ini sarat dengan pembelajaran dan filosofi jawa yang sangat menarik, menambah pemahaman pembacanya akan dunia dan kehidupan. Tidak seperti bagian pertama yang memiliki setting fiksi yang kental dan bagian kedua yang memiliki setting realita kehidupan sehari-hari. Bagian ketiga berada diantaranya. Menjelaskan batasan yang kabur antara fiksi dan realita dalam kehidupan.

Membaca Kitab Omong Kosong, seperti halnya membaca karya-karya SGA lainnya, memperkaya kita akan wawasan kehidupan. Bukan hiburan semata, SGA juga mengirimkan berbagai pesan terselubung melalui Kitab Omong Kosong, mengenai hubungan kuasa yang kini terjadi antara penguasa dan rakyat. Bagaimana intrik politik dapat melibas begitu banyak aspek kehidupan masyarakat. Bagaimana pergolakan elit bisa memicu api-api yang terpendam. Dan bagaimana semua ini hanyalah omong kosong belaka yang kita pupuk dengan keseriusan. Pilihan diksi SGA yang kaya, dan alur cerita yang mengalir dalam dunia imajinatif SGA pun menambah debar saat membaca buku ini. Kitab Omong Kosong telah membuktikan, bahwa julukan sang maestro sastra yang tersemat di sosok ini merupakan suatu kemutlakan.

Pada akhirnya, cinta pertama memang akan selalu hidup meski apinya kini mulai terbagi dengan cinta-cinta yang lain, yang lebih baru dan lebih membara. Namun Seno Gumira Ajidarma dan karyanya, ternyata tetap berhasil menjadi yang paling bara dalam hati meski telah belasan tahun terlewat sejak saya tersirap dalam cerpennya di halaman majalah Horizon yang menguning.