Love Song

Please, don’t get me wrong. I do, I really do want to write you a love song. But I can’t seem to barf out pretty words to explain how I feel about you. About your smile, your laughs, your quirks, your annoying smirks, your touch. I just can’t bring myself to write a love song for you.

Don’t get me wrong. That does not mean that my heart don’t skipped a beat every time I hear your name. That does not mean that my legs don’t shake at your touches. And that definitely does not mean that my whole body don’t long for the warmth of your embrace.

Hear hear my love, there is a love song for you that live inside me. It grows louder and louder with each passing day. It might not be too obvious, but it is there. In the rhythms of our breath when our lips collide. In the electric current we feel every time our fingers meet. In the lights that flare inside our eyes when our gaze meet. It is there, the hum of my love song, do you hear?

Jarak

Aku adalah seorang yang gemar menghitung jarak. Menakar dan memetakan setiap incinya.

Seperti jarak antara kedua tanganmu. Satu depa yang paling hangat, satu depa yang paling rindu.

Atau jarak yang diperlukan bagi bibirmu untuk sampai pada tangkup bibirku. Dengan samar cecap rokok yang menyelinap diantara keduanya.

Atau jarak yang tertera diantara jemarimu. Ia memeluk erat kekosongan yang tersimpan diantara jemariku.

Atau jarak yang berdetak diantara akhir minggu ke akhir minggu yang begitu cekatan memilin rindu di antaranya.

Aku adalah seorang penghitung jarak yang terampil.

Dan kau, adalah himpunan jarak yang tak jera kusyukuri adanya.

Perkara Hidup dan Derak Waktu

Derak waktu memang bukanlah musik yang ramah di telingaku.

Dentumannya tak pernah membentuk harmoni indah di hidupku.

Mereka kerap terlalu gegas dan tergesa, meninggalkan dan menemukan.

Pun terkadang ia melangkah lambat tertatih, begitu dramatis.

Aku tak pernah mampu mengikuti iramanya.

Aku membenci tik-toknya yang selalu berkejaran tak kenal lelah.

Aku mengutuk rupanya yang kerap meniada namun geliginya tak henti melumat jiwa.

Dimensi ini melelahkan, sungguh.

Bagaimana kamu dapat melangkah dengan bijak dan tenang ketika waktu selaksa mesin penghancur yang berjalan terus dibelakangmu tanpa ampun.

Namun pada malam seperti ini, aku menyerah. Waktu memberiku tidak hanya binasa melainkan harap yang samar, timbul tenggelam dalam remang cahaya lampu kota. Waktu memberiku kesempatan, untuk menggantung asa pada langit-langit esok dan bergerak menjauh dari genang darah di belakangku. 

Maka aku berserah. Pada hidup. Pada waktu dan geliginya. 

One out of many ways to kill yourself

Pada hari ke tujuh belas, detik bergulir sedikit lebih lambat. Mencemooh kelopak bunga yang jatuh satu persatu dirunyam waktu. Menertawakan kekosongan yang menelisip diantara.

Dan detik bagiku adalah cambuk-cambuk kecil yang menari di angkasa. melecutkan pias sesekali ke muka bumi -atau punggungku-. Hasilkan bilur biru yang enggan menggenang darah. Karena bagaimanapun, letupan itu tidaklah nyata. Letupan itu hanyalah hasil sintesa antara takut dan malu yang kawin tanpa tahu waktu. Bilur itu tidak pernah nyata. Aku sendiri yang torehkan biru dan ungu membentuk sayatan-sayatan kecil di punggungku.

Ah, kepala, kenapa kau tak hendaki sunyi barang sebentar saja.

 

To all the stories that never find its ending

To all the stories that never find its ending:

This is getting old.

The cheering, the wooing, the teasing. Yet our feet reluctantly tip-toeing away.

This is getting banal.

The late night talking, the sands below our feet and the sounds of waves crashing each other.

I wish the wave you want to sew your eyes on is the wave of my body.

This is getting cliche.

The smile that sends my heart marching down to the beat of your drums.

Yet you can not seems to hear the thunderous wind inside this crippled heart.

perhaps we are just one tick away from our own version of eternity. Perhaps we are just one shy away from rolling into each others arms under a warm blanket on a rainy day like today. Perhaps.

Though we choose to once again sail away. leaving the waves, the thunders, and the wilderness, untouched, unexplored. and one day, perhaps, forgotten.

 

Gajah

Tik tok.

Biru merayap perlahan di sudut ruang.

hitam menganga lebar di langit-langit, mempertontonkan segala asa yang lumat.

Dan aku masih disini, menjaga bara tetap menyala. merah, nyalang.

Berkejaran dengan semesta dan waktu yang  memamah segala.

Titik keringat mengalir deras.

Gajah itu kembali lagi bersama biru yang kini hanya berjarak sejengkal dari ujung selimutku.

Gajah biru yang tak tahu diri.

Ia membawa hiruk pikuk dunia dan selebrasinya.

Melantunkannya tepat ke telingaku.

Sedang ruang ini semestinya menjadi tempatku bercengkrama dengan senyap.

Senyap ku lenyap.

 

Gajah sialan.

 

 

Pada Suatu Perenungan

dsc03163

Sudah terlampau lama sejak aku terakhir menulis disini. Rasanya, mungkin blog ini sudah usang dan mengarat. Maaf.

Aku selalu melupakan diri saya ketika saya terjatuh. Ketika aku menjelma komet yang membara, melesat diantara debu kosmik, hanya untuk terbakar oleh lapis atmosfer planet lain. tergesek habis hingga padam dan sirna. Meremah. Dan berharap serpihku dapat mencipta kehidupan lain di angkasa, layaknya supernova.

Baru kini aku sadari, aku adalah membran tipis yang dapat dirasuki. identitasku tak sekokoh pualam. Ia hanya rangkaian debu yang terbungkus membran tipis, tak henti menyerap dan malih. Merupa apapun yang berada didekatnya. membahasakan apapun yang terbahasakan dalam proksimitas tertentu. Mungkin aku ini sejenis bunglon. Menyaru menjadi apapun yang dapat disaru.

aku tlah lesap kedalam sesuatu yang lain tanpa aku sadari. Kehilangan aku, identitasku, segalaku. Dan keluar kembali sebagai sehelai benang kusut yang bingung. Meraba kembali jati diri yang tlah koyak. Meramu kembali segala yang kusangka adalah aku. Namun tanya itu semakin membesar, menjelma lembaran selimut yang membungkusku lekat. Semua variabel yang kuduga sebagai komponen pembentuk aku meloncat dan hilang di udara.

mungkin yang kubutuhkan adalah seorang pembaca artefak untuk memaknai tiap koyak. atau seorang pandai besi yang mampu menempa ketiadaan. Atau bisa saja, yang kubutuhkan adalah seorang pengamat angkasa yang mampu membaca kematian.

atau mungkin… yang kubutuhkan hanyalah aku, dan sejenak sunyi.